Select Menu

ads2

Slider

Featured Post (Slider)

Rumah - Interior

Recent Comments

Kesehatan

Social Icons

google plus facebook linkedin

Artikel Popular

Portfolio

Motivasi Kerja

Travel

Performance

Cute

My Place

Motivasi Kerja

Racing

Videos

» » Cinta Dalam Relung Sains
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama


Mekanisme yang tidak terhindarkan dalam seleksi alam untuk menjamin eksistensi manusia

Benarkah cinta itu gelora emosi yang paling misterius yang tidak bisa dijelaskan asal muasalnya? Kalau kata para pakar sains, tidak demikian juga.

Cinta, misalnya di mata para pegiat studi psikologi evolusi, hanya salah satu cara otak menipu manusia. Cinta tidak lebih dari mekanisme yang tidak terhindarkan dalam seleksi alam untuk menjamin eksistensi manusia tetap terjaga.

Pemikiran tentang cinta dipetik dari gagasan yang dijabarkan Sabda SP nara sumber diskusi santai klub sains Minerva Jumat malam (12/10) silam di teras Kafe Freedom Institute, Jakarta Pusat.

Sabda, yang menekuni studi asal-muasal perilaku manusia lewat kuliah online di Oxford University itu, menjelaskan perilaku jatuh cinta pada manusia dipicu oleh adanya dimorfisme seksual pada lelaki dan perempuan. Maksudnya, antara lelaki dan perempuan terdapat perbedaan ciri seksualitas.

"Perbedaan ini sangat tipikal pada mahluk vivipar, yang melakukan pembuahan di dalam tubuh," tutur Sabda di tengah kurang dari 20 peserta diskusi yang rata-rata masih berusia muda.

Perbedaan yang dimaksud lebih fokus pada soal sperma dan sel telur. Laki-laki bisa memproduksi jutaan sperma, hampir pada setiap saat, dan tidak dibatasi oleh usia.

"Sedangkan untuk cewek enggak semurah itu," tutur lelaki berjenggot tebal itu ringan. "Produksi telur cewek terbatas dan hanya sampai menopause. Jadi lebih mahal, karena enggak banyak yang bisa diproduksi."

Parental Investment

Belum lagi ditambah resiko ketika hamil dan membesarkan bayi yang membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan sumber daya bagi perempuan. Perbedaan ini, lanjut Sabda, menyebabkan adanya asimetri dalam parental investment antara lelaki dan perempuan.

"Parental investment di cewek lebih besar karena dia harus produksi sel telur, hamil sembilan bulan, dia juga harus menyusui dan merawat anaknya hingga beberapa tahun. Biasaya selama kehamilan dan anak balita, si cewek boleh dibilang enggak bisa ngapain lagi kecuali urusin anak," papar Sabda.

Sementara bagi lelaki hampir sangat sedikit pengorbanan yang dibuat untuk menjalani perannya merawat keturunannya yang akan menjaga eksistensinya di dunia.

"Konsekuensi logis dari perbedaan pada parental investment itu menghasilkan strategi survival berbeda antara lelaki dan perempuan," sambung Sabda yang juga pendiri sekaligus pengajar di lembaga edukasi multimedia Zenius.

Perempuan, menurutnya, akan sangat membutuhkan informasi genetik tentang sperma, sumber daya, dan proteksi dari lelaki yang akan menjadi pasangannya. Itu dibutuhkan untuk memastikan terjadinya pembuahan terhadap telurnya yang terbatas dan untuk membesarkan anaknya kelak.

Sedang lelaki hanya membutuhkan perempuan yang mau berhubungan dengannya dan ikatan yang disebut peer bonding.

Alhasil perempuan akan lebih selektif dan menetapkan standar tinggi ketimbang lelaki dalam memilih pasangannya. Perempuan sangat berkepentingan dalam hal ini karena ia harus memastikan anaknya kelak punya peluang hidup yang lebih besar.

Tetapi tidak berarti lelaki lantas, meminjam istilah Sabda, "ber-one night stand" dengan rekan perempuannya.

"Dalam sebuah penelitian ternyata bayi yang dibesarkan oleh sepasang orang tua ternyata punya peluang hidup lebih besar ketimbang yang hanya oleh satu orang," ulas Sabda.

"Jadi cinta adalah cara otak menipu kita semua agar kita melakukan satu peer bonding. Karena peer bonding akan meningkatkan peluang hidup bayi," seru Sabda.

Hanya sayangnya, menurut Sabda, dalam sejumlah penelitian hormon yang disebut hormon cinta pada manusia hanya bisa bertahan selama tiga sampai lima tahun. Setelah hormon itu habis pasangan yang tadinya dimabuk cinta akan mulai renggang.

"Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa ketika hormon ini habis maka ada semacam pemicu, khususnya pada cowok, untuk mencari segala sesuatu yang negatif pada pasangan perempuannya dan akhirnya memicu konflik."

Penulis: Liberty Jemadu

Sumber

About Berita Buzz

Beritabuzz.blogspot.com merupakan salah satu divisi pengembangan Portal Online Pengetahuan Umum dari Kios Buku Gema (Gemar Membaca)™.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply