Select Menu

ads2

Slider

Featured Post (Slider)

Rumah - Interior

Recent Comments

Kesehatan

Social Icons

google plus facebook linkedin

Artikel Popular

Portfolio

Motivasi Kerja

Travel

Performance

Cute

My Place

Motivasi Kerja

Racing

Videos


Anda pengguna iOS 7? Jika YA, tentunya anda sudah sangat mengenal betul tentang fitur – fitur yang dimiliki Operating Sistem berikut ini bukan? iOS 7 di sebut – sebut sebagai penyempurna dari versi – versi sebelumnya, terlebih lagi dalam hal desain tampilan. Akan tetapi setelah peluncurannya kemarin, Apple banyak mendapat gugatan terkait penggunaan iOS 7 oleh para pengguna iPhone. Banyak yang mengeluhkan setelah menggunakan iOS 7, baterai iPone jadi semakin boros dan smartphone jadi lebih sering nempel dengan power bank daripada digunakan.
Lihat disini untuk Kelebihan dan Kekurang iOS 7

Apple-iOS-7
Namun, keluhan pengguna seperti itulah yang membuat Apple segera bergerak melakukan inovasi lagi guna menambal kekurangan pada iOS 7 dengan segera merilis versi terbarunya yaitu iOS 7.0.4. Sepertinya Apple sangat mengerti betul bagaimana cara menjaga kepercayaan pengguna perangkatnya. Jadi bagi anda pengguna versi iOS sebelum iOS 7, tidak perlu khawatir dengan penggunaan iOS 7. Anda bisa meng-upgrade perangkat anda dengan iOS 7.0.4.
Baca disini Cara Upgrade iOS 7
Selain dari tampilan desain visualnya yang lebih menarik, ternyata iOS 7 juga mempunyai beberapa kelebihan lain dalam berbagai hal yang tidak anda temukan pada iOS 6. Meski menggunakan desain baru, iOS 7 beroperasi masih sama seperti Operating Sistem yang sebelumnya. Hanya saja ada berberapa fitur unik yang memang tersembunyi di dalamnya. Untuk mengetahui apa saja fitur unik yang tersembunyi itu, berikut ini Oketekno.com berikan untuk anda sedikit ulasan tentang Fitur Unik Dalam iOS 7.

Text Timestamps

iOS 7 menyimpan fitur yang dapat membantu anda menunjukkan tanggal dan atau waktu dimana anda melakukan percakapan di tread hanya dengan menggeser layar pesan anda dari kanan ke kiri untuk memunculkan tampilan timestands. Text Timestands dari iOS 7 ini bisa menjadi salah satu pelopor fitur serupa di masa depan.

Built-in Kompas

Aplikasi kompas di iOS 7 sudah menggunakan fitur built-in. Jika anda tersesat dalam perjalanan, anda sudah tidak perlu lagi bingung menentukan arah. Kompas pada iOS 7 sudah bisa anda gunakan secara langsung tanpa harus mengunduhnya terlebih dahulu Apps Store. Tinggal anda jalankan aplikasi kompas, lalu geser layar dari bawah ke atas maka tampilan kompas akan muncul.

Built-in Flashlight

Flashlight atau senter juga bisa anda gunakan pada iOS 7. Dengan memanfaatkan lampu kilat pada kamera, anda bisa menerangi sekitar saat dibutuhkan. Anda cukup menggeser jari anda dari bawah ke atas maka anda akan masuk ke layanan di control center app, icon flashlight dapat anda temukan di pojok kiri bawah pada tampilan di iOS 7 anda.

Block Contacks

Bila anda sedang tidak ingin mendapatkan gangguan tentang adanya penggilan dan atau pesan yang masuk ke perangkat anda, anda bisa memblokirnya dengan mudah. Bila dahulu khusus panggilan saja yang dapat menerima pemblokiran, tapi sekarang anda bisa melakukan blokir pada panggilan, pesan teks, dan face time. Untuk menggunakannya anda cukup pergi ke Setting>Phone/Messages>facetimes>Blocked. Anda juga bisa menambahan daftar blokir jika itu di perlukan untuk menghindari orang yang tidak anda inginkan.

Update Automatics

Bila anda gemar meng-update aplikasi pada perangkat anda, anda dimudahkan dengan layanan ini. Menggunakan update otomatis dapat membuat anda menghemat waktu tanpa harus memilih – milih  aplikasi yang akan anda update. Hanya dengan melakukan akses ke Setting>iTunes&App store>Automatic Downloads anda bisa meng-aktifkan atau non-aktifkan aplikasi yang anda inginkan. Kesan simple dan mudah lebih terasa dalam melakukan update aplikasi anda.

Sumber: Oketekno



Ah, the Tizen OS. Much has been said about it, that sometime in the middle of this summer, it was reported that the mobile operating system was “almost dead”. Well, there were still some life signs left as Tizen 3.0 was spotted to run on a Samsung Galaxy S3 a couple of months after that. All in all, a simple conclusion can be made – that devices which run on Tizen are pretty difficult to come across, it is sort of going round and round trying to snag that legendary Pokemon.

Well, developers who happen to have a heart for the platform over in Japan will have an additional option, thanks to the Tizen build kit that hails from the good people over at Systena. This happens to be a package which will include developer tools, manuals and technical and consulting services, all of them from Systena. Of course, those are essentials, but the main attraction of the kit would be the 10.1-inch developer tablet.

This particular tablet would run on a quad-core 1.4GHz ARM Cortex-A9 processor, where it is accompanied by 2GB RAM and 32GB of internal memory. Coupled with that would be a 1,920 x 1,200 display, delivering a Tizen 2.1 experience that was specially built for app development and product demonstration. No public pricing details are available just yet, but those who are interested developers can place a request additional information via the company’s website.

Source: Ubergizmo
Oleh Deliusno

Canonical

KOMPAS.com - Canonical telah mengumumkan sistem operasi Ubuntu khusus untuk perangkat tablet, Rabu (20/2/2013).

Melalui peluncuran sistem operasi ini, Canonical menyatakan ingin memberikan pengalaman yang kompak (unified) antara perangkat ponsel, TV, tablet, dan PC. Artinya, Canonical ingin menghadirkan tampilan sistem operasi Ubuntu sama di antara semua perangkat tersebut.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Canonical membangun sistem operasi versi ini agar dapat memberikan tampilan yang baik untuk perangkat tablet dengan layar berukuran 6 inci hingga 20 inci dan dengan kualitas layar 100 hingga 450 PPI.

"Tampilan antarmuka dari keluarga sistem operasi kami sekarang dapat disesuaikan (scales) di semua jenis layar, sehingga ponsel Anda dapat menghadirkan pengalaman perangkat tablet, PC, dan TV. Itulah uniknya Ubuntu dan masa depan dari personal computing," kata Mark Shuttleworth, Founder Ubuntu dan Canonical, seperti dikutip dari CNET, Rabu(20/2/2013).

Hadir di tengah kompetisi sistem operasi yang semakin ketat, Canonical menghadirkan beberapa fitur menarik di Ubuntu untuk perangkat tablet ini.

Salah satunya adalah fitur "Real Multitasking". Dengan menggunakan fitur ini, pengguna dapat menjalankan aplikasi tablet dan juga smartphone secara bersamaan, di layar yang sama.

Terdapat juga fitur mutli-user. Sistem operasi tablet lain juga sudah mendukung multiple accounts, tetapi menurut Canonical, Ubuntu akan menghadirkan keamanan yang lebih baik dengan enkripsi penuh untuk data pesonal.

Canonical memang belum meluncurkan perangkat tablet dengan sistem operasi Ubuntu ini. Namun, pemilik perangkat Nexus 7 dan Nexus 10 sudah dapat mengunduh dan menikmati versi developer preview sistem operasi ini mulai 21 Februari 2013.

Berikut video yang menjelaskan berbagai fitur yang terdapat di Ubuntu versi tablet ini.



Sumber: Kompas
Oleh Dwi Zain Musofa

Sony Xperia Tablet Z. ©2014 Telegraph.co.uk

Merdeka.com - Sony bakal segera meluncurkan sebuah perangkat tablet terbaru dengan nama Xperia Z2 yang bakal menjadi tablet Android KitKat dan diklaim akan mengusung spesifikasi menawan serta fitur unggulan.

Dilansir Softpedia (17/2), Sony Xperia Z2 ini bahkan saat ini sudah bocor detail spesifikasinya. Berdasarkan tweet yang diunggah oleh Evleaks, tablet Android ini nantinya akan didukung dengan teknologi anti air dan debu yang masih jarang diusung oleh tablet pesaing.

Selain itu, dilaporkan jika Sony Xperia Z2 ini juga akan dibekali layar sentuh 10,1 inci (1920 x 1200 piksel), prosesor quad-core 2,3Ghz Snapdragon 800, RAM 3GB, dan internal memori 16GB.

Tablet Sony Xperia Z2 ini juga dilengkapi kamera belakang 8MP, kamera depan 2MP, baterai 6.000 mAh, dan menggunakan Android 4.4 KitKat sebagai sistem operasinya. Ke semua spesifikasi tersebut akan dibungkus dalam bodi super tipis dengan tebal hanya 0,64cm.

Sayangnya, sampai saat ini masih belum diketahui berapa harga tablet Sony Xperia Z2 ini nantinya di pasaran. Namun kuat diprediksi jika Sony akan memperkenalkan tablet ini pada gelaran MWC 2014 yang bakal diselenggarakan pada 24 Februari di Barcelona.

Sumber: Merdeka
Oleh Dwi Zain Musofa

Tablet Firefox OS. ©2014 PhoneArena.com

Merdeka.com - Tablet pertama pengusung Firefox OS milik Mozilla telah terkuak tampilan dan spesifikasi lengkapnya.

Tablet Firefox OS dengan kode nama Flatfish ini merupakan hasil kerja sama Mozilla dengan Foxconn dan kuat diprediksi akan beredar di pasaran dalam kancah tablet murah.

Seperti dilansir PhoneArena (17/1), nantinya tablet ini diperkirakan akan melenggang ke pasaran dengan harga antara USD 100 hingga USD 150 atau hanya sekitar Rp 1 jutaan.


Untuk spesifikasinya sendiri tablet ini akan menggunakan layar IPS 10,1 inci (1280 x 800 piksel), prosesor quad-core 1GHz ARM Cortex A-7, RAM 2GB, internal memori 32GB, dan slot microSD.

Selain itu, tablet Firefox OS ini dilengkapi kamera belakang 5MP, kamera depan 2MP, dan baterai 7.000 mAh. Sayangnya tablet ini dikabarkan hanya akan beredar di pasaran dengan mengusung satu varian