Select Menu

ads2

Slider

Featured Post (Slider)

Rumah - Interior

Recent Comments

Kesehatan

Social Icons

google plus facebook linkedin

Artikel Popular

Portfolio

Motivasi Kerja

Travel

Performance

Cute

My Place

Motivasi Kerja

Racing

Videos

» » Pelihara Kesehatan Jiwa
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Catatan Memperingati Hari Kesehatan Jiwa se Dunia



Oleh dr. Hj. Hidajah Ide Said, MKes. Sp.KJ (Penulis adalah Ketua Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Cabang Makassar)

KEBANYAKAN orang memahami arti kesehatan fokus pada kesehatan tubuh atau fisik semata, belum pada keseimbangan antara fisik dengan mental atau aspek kejiwaan. Hal ini disebabkan karena masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang makna kesehatan.

Seseorang disebut sehat jika bebas dari penyakit yang akrab dengan manusia seperti hipertensi, jantung, diabetes, tbc, sakit mata, tht, tumor ataupun kanker. Sayangnya, situasi ini diperparah dengan peran media yang kurang maksimal mensosialisasikan kesehatan jiwa dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula pemerintah dan lembaga Negara terkesan masih memarginalkan makna kesehatan jiwa. Sampai saat ini RUU Kesehatan Jiwa belum mendapatkan pengesahan dari parlemen, padahal Rancangan Undang-Undang tersebut dipandang penting menjadi tonggak utama membangun masyarakat Indonesia yang sehat jasmani maupun mental.

Hari Kesehatan Jiwa sedunia yang diperingati hari ini mengambil tema Depression: A Global Crisis, mengajak seluruh masyarakat khususnya rakyat Indonesia untuk mengingat arti pentingnya kesehatan jiwa dalam aspek kehidupan sehari-hari. Tema ini sangat berhubungan dengan cita-cita pendiri Indonesia dan menjadi harapan seluruh rakyat untuk mewujudkan badan yang sehat jasmani dan rohani (baca : jiwa), bebas dari penyakit ganggung kejiwaan khususnya depresi.

Sakit Jiwa Bukan Gila

Pemahaman tentang kesehatan jiwa sudah mendapatkan stigma sejak lama. Keberadaannya dianggap tidak lebih penting dari kesehatan fisik. Jika merujuk definisi kesehatan jiwa Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO), kesehatan individu tidak hanya bergantung pada tidak adanya penyakit tetapi juga keseimbangan psikologis dan fungsi sosialnya (healt is a state of compete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity). Dengan demikian, seseorang belum dianggap sehat jika pada dirinya terdapat gangguan mental atau terdapat ketidakseimbangan baik psikologis maupun sosial.

Sebagian masyarakat memandang kesehatan jiwa dengan sakit gila, yang menjadi aib bagi keluarga penderita. Hal yang sama jika seseorang menderita sakit kusta atau lepra. Padahal kesehatan jiwa merupakan bagian yang paling banyak terintegrasi dalam semua aspek kehidupan manusia. Kesemua aktivitas tersebut membutuhkan pendekatan kesehatan jiwa dalalm artian yang lebih luas daripada hanya berbicara soal mengobati pasien penyakit jiwa.

Kesehatan jiwa paling tidak mencakup tuga komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih, dan sebagainya. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan, dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya

Depresi

Gangguan jiwa adalah suatu ketidakberesan kesehatan dengan manifestasi-manifestasi psikologis atau perilaku terkait dengan penderitaan yang nyata dan kinerja yang buruk, dan disebabkan oleh gangguan biologis, sosial, psikologis, genetik, fisis, atau kimiawi.

Gangguan jiwa mewakili suatu keadaan tidak beres yang berhak ikatkan penyimpangan dari suatu konsep normatif. Setiap jenis ketidakberesan kesehatan itu memiliki tanda-tanda dan gejala-gejala yang khas.

Ada tiga faktor gangguan kejiwaan, yakni biologis, psychoeducational dan sosial budaya. Ketiga hal ini secara umum menjadi basic timbulnya gangguan jiwa pada seseorang. Gangguan jiwa akan langsung muncul apabila terpicu oleh beberapa sebab, stressor, misalnya tertimpa musibah, mengidap penyakit maupun faktor sosial lain. Gangguan jiwa dapat pula timbul terpicu oleh faktor psychoeducational. Faktor ini terjadi karena adanya kesalahan dalam proses pendidikan anak sejak kecil, mekanisme diri dalam memecahkan masalah.

Salah satu gangguan kesehatan jiwa yang menjadi tema hari kesehatan jiwa se dunia adalah Depresi. Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJI), meliputi tria depresi, terdiri dari atas mood yang depresi, hilangnya minat dan kegembiraan, serta berkurangnya energi yang ditandai dengan keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Gejala tambahan adalah konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna dan juga keinginan bunuh diri.

Menurut catatan WHO, lebih dari 350 juta orang mengidap depresi setiap tahunnya. Bahkan di tahun 2020, WHO memprediksikan depresi akan menjadi penyakit yang membebani masyarakat global nomor dua setelah penyakit jantung dan pembuluh darah. Di Amerika Serikat, penanganan deteksi dini dilakukan secara primer kepada pasien yang mencari terapi. Namun berbeda di beberapa Negara termasuk di negara kita, layanan primer deteksi dini tidak demikian. Hanya 10 persen masyarakat yang mengalami depresi mendapatkan pengobatan yang layak.

Beratnya beban kehidupan seperti beban ekonomi, beban kerja di lingkungan pekerjaan, godaan kehidupan yang semakin hedonis dan materialistik, semakin terbukanya arus informasi menjadi pemicu masyarakat terkena penyakit depresi.

Pasien yang merasakan gejala depresi perlu segera melakukan konsultasi kepada psikiater. Pengobatan depresi membutuhkan waktu, pasien yang baru pertama kali mengalami depresi diharuskan meneruskan pengobatan sampai 6 (enam) bulan sejak gejalanya membaik. Selain pengobatan dengan obat, psikoterapi dengan menggunakan teknik Cognitive Behavior Therapy (CBT) juga diperlukan.

Tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana masyarakat membiasakan diri dengan pola hidup yang sehat, seperti berpikir positif dengan menjalankan pola hidup sehat ini akan mencegah seseorang mengidap penyakit kejiwaan depresi.

Sumber

About Berita Buzz

Beritabuzz.blogspot.com merupakan salah satu divisi pengembangan Portal Online Pengetahuan Umum dari Kios Buku Gema (Gemar Membaca)™.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply