Video: GM Cows Produce Human Breast Milk
EnlargeSlider
Featured Post (Slider)
Rumah - Interior
Kategori
- Arkeologi
- Arkeologi Dunia
- Arsitektur
- Bisnis
- Ekonomi Indonesia
- Elektronik
- Energi
- Fashion
- Game
- Halaman
- Inovasi
- Kebudayaan
- Kesehatan
- Kesehatan Jiwa
- Komputer - Game
- Komputer - Hardware
- Komputer - OS dan Software
- Komputer - Tips
- Komputer Sabak
- Komputer Sabak - Game
- Komputer Sabak - OS dan App
- Komputer Sabak - Tips
- Lalu Lintas
- Liburan
- Liburan - Tips
- Lingkungan dan Cuaca
- Media Sosial
- Motivasi Diri
- Motivasi Kehidupan
- Motivasi Kerja
- Motivasi Keuangan
- Motivasi Wirausaha
- Obat - Herbal
- Obat - Kimia
- Otomotif
- Otomotif - Asuransi
- Otomotif - Kebanjiran
- Otomotif - Tips
- Pendidikan
- Penyakit
- Peternakan
- Rangking Universitas
- Rumah - Eksterior
- Rumah - Interior
- Smartphone
- Smartphone - App
- Smartphone - OS
- Smartphone - Tips
- Teknologi
- Umum
- Universitaria
Recent Comments
Kesehatan
Artikel Popular
-
Oleh Tri Agus Yogawasista Kini hadir Pasar KITA dimana barangnya Segar, dan lingkungan belanja Bersih dan Nyaman! Pasar KITA ad...
-
By Alexandra Burlacu New Surface tablet computers with keyboards are displayed at its unveiling by Microsoft in Los Angeles, Californi...
-
WORLD ranking University Det. Country Presence Rank* Impact Rank* Openness Rank* Excellence Rank* 1 (3) Harvard University ...
-
By Luxigon As the sun tracks across the sky, the entirety of the building’s western façades transform image by luxigon New york-b...
-
Dalam mencatat kejadian-kejadian penting seperti hari kelahiran, pernikahan serta moment penting lainnya kadangkala kita hanya mencata...
-
Raspberry Pi has this week announced that a new version of their camera module for the Raspberry Pi mini computer, which was first u...
-
Game JRPG untuk komputer dan pc sangat banyak di cari oleh kalangan pecinta game buatan jepang. Ada ciri khas tersendiri dari segi ...
-
Moto Kios Buku Gema (Gemar Membaca)™ : 1. Just DUIT (Do'a, Usaha, Ikhlas dan Tawakal) 2. Hari ini lebih baik dari hari kem...
-
By David Galbraith - Oobject.com In the early days of manned flight, people generally had no clue what they were doing. If two wi...
-
Istilah Home theater bukan hanya soal menonton film semata saja, akan tetapi adalah pengalaman untuk menyatu antara penontonnya de...
Portfolio
Motivasi Kerja
Travel
Performance
‹
›
Cute
My Place
Motivasi Kerja
Racing
Videos
Sapi Perah
REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN—Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan produksi susu sapi segar. Upaya ini dilakukan dengan menyiapkan peningkatan produktifitas susu sapi segar di enam daerah penghasil susu sapi di Jawa Tengah.
Enam daerah tersebut adalahj Kabupaten Boyolali, Klaten, Banyumas, Wonosobo dan Kota Salatiga. Kebijakan ini, sekaligus untuk mempersiapkan program swasembada susu sapi nasional, 2020 mendatang.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dinakeswan) Jawa Tengah, Whitono menegaskan, peternakan sapi perah yang ada di negeri ini baru mampu menopang 30 persen kebutuhan susu segar nasional.
Sisa kebutuhan susu nasional yang mencapai 70 persen masih dipenuhi dari susu sapi impor. Karena itu, pemerintah mencanangkan swasembada susu sapi melalui peningkatan produktifitas peternakan sapi perah lokal.
Ia mengakui langkah ini bukan pekerjaan mudah. Pasalnya kualitas susu sapi di Jawa Tengah masih rendah dibandingkan susu sapi bubuk impor. “Terutama bila digunakan untuk bahan baku susu bayi,” jelasnya.
Data Dinakeswan menyebutkan, produksi susu sapi Jawa Tengah mencapai 280.000 liter per hari. Dari total produksi susu ini, sebanyak 200.000 liter diantaranya terserap untuk industri pengolahan susu (IPS).
Selebihnya, sebesar 80 liter susu produksi di Jawa Tengah ini, dikonsumsi langsung oleh masyarakat dan sebagian lagi untuk asupan anak sapi atau pedhet.
Persoalan lainnya ada pada harga jual susu sapi yang belum seragam di tingkat peternak. Saat ini harga jual susu di tingkat peternak berkisar antara Rp 2.900 hingga Rp 3.400 per liter.
”Perbedaan harga disebabkan karena adanya standarisasi mutu susu dan tambahan biaya operasional antar daerah yang berbeda,” imbuhn Whitono.
Untuk mendapatkan nilai jual susu yang tinggi, pihaknya mendorong peternak memperhatikan beberapa faktor penentu. Seperti kualitas pakan, kualitas kebersihan kandang dan kebersihan tangan saat memerah susu.
"Kami sudah melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada peternak agar menjaga kebersihan saat memerah susu, menyusul susu sapi itu mempunyai nilai gizi tinggi sehingga membuat bakteri sangat cepat berkembang,” tegasnya.
Peternakan
Oleh Toto Subandriyo *)
bisnisukm.com
BEBERAPA waktu terakhir media di Tanah Air gencar memberitakan kelangkaan daging sapi di pasaran. Di sejumlah daerah harga bahan pangan sumber protein hewani itu meroket di atas batas psikologis, Rp 100 ribu per kilogram. Kondisi itu memicu pedagang daging sapi di beberapa daerah mogok berjualan. Ibu rumah tangga, pemilik warteg, penjual bakso, dan konsumen daging sapi, menjerit. Mereka harus membayar lebih mahal dari biasanya untuk membeli sepotong daging. Kenyataan ini menjadi batu ujian bagi pemerintah yang telah menargetkan pencapaian swasembada daging sapi pada 2014. Sebelumnya, target tersebut pernah direvisi dua kali pada 2007 dan 2010.
Kenyataan itu juga tak sejalan dengan hasil sensus sapi yang diselenggarakan BPS pada Juni 2011. Akhir Desember 2011, BPS mengumumkan sapi potong hasil sensus tercatat 14,8 juta ekor. Jumlah itu jauh lebih banyak dari prediksi, yaitu 12,6 juta ekor.
Melihat jumlah sapi potong hasil sensus yang cukup mencengangkan, tahun ini Kementerian Pertanian mengambil langkah yang dinilai banyak kalangan sangat berani. Kementerian itu memangkas kuota impor daging sapi dan sapi bakalan hingga setengahnya. Kebijakan yang berkesan sangat heroik tersebut dimaksudkan agar iklim industri ternak lokal dapat terdongkrak dan sa-saran pemenuhan kebutuhan daging sapi lokal dapat terealisasi pada 2014.
Mengapa gejolak harga daging sapi masih terjadi? Ada beberapa hal yang mungkin dilupakan oleh penentu kebijakan di Kementerian Pertanian. Belasan juta ekor sapi hasil sensus tersebut berada di tangan para peternak kecil yang lokasinya tersebar di seluruh pelosok negeri.
Hal lain yang juga dilupakan oleh penentu kebijakan pangan adalah tentang unikum budaya masyarakat di bidang peternakan. Bagi masyarakat Indonesia, terutama suku Jawa, beternak sapi adalah upaya menabung. Mereka menjual sapi hanya pada saat terdesak butuh uang. Mereka menganggap sapi dan kerbau bukan semata-mata komoditas melainkan rajakaya (aset cadangan, harta simpanan) yang bisa dijual bila sudah tidak ada lagi sumber atau aset lain untuk mencukupi keperluan keluarga yang bersifat mendesak.
Banyak Varian
Kelangkaan daging sapi mengindikasikan kepada kita bahwa pekerjaan rumah di bidang ketahanan pangan masih menumpuk. Saat ini produksi daging dalam negeri belum mencukupi kebutuhan masyarakat, bahkan pertumbuhan cenderung stagnan. Kebutuhan daging sapi untuk memenuhi konsumsi tahun ini 484.060 ton. Jumlah tersebut baru bisa dipenuhi dari peternak domestik 399.320 ton, sisanya 84.740 ton harus impor.
Dalam jangka menengah dan panjang pemerintah perlu lebih konsisten membangun industri peternakan. Negeri ini memiliki banyak varian sapi unggul, seper- ti sapi madura, sapi bali, dan sapi aceh. Secara genetis semua mudah digemukkan dan memiliki bobot karkas tinggi. Potensi ini jika ditangani intensif dan berkelanjutan, dapat segera menutup kekurangan pasokan daging.
Mutu bibit dan pakan sangat menentukan kualitas sapi dan daging yang dihasilkan. Karena itu intervensi pemerintah dalam program pengembangan sapi rakyat harus lebih menekankan pada upaya pemenuhan bibit unggul dan pakan berkualitas. Menurut Marsetyo (2011), sistem pembibitan sapi di negara kita masih konvensional sehingga kurang optimal hasilnya. Jarak waktu beranak (calving interval) sapi bali berkisar 15-18 bulan, calving rate sekitar 55%, tingkat kematian anak sapi 18%, dan kematian induk 2,7%. Melalui teknologi budi daya, seperti inseminasi buatan dan transfer embrio, kelemahan tersebut dapat diperbaiki.
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki banyak varian tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber hijauan makanan ternak (HMT). Kondisi ini merupakan keunggulan komparatif yang menguntungkan peternak. Kemelimpahan hijauan makanan ternak itu membuat biaya usaha tani ternak dapat ditekan serendah mungkin. Dengan demikian daya saing industri peternakan meningkat.
Salah satu insentif yang dapat meningkatkan gairah peternak sapi adalah harga jual sapi hidup yang memadai. Selama ini meski harga daging sapi di pasaran cukup tinggi, harga jual sapi hidup kurang memadai. Jika harga jual sapi hidup cukup memadai, usaha peternakan sapi potong lebih bergairah.
Kelangkaan daging sapi saat ini juga menjadi pelajaran arti penting diversifikasi pangan sumber protein hewani lain. Biaya produksi daging sapi relatif lebih mahal dibandingkan sumber protein hewani lain. Pada- hal dari segi kandungan gizi, kita punya banyak sumber protein hewani yang lebih murah dan berkualitas, di antaranya daging unggas, telur, ikan, dan substitusi daging sapi dari ternak ruminansia lain seperti kerbau atau kambing.
Kelangkaan daging sapi saat ini juga menjadi pelajaran arti penting diversifikasi pangan sumber protein hewani lain. Biaya produksi daging sapi relatif lebih mahal dibandingkan sumber protein hewani lain. Pada- hal dari segi kandungan gizi, kita punya banyak sumber protein hewani yang lebih murah dan berkualitas, di antaranya daging unggas, telur, ikan, dan substitusi daging sapi dari ternak ruminansia lain seperti kerbau atau kambing.
Kelangkaan daging sapi kali ini menjadi momentum untuk menggencarkan kampanye gerakan makan ikan (Gemari). Potensi perikanan laut dan darat di negeri ini sangat luar biasa. Potensi itu harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menciptakan manusia yang unggul dan berkualitas. (10)
*) Toto Subandriyo, alumnus IPB, anggota Dewan Pakar Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Kabupaten Tegal
Peternakan
Oleh Revi Yohana
Siapa yang menyangka seorang mantan wartawan bisa banting setir menjadi pengusaha ayam yang sukses. Inilah jalan hidup dari seorang Ade Meirizal Zulkarnain. Pria yang saat ini berumur 49 tahun ini dulunya adalah seorang wartawan yang menjadi salah satu orang yang ikut mendirikan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) di tahun 1996.
Saat itu, banyak anggota AJI yang terkena tekanan politik dari penguasa Orde Baru. Ade pun juga harus kehilangan pekerjaan.
Ade pun memutuskan untuk mencoba berbisnis. Awalnya, ia memilih bisnis sembako. Hingga pada tahun 2002, ia memulai bisnis peternakan ayam kampung. Ia melihat ada peluang bisnis yang ciamik dari bisnis ayam kampung.
Ade mulai belajar cara beternak ayam kampung. Saat itu, ia melihat budidaya ayam kampung masih dikelola tradisional atau dipelihara ala kadarnya.
Ia mulai berpikir untuk membudidayakan ayam kampung secara massal dan lebih profesional di tahun 2003. "Gizi pakan, kandang, dan pengelolaan diperhatikan sehingga menghasilkan ayam berkualitas," ujarnya.
Ade merogoh kocek Rp 45 juta sebagai modal awal. Ia membeli 3.000 ekor anak ayam. Awalnya, banyak orang yang menertawakan pembelian anak ayam dalam jumlah banyak itu. Namun, ia tetap yakin usahanya tidak sia-sia.
Benar saja, dalam beberapa bulan, ayamnya sudah besar, bahkan mencapai berat 1 kilogram dalam 70 hari. Padahal, jika dikelola secara tradisional, ayam kampung baru mencapai seberat itu dalam waktu empat hingga lima bulan.
Hingga saat ini, Ade berhasil memproduksi 120.000 hingga 150.000 anak ayam per bulan.
Pada tahun 2004, Ade resmi mendirikan Kelompok Peternakan Rakyat Ayam Kampung Sukabumi (KEPRAKS). Di kelompok ternak ini, ia rajin membagi pengalaman dan pengetahuannya seputar ternak ayam kampung.
Ia juga menampung hasil ternak para anggota KEPRAKS, sehingga peternak tak bingung mencari pelanggan di awal masa budidaya.
Upayanya melibatkan masyarakat sekitar ini sempat sukses. Namun, tiba-tiba datang bencana wabah flu burung pada tahun 2005. "Saat itu, saya adalah peternak ayam kampung yang terkena imbas terbesar di Sukabumi," tutur Ade.
Gara-gara flu burung, Ade harus merugi karena banyak ayamnya yang mati. Menurut Ade, tidak kurang dari 2.200 ekor atau hampir 75% dari seluruh ayam peliharaannya mati tiba-tiba.
Tapi, di balik bencana selalu ada hikmah. Merebaknya wabah flu burung, memberi Ade pengetahuan baru di dalam beternak ayam. Ia pun menggagas ide konsep budidaya ayam kampung dengan pola intensif.
Konsep ini pada dasarnya memberi pengertian bahwa lingkungan peternakan yang sehat akan menghasilkan produk ternak yang sehat.
Soalnya, ayam kampung bukanlah sumber virus flu burung, namun hanya ikut terkena imbas. "Sejak itu, saya mulai memperkenalkan budidaya ayam kampung dengan pola intensif," ujar Ade.
Ade pun getol menyosialisasikan budidaya ayam kampung dengan pola intensif ini, terutama menyangkut kebersihan kandang. Upayanya ini mulai dilirik banyak pihak. Pada 2006, misalnya, United States Agency for International Development (USAID) Indonesia tertarik ikut memberikan pelatihan bagi warga di kampungnya.
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga pernah mengajaknya membuat buku berjudul "Restrukturisasi Peternakan dan Kebangkitan Peternakan Rakyat Ayam Kampung". Pada tahun 2006, Ade juga memperoleh penghargaan dari Bupati Sukabumi sebagai Pelopor Peternakan Ayam kampung Intensif.
Pada tahun 2007, ia juga bertemu dengan mantan Menteri Kesehatan (Alm) Endang Rahayu Setianingsih untuk membuat suatu penelitian.
Hasilnya pada tahun 2010, mereka mengagas program "Peternak Sehat, Ternak Sehat". Ade mengklaim, sekarang Sukabumi dikenal sebagai kiblat peternakan ayam dengan pola intensif.
Eks wartawan, Ade kini sukses beternak ayam
Siapa yang menyangka seorang mantan wartawan bisa banting setir menjadi pengusaha ayam yang sukses. Inilah jalan hidup dari seorang Ade Meirizal Zulkarnain. Pria yang saat ini berumur 49 tahun ini dulunya adalah seorang wartawan yang menjadi salah satu orang yang ikut mendirikan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) di tahun 1996.
Saat itu, banyak anggota AJI yang terkena tekanan politik dari penguasa Orde Baru. Ade pun juga harus kehilangan pekerjaan.
Ade pun memutuskan untuk mencoba berbisnis. Awalnya, ia memilih bisnis sembako. Hingga pada tahun 2002, ia memulai bisnis peternakan ayam kampung. Ia melihat ada peluang bisnis yang ciamik dari bisnis ayam kampung.
Ade mulai belajar cara beternak ayam kampung. Saat itu, ia melihat budidaya ayam kampung masih dikelola tradisional atau dipelihara ala kadarnya.
Ia mulai berpikir untuk membudidayakan ayam kampung secara massal dan lebih profesional di tahun 2003. "Gizi pakan, kandang, dan pengelolaan diperhatikan sehingga menghasilkan ayam berkualitas," ujarnya.
Ade merogoh kocek Rp 45 juta sebagai modal awal. Ia membeli 3.000 ekor anak ayam. Awalnya, banyak orang yang menertawakan pembelian anak ayam dalam jumlah banyak itu. Namun, ia tetap yakin usahanya tidak sia-sia.
Benar saja, dalam beberapa bulan, ayamnya sudah besar, bahkan mencapai berat 1 kilogram dalam 70 hari. Padahal, jika dikelola secara tradisional, ayam kampung baru mencapai seberat itu dalam waktu empat hingga lima bulan.
Hingga saat ini, Ade berhasil memproduksi 120.000 hingga 150.000 anak ayam per bulan.
Ade gulirkan konsep ternak ayam intensif
Ade Meirizal Zulkarnain pertama kali memulai usaha ternak ayam pada tahun 2003 di Sukabumi, Jawa Barat. Awalnya, banyak yang menertawakan bisnis ternak ayam kampungnya ini. Sebab, budidaya ayam kampung secara massal belum biasa dilakukan pada masa itu. Namun, Ade tak pernah berkecil hati. Ketika sukses, ia juga tidak sombong. Bahkan, setelah usahanya berhasil, ia terdorong mengajak masyarakat sekitar mengikuti jejaknya membudidayakan ayam kampung.Pada tahun 2004, Ade resmi mendirikan Kelompok Peternakan Rakyat Ayam Kampung Sukabumi (KEPRAKS). Di kelompok ternak ini, ia rajin membagi pengalaman dan pengetahuannya seputar ternak ayam kampung.
Ia juga menampung hasil ternak para anggota KEPRAKS, sehingga peternak tak bingung mencari pelanggan di awal masa budidaya.
Upayanya melibatkan masyarakat sekitar ini sempat sukses. Namun, tiba-tiba datang bencana wabah flu burung pada tahun 2005. "Saat itu, saya adalah peternak ayam kampung yang terkena imbas terbesar di Sukabumi," tutur Ade.
Gara-gara flu burung, Ade harus merugi karena banyak ayamnya yang mati. Menurut Ade, tidak kurang dari 2.200 ekor atau hampir 75% dari seluruh ayam peliharaannya mati tiba-tiba.
Tapi, di balik bencana selalu ada hikmah. Merebaknya wabah flu burung, memberi Ade pengetahuan baru di dalam beternak ayam. Ia pun menggagas ide konsep budidaya ayam kampung dengan pola intensif.
Konsep ini pada dasarnya memberi pengertian bahwa lingkungan peternakan yang sehat akan menghasilkan produk ternak yang sehat.
Soalnya, ayam kampung bukanlah sumber virus flu burung, namun hanya ikut terkena imbas. "Sejak itu, saya mulai memperkenalkan budidaya ayam kampung dengan pola intensif," ujar Ade.
Ade pun getol menyosialisasikan budidaya ayam kampung dengan pola intensif ini, terutama menyangkut kebersihan kandang. Upayanya ini mulai dilirik banyak pihak. Pada 2006, misalnya, United States Agency for International Development (USAID) Indonesia tertarik ikut memberikan pelatihan bagi warga di kampungnya.
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga pernah mengajaknya membuat buku berjudul "Restrukturisasi Peternakan dan Kebangkitan Peternakan Rakyat Ayam Kampung". Pada tahun 2006, Ade juga memperoleh penghargaan dari Bupati Sukabumi sebagai Pelopor Peternakan Ayam kampung Intensif.
Pada tahun 2007, ia juga bertemu dengan mantan Menteri Kesehatan (Alm) Endang Rahayu Setianingsih untuk membuat suatu penelitian.
Hasilnya pada tahun 2010, mereka mengagas program "Peternak Sehat, Ternak Sehat". Ade mengklaim, sekarang Sukabumi dikenal sebagai kiblat peternakan ayam dengan pola intensif.
Ade bertekad mendongkrak pamor ayam lokal
Setelah wabah flu burung merebak pada tahun 2005, Ade Meirizal Zulkarnain getol menyosialisasikan konsep budidaya ayam kampung dengan pola intensif. Sejak itu pula, namanya semakin dikenal di bisnis peternakan ayam kampung.
Selain masyarakat Sukabumi, banyak masyarakat dari daerah lain tertarik mengikuti cara beternak intensif yang ditawarkannya.
"Peternak dari Padang, Jambi, sampai daerah kalimantan Timur pernah datang ke tempat saya untuk melihat konsep beternak dengan pola intensif yang saya terapkan," ujar Ade.
Konsep ini pada dasarnya memberi pengertian bahwa lingkungan peternakan yang sehat akan menghasilkan produk ternak yang sehat. Pola intensif ini di antaranya menekankan kebersihan kandang.
Ade sendiri memang tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman. Ia justru menginginkan, semakin banyak orang mengetahui pola peternakan intensif ini justru semakin bagus.
Dengan demikian, diharapkan semakin banyak juga orang yang tertarik terjun ke bisnis ini. Bila skala peternakan ayam kampung terus meningkat, bukan mustahil suatu saat ayam kampung bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Artinya, produksi ayam kampung di Indonesia bisa lebih dominan ketimbang ayam ras pedaging (broiler) atau impor. "Indonesia ini pusat domestikasi ayam dunia, tapi di sini ayam ras dan ayam impor yang lebih berkembang," kata Ade.
Berlandaskan keinginan tersebut, Ade gencar melakukan sosialisasi peternakan ayam kampung dengan pola intensif. Kerja kerasnya dalam menggalakkan produk ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
Terbukti, pada 2007, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kemtan) mendirikan Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli).
Ade pun dipercaya menjabat ketua selama dua periode, mulai periode 2007-2012 dan 2012-2017. "Kami pun mulai melansir program 'Selamatkan Ayam Indonesia'," ujarnya.
Menurut Ade, sebanyak 80% jenis ayam asli Indonesia sudah masuk kategori hampir punah karena kurangnya minat masyarakat untuk membudidayakannya.
Makanya, di Himpuli, Ade aktif mengajak pemerintah untuk terlibat di dalam program-program pemberdayaan unggas lokal. Ia menargetkan, selama periode 2009 hingga 2019 mendatang, ayam lokal bisa berkontribusi minimal 25% dari total produksi unggas nasional.
Saat ini, kontribusinya hanya 6% dari total produksi unggas nasional. Namun, untuk mengejar target tersebut bukan persoalan mudah. Salah satu kendalanya, di Indonesia belum ada sarana pembibitan yang baik.
Selama ini, pola pembibitan ayam kampung di Indonesia masih cara lama dan belum profesional. Sebagai Ketua Himpuli sekaligus peternak ayam, Ade telah mendirikan pusat pembibitan ayam kampung dengan standar good breeding modern di Bogor.
Ade mendirikan pusat pembibitan ayam kampung ini pada bulan April 2012 lalu, dan dinamakan Unggul Pusat Pembibitan Ayam Kampung. Saat ini, pusat pembibitan ini mampu memproduksi 120.000 sampai 150.000 ekor anak ayam (days old chicken atau DOC) per bulan.
Dengan harga per ekor Rp 5.000, omzet Ade dari pembibitan ayam kampung ini mencapai Rp 500 juta per bulan. "Pemesanan anak ayam dari daerah Sumatera hingga Papua sudah pernah kami layani," tutur Ade.
Peternakan
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan
JAKARTA, KOMPAS.com -- Pemegang izin konsesi bisa memakai kawasan hutan untuk mengembangkan sapi demi mendukung swasembada daging nasional. Langkah ini dimungkinkan karena pembangunan kehutanan tidak semata menanam pohon, tetapi juga beternak dan menanam palawija untuk penghasi lan jangka pendek.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan hal ini di Jakarta, Selasa (27/11/2012). Kementerian Kehutanan telah mencadangkan sedikitnya 35,4 juta ha kawasan hutan rusak untuk investasi.
Pemegang izin konsesi kawasan hutan, selain menanam pohon juga bisa mengembangkan peternakan sapi secara terpadu. "Jumlah penduduk bertambah, pendapatan meningkat, dan permintaan pangan juga naik sehingga pengusaha kehutanan harus bisa melihat peluang ini untuk mengisi pasar domestik," kata Zulkifli.
Kemenhut mencadangkan 13,2 juta ha untuk investasi hak pengusahaan hutan (HPH) berbasis tebang pilih, 7,4 juta ha untuk investasi hutan restorasi yang bertujuan memulihkan kondisi kawasan tersebut seperti sedia kala, 9,1 juta ha untuk hutan tanaman industri (HTI), dan 5,5 juta ha untuk hutan tanaman rakyat (HTR).
Peternakan
Oleh Gesit Prayogi - Okezone
TANAH LAUT - Cibiran yang kerap diterima Basuki kini berbalik manis. Bagaimana tidak, berkat keuletannya dalam mengolah limbah kotoran sapi, kini ia mampu berbicara banyak.
Bapak lima anak ini, kini bisa tersenyum lebar. Terlebih dari hasil usahanya itu mampu meraup keuntungan Rp26 juta per bulan. Jerih payahnya selama delapan tahun terbayar.
Hidupnya kini berubah, tak ada gambaran pahit lagi. "Saya dulu pahit nasibnya, ditertawakan warga dan juga bupati, gara-gara menggeluti usaha pupuk organik," ujar Basuki saat berbincang dengan Okezone, di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Selasa (18/12/2012).
Kisah seperti pak Basuki tersebut bukan tanpa sebab. Alkisah dimulai saat ia beserta keluarga mengikuti program transmigrasi pada tahun 1977 silam. Jatuh bangun ia rasakan, sejumlah upaya kerasnya tak berbuah manis.
Namun setelah mengikuti program pelatihan di Pusat Pengembangan Ilmu dan Agri Bisnis Petani Kecil (Puspitek Agripeka) pada 2003, usahanya dibidang pengembangan pupuk berkualitas tinggi membuahkan hasil dalam kurun waktu satu tahun.
Ditambah lagi, melalui bantuan nuklir dari hasil riset dan peneliatan yang dilakukan oleh Puspitek Agripeka, basuki bisa menghasilkan pupuk yang berkualitas tinggi. Kini tidak ada lagi olok-olok dari masyarakat sekitar. Bupati pun diam seribu bahasa mengetahui ada warganya yang sukses dari kotoran sapi (dulu Bupati mencibir).
Anis Wahdi, salah seorang peneliti di Puspitek Agripeka menyatakan, bangunan untuk membuat laboratorium nuklir di pembuatan pupuk dari kotoran sapi tidak perlu besar.
Buktinya, bangunan laboratorium nuklir milik Basuki hanya semi permanen berukuran sekira 5 x 15 meter berdiri di sekitar tanah yang becek dan dikelilingi pepohonan -- sama sekali tak terlihat istimewa.
Bahkan, sekitarnya terdapat tumpukan karung yang tertata dengan pekerja tanpa baju sibuk menjahiti karung penuh berisi pupuk menghiasi bangunan tersebut. Lalu dimana nuklirnya, menurut Anis nuklirnya ada di laboratorium diantara tumpukan pupuk tersebut.
Nuklirnya kata Anis, tidak dicampur langsung dengan pupuk. Melainkan sebelum pupuk diolah, para peneliti nuklir Batan mencari formulasi yang tepat sehingga dapat menghasilkan pupuk yang berkualitas.
"Berkat pengaplikasian teknologi nuklir, bisnis peternakan pun tumbuh, bukan hanya untuk penggemukan sapi lewat Urea Multi Matrient Molasses Block (UMMB), bisnis pengolahan limbah sapi pun cukup menjanjikan hasilnya," tutur Anis yang merupakan dosen di Fakultas Pertanian, Program Studi (Prodi) Produksi Peternakan, Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan. (amr)
Peternakan
Chinese scientists have genetically modified dairy cows to produce human breast milk, and hope to be selling it in supermarkets within three years.
The milk produced by the transgenic cows is identical to the human variety and has the same immune-boosting and antibacterial qualities as breast milk, scientists at China's Agricultural University in Beijing say.
The transgenic herd of 300 was bred by inserting human genes into cloned cow embryos which were then implanted into surrogate cows.
The technology was similar to that used to produce Dolly the sheep.
The milk is still undergoing safety tests but with government permission it will be sold to consumers as a more nutritious dairy drink than cow's milk.
Workers at the university's dairy farm have already tasted the milk, and say it is sweeter and stronger than the usual bovine variety.
"It's good," said worker Jiang Yao. "It's better for you because it's genetically modified."
The scientists have also produced animals that are resistant to mad cow disease, as well as beef cattle that are genetically modified to produce more nutritious meat.
The director of the research project, Professor Li Ning, says Western concerns about the ethics of genetic modification are misplaced.
"There are 1.5 billion people in the world who don't get enough to eat," he said. "It's our duty to develop science and technology, not to hold it back.
"We need to feed people first, before we consider ideals and convictions."
In contrast to Europe, China has eagerly embraced genetically modified food.
GM cooking oil, papayas, tomatoes and potatoes are already widely available.
Insect-resistant rice and corn modified to help pigs absorb more nutrients were both recently approved by the government.
Source: News.sky
Peternakan
Herding cows home will soon be very easy task thanks to the efforts put in by the U.S. Department of Agriculture and the Massachusetts Institute of Technology. They have teamed up together to come out with a very techno way to round up the herd and head them home. A solar-powered “Ear-A-Round” helmet is what they have come up with. An electronics device hooked to sound-transmitting stereo earphones containing a GPS unit has been bundled together. The entire contraption fits snugly around the ear, giving out commands to the cows. This way the farmer gets to control his herd from afar.
Source: Newlaunches
Peternakan
By Lambert Varias
A loving and deep-pocketed farmer read somewhere that dairy cows that see green fields all the time are happier and produce more milk. So he bought a bunch of Samsung 40″ Series 7 LED TVs and had them installed in his cow barn, so now his cows can watch “a non-stop loop of world’s recognized green Swiss Alpine fields.”
Or can they? Can cows look up? And if so, can they look up for long periods of time? The farmer is now measuring the milk production of the bourgeois cows against the ones who have no TVs.
Source: Technabob
A loving and deep-pocketed farmer read somewhere that dairy cows that see green fields all the time are happier and produce more milk. So he bought a bunch of Samsung 40″ Series 7 LED TVs and had them installed in his cow barn, so now his cows can watch “a non-stop loop of world’s recognized green Swiss Alpine fields.”
Or can they? Can cows look up? And if so, can they look up for long periods of time? The farmer is now measuring the milk production of the bourgeois cows against the ones who have no TVs.
Source: Technabob
Peternakan
By Ben Coxworth
Project leader Ollie Szyszka, with one of the electronically-tagged cows
With diseases such as Foot and Mouth, TB, and of course Mad Cow still presenting a danger to cattle, it's of the utmost importance that farmers monitor the health of their animals, and immediately proceed to isolate any that might be showing symptoms. If you have a herd of over 500 cows, however, keeping track of individuals can be rather tricky. That's why scientists at England's Newcastle University have developed electronic ears tags, that they're trying out on a herd of test cattle.
Each ear tag is equipped with an RFID (radio frequency identification) chip, that transmits a short-range signal. Antennas mounted on the feeding troughs will pick up that signal when the cow comes to feed, with a computer keeping track of the amount of time that elapses until the signal is lost when the cow leaves. In this way, the system can keep track of which cows are eating regularly, and that they're getting enough to eat when they do.
Electronic ears tags are being used to check on the well-being of cattle
If a cow isn't eating enough - which could indicate that it isn't feeling well - the system notifies the farmer, identifying which cow should be looked at.
The cattle also have pedometers attached to their ankles, which measure how much time the animals spend being active versus lying down - another indicator of their health.
Pedometers are being used to check how active cattle are
"Modern farming systems have minimized the contact between the animal and its keeper," said project co-leader Prof. Ilias Kyriazakis, "so we need to constantly look for ways to re-address the balance."
Source: Gizmag
Peternakan
Christian Oesch is testing a device that sends an SMS to his phone when a cow is sexually active.
That is because Mr. Oesch, 60, who cares for a herd of 44 Red Holstein and Jersey dairy cows, is helping to test a device that implants sensors in cows to let farmers know when they are in heat. When that is the case, the device sends an SMS to the farmer’s phone. The Swiss do not settle for half measures: the SMS can be in any one of Switzerland’s three main languages — German, French and Italian — plus English or Spanish.
If there is anything to be learned from this project, which will bring the devices to market early next year, it is that Heidi’s world of goats — or cows — placidly grazing in Alpine meadows is gradually becoming the stuff of storybooks.
The electronic heat detector is the brainchild of several professors at a technical college in the nearby Swiss capital of Bern. It fills a market gap, they say, because dairy cows, under growing stress to produce larger quantities of milk, are showing fewer and fewer signs of heat. That makes it harder for Swiss farmers to use traditional visual inspections to know when to bring on the bull or, in about 80 percent of the cases these days, the artificial inseminator.
The sensor implanted in the genitals of Fiona or Bella (favorite names for Swiss cows) measures body heat, then transmits the result to a sensor affixed to the cow’s neck that measures body motion. (Cows in heat become restless.) “The results are combined, using algorithms, and if the cow is in heat an SMS is sent to the farmer,” said Claude Brielmann, a computer specialist who helped design the system. The detector on the cow’s neck is equipped with a SIM card so the farmer can pay for the calls.
“Our recognition rate is about 90 percent,” Mr. Brielmann said.
The device, known as a heat detector, raises concerns among animal rights advocates, not so much because of its intrusiveness in the private parts of the cow — its use involves inserting a thermometer with a tiny transmitter and antenna in the cow’s genitals — but because of what it says about the stressful lives of Swiss cows. It also prompts skepticism among dairy farmers, who are startled by its cost, which is expected to be at least $1,400 per unit.
“Will it bring anything financially?” asked Ulrich Tschanz, 76, who raised Red Holsteins in the neighboring town of Oberlindach, where the clanking of cow bells is everywhere, until he turned over his herd of 40 cows to his son some years ago. “Always keep an eye on your cows, keep an eye on them,” he added. “That’s the best.”
But experts say measures taken to increase milk production — adding proteins, minerals and vitamins to their feed— upset the cows’ metabolism, making the device increasingly necessary. “With greater productivity there is a drop in reproductive activity,” said Samuel Kohler, a veterinarian who is among the developers of the device and now serves on the board of the company, called Anemon, that hopes to sell it. “It happens fairly frequently that you miss the right moment.”
Few people anywhere are as sensitive to animal rights as the Swiss, who have some of the toughest animal rights laws in the world. A comprehensive law enacted four years ago, for instance, obliges dog owners to take a course on the proper treatment of their pet and requires that certain animals deemed social, like guinea pigs or canaries, have one or more companions in captivity. (Even the Swiss have their limits. In 2010, voters overwhelmingly rejected a proposed law that would have appointed free lawyers to represent animals in abuse cases.)
Hansuli Huber, the managing director of the Swiss animal rights agency Tierschutz, said the dignity of the cow was less of an issue with the new device. “There is a certain justification,” he said. Yet he added: “The real problem is the cows’ not showing signs of heat, and this is linked with the demands made on cows to produce ever larger quantities of milk.”
Moreover, he said, cows are also calving less frequently than in the past because of stress. “Now maybe they do so three times in their lifetime,” he said. “While 20 or 30 years ago it used to be perhaps seven times.”
Many Swiss accept this reasoning. “It’s a shame that it’s come to this,” said Harri Hofer, 54, a security specialist, as he did his shopping along Zollikofen’s main street.
With global milk prices slumping, productivity is crucial for Swiss cows, whose owners are feeling the financial pinch. According to the government’s Office for Agriculture in Bern, every year some 2 percent of farms like those around Zollikofen shut down, unable to compete with bigger, more efficient producers abroad.
Dr. Kohler said he did not expect significant opposition to the new device. “It’s not cruelty to animals,” he said. “The cows behave very normally. I don’t see a problem.”
Indeed, Mr. Oesch is very pleased with his results so far, despite some early problems. “The first attempts were not trouble free,” he said. “The problem was with the sensors. They were not sturdy enough.”
Occasionally, the device would send a false signal that a cow was in heat, he said. Other times, it failed to detect when one of the cows was in an amorous mood. This week, he said, he would begin testing newer, sturdier models.
Aside from the cow’s love life, mistakes have a negative impact on a farmer’s pocketbook. Missing the right moment can cost Mr. Oesch, who uses artificial insemination, as much as 300 Swiss francs, or about $320, in unused semen.
Even with such results, farmers like Mr. Tschanz reacted soberly, especially given the steep purchase price of the device.
“Cost is important,” said Martin Baumgartner, 33, who is the fourth generation in his family to tend cows here. Only about 20 of his herd of 100 are now milk cows, while the others are more profitable Simmental and Black Angus beef cows.
His neighbor Urs König, 48, who got out of the dairy business a few years ago to focus on hogs, was equally unromantic. “It’s a cost-benefit question,” he said.
Source: Nytimes 1 and Nytimes 2
By John Tagliabue
ZOLLIKOFEN, Switzerland — When Christian Oesch was a boy on his family’s hog farm, cellphones were a thing of the future. Now, Mr. Oesch tends a herd of dairy cattle and carries a smartphone wherever he goes. Occasionally he gets an SMS from one of his cows.That is because Mr. Oesch, 60, who cares for a herd of 44 Red Holstein and Jersey dairy cows, is helping to test a device that implants sensors in cows to let farmers know when they are in heat. When that is the case, the device sends an SMS to the farmer’s phone. The Swiss do not settle for half measures: the SMS can be in any one of Switzerland’s three main languages — German, French and Italian — plus English or Spanish.
If there is anything to be learned from this project, which will bring the devices to market early next year, it is that Heidi’s world of goats — or cows — placidly grazing in Alpine meadows is gradually becoming the stuff of storybooks.
The electronic heat detector is the brainchild of several professors at a technical college in the nearby Swiss capital of Bern. It fills a market gap, they say, because dairy cows, under growing stress to produce larger quantities of milk, are showing fewer and fewer signs of heat. That makes it harder for Swiss farmers to use traditional visual inspections to know when to bring on the bull or, in about 80 percent of the cases these days, the artificial inseminator.
The sensor implanted in the genitals of Fiona or Bella (favorite names for Swiss cows) measures body heat, then transmits the result to a sensor affixed to the cow’s neck that measures body motion. (Cows in heat become restless.) “The results are combined, using algorithms, and if the cow is in heat an SMS is sent to the farmer,” said Claude Brielmann, a computer specialist who helped design the system. The detector on the cow’s neck is equipped with a SIM card so the farmer can pay for the calls.
“Our recognition rate is about 90 percent,” Mr. Brielmann said.
The device, known as a heat detector, raises concerns among animal rights advocates, not so much because of its intrusiveness in the private parts of the cow — its use involves inserting a thermometer with a tiny transmitter and antenna in the cow’s genitals — but because of what it says about the stressful lives of Swiss cows. It also prompts skepticism among dairy farmers, who are startled by its cost, which is expected to be at least $1,400 per unit.
“Will it bring anything financially?” asked Ulrich Tschanz, 76, who raised Red Holsteins in the neighboring town of Oberlindach, where the clanking of cow bells is everywhere, until he turned over his herd of 40 cows to his son some years ago. “Always keep an eye on your cows, keep an eye on them,” he added. “That’s the best.”
But experts say measures taken to increase milk production — adding proteins, minerals and vitamins to their feed— upset the cows’ metabolism, making the device increasingly necessary. “With greater productivity there is a drop in reproductive activity,” said Samuel Kohler, a veterinarian who is among the developers of the device and now serves on the board of the company, called Anemon, that hopes to sell it. “It happens fairly frequently that you miss the right moment.”
Few people anywhere are as sensitive to animal rights as the Swiss, who have some of the toughest animal rights laws in the world. A comprehensive law enacted four years ago, for instance, obliges dog owners to take a course on the proper treatment of their pet and requires that certain animals deemed social, like guinea pigs or canaries, have one or more companions in captivity. (Even the Swiss have their limits. In 2010, voters overwhelmingly rejected a proposed law that would have appointed free lawyers to represent animals in abuse cases.)
Daniel Auf Der Mauer for The New York Times
Receiving a message on a smartphone
Hansuli Huber, the managing director of the Swiss animal rights agency Tierschutz, said the dignity of the cow was less of an issue with the new device. “There is a certain justification,” he said. Yet he added: “The real problem is the cows’ not showing signs of heat, and this is linked with the demands made on cows to produce ever larger quantities of milk.”
Moreover, he said, cows are also calving less frequently than in the past because of stress. “Now maybe they do so three times in their lifetime,” he said. “While 20 or 30 years ago it used to be perhaps seven times.”
Many Swiss accept this reasoning. “It’s a shame that it’s come to this,” said Harri Hofer, 54, a security specialist, as he did his shopping along Zollikofen’s main street.
With global milk prices slumping, productivity is crucial for Swiss cows, whose owners are feeling the financial pinch. According to the government’s Office for Agriculture in Bern, every year some 2 percent of farms like those around Zollikofen shut down, unable to compete with bigger, more efficient producers abroad.
Dr. Kohler said he did not expect significant opposition to the new device. “It’s not cruelty to animals,” he said. “The cows behave very normally. I don’t see a problem.”
Indeed, Mr. Oesch is very pleased with his results so far, despite some early problems. “The first attempts were not trouble free,” he said. “The problem was with the sensors. They were not sturdy enough.”
Occasionally, the device would send a false signal that a cow was in heat, he said. Other times, it failed to detect when one of the cows was in an amorous mood. This week, he said, he would begin testing newer, sturdier models.
Aside from the cow’s love life, mistakes have a negative impact on a farmer’s pocketbook. Missing the right moment can cost Mr. Oesch, who uses artificial insemination, as much as 300 Swiss francs, or about $320, in unused semen.
Even with such results, farmers like Mr. Tschanz reacted soberly, especially given the steep purchase price of the device.
“Cost is important,” said Martin Baumgartner, 33, who is the fourth generation in his family to tend cows here. Only about 20 of his herd of 100 are now milk cows, while the others are more profitable Simmental and Black Angus beef cows.
His neighbor Urs König, 48, who got out of the dairy business a few years ago to focus on hogs, was equally unromantic. “It’s a cost-benefit question,” he said.
Source: Nytimes 1 and Nytimes 2
Peternakan
Seekor anak Sapi Bali dari hasil perkawinan dengan pejantan Banteng Jawa, berhasil dilahirkan dengan sehat di Taman Safari Indonesia II, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur.
Kelahiran anak Sapi jenis ras Sapi Bali dengan pejantan Banteng Jawa, menjadi peristiwa langka dalam hal konservasi satwa, khususnya dibidang pengembangan genetika satwa karena merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia. Upaya mengkawin silangkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa ini, merupakan upaya menghasilkan keturunan sapi yang memiliki keunggulan secara genetik dan ketahanan fisik.
Peristiwa ini membuktikan garis keturunan yang sama antara Sapi Bali dengan Banteng Jawa, yang diharapkan mampu menghasilkan keturunan berkualitas untuk Sapi di Jawa Timur.
Kurator Satwa Taman Safari Indonesia, Prigen, Ivan Candra mengatakan, hasil kawin silang tersebut diharapkan menghasilkan anak Sapi jenis unggul dibandingkan Sapi biasa, yang didapatkan dari genetik Banteng Jawa.
Ivan Candra mengatakan, “Ada peningkatan genetik dan performance, nah kita harapkan juga ketahanan terhadap penyakitpun juga lebih baik, variasi genetiknya semakin tinggi, sehingga bisa menambah performance dan produktivitas dari keturunan-keturunan selanjutnya.”
Kawin silang antara Sapi Bali dengan Banteng Jawa, sejak awal telah mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, keberhasilan mengembangbiakkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa diyakini mampu meningkatkan kualitas Sapi di Jawa Timur, melalui pengembangbiakkan Sapi Bali secara massal.
“Ini menjadi diperbanyak, diakan jenis baru yang insya Allah tahan penyakit, Banteng itu kan tahan penyakit, penyakit kuku, mulut, kan gak ada. Jadi ini baru dan memang saya support sejak awal, kalau bisa nanti inseminasi buatan untuk itu,” ungkap Soekarwo.
Soekarwo menegaskan, keberhasilan mengkawinsilangkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa sehingga melahirkan keturunan, menjadi harapan akan swasembada daging Sapi di Jawa Timur. Dengan berat Sapi Bali per ekor yang mencapai lebih dari 400 kilogram, anak Sapi hasil kawin silang ini diyakini akan menambah produksi Jawa Timur untuk daging Sapi.
Sementara itu, Ivan Candra menambahkan, kelahiran anak Sapi dari Induk Sapi Bali dan pejantan Banteng Jawa membuktikan garis keturunan yang sama antara kedua hewan tersebut, sehingga keturunan yang dihasilkan dapat berkembangbiak dengan baik tanpa masalah dalam hal kesehatan maupun kesuburan.
“Setelah sang anak ini lahir, kita buktikan sama-sama, setelah dewasa nanti, kawin, otomatis dan pengharapan kitapun dia bisa kawin, baik itu dengan Sapi Bali yang sudah disiapkan, maupun dengan Banteng, kita akan menganggap itu fertile, subur, bukan steril. Nah itu membuktikan bahwa baik Sapi Bali maupun Banteng sedarah atau seketurunan,” demikian jelas Ivan Candra.
Sumber
Induk Sapi Bali bernama Delta, bersama anak Sapi hasil kawin silang dengan banteng Jawa yang baru lahir.
Kelahiran anak Sapi jenis ras Sapi Bali dengan pejantan Banteng Jawa, menjadi peristiwa langka dalam hal konservasi satwa, khususnya dibidang pengembangan genetika satwa karena merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia. Upaya mengkawin silangkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa ini, merupakan upaya menghasilkan keturunan sapi yang memiliki keunggulan secara genetik dan ketahanan fisik.
Peristiwa ini membuktikan garis keturunan yang sama antara Sapi Bali dengan Banteng Jawa, yang diharapkan mampu menghasilkan keturunan berkualitas untuk Sapi di Jawa Timur.
Kurator Satwa Taman Safari Indonesia, Prigen, Ivan Candra mengatakan, hasil kawin silang tersebut diharapkan menghasilkan anak Sapi jenis unggul dibandingkan Sapi biasa, yang didapatkan dari genetik Banteng Jawa.
Ivan Candra mengatakan, “Ada peningkatan genetik dan performance, nah kita harapkan juga ketahanan terhadap penyakitpun juga lebih baik, variasi genetiknya semakin tinggi, sehingga bisa menambah performance dan produktivitas dari keturunan-keturunan selanjutnya.”
Pejantan Banteng Jawa yang bernama Matos (warna hitam).
Kawin silang antara Sapi Bali dengan Banteng Jawa, sejak awal telah mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, keberhasilan mengembangbiakkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa diyakini mampu meningkatkan kualitas Sapi di Jawa Timur, melalui pengembangbiakkan Sapi Bali secara massal.
“Ini menjadi diperbanyak, diakan jenis baru yang insya Allah tahan penyakit, Banteng itu kan tahan penyakit, penyakit kuku, mulut, kan gak ada. Jadi ini baru dan memang saya support sejak awal, kalau bisa nanti inseminasi buatan untuk itu,” ungkap Soekarwo.
Soekarwo menegaskan, keberhasilan mengkawinsilangkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa sehingga melahirkan keturunan, menjadi harapan akan swasembada daging Sapi di Jawa Timur. Dengan berat Sapi Bali per ekor yang mencapai lebih dari 400 kilogram, anak Sapi hasil kawin silang ini diyakini akan menambah produksi Jawa Timur untuk daging Sapi.
Sementara itu, Ivan Candra menambahkan, kelahiran anak Sapi dari Induk Sapi Bali dan pejantan Banteng Jawa membuktikan garis keturunan yang sama antara kedua hewan tersebut, sehingga keturunan yang dihasilkan dapat berkembangbiak dengan baik tanpa masalah dalam hal kesehatan maupun kesuburan.
“Setelah sang anak ini lahir, kita buktikan sama-sama, setelah dewasa nanti, kawin, otomatis dan pengharapan kitapun dia bisa kawin, baik itu dengan Sapi Bali yang sudah disiapkan, maupun dengan Banteng, kita akan menganggap itu fertile, subur, bukan steril. Nah itu membuktikan bahwa baik Sapi Bali maupun Banteng sedarah atau seketurunan,” demikian jelas Ivan Candra.
Sumber
Peternakan
Langganan:
Postingan (Atom)



















Recent Comments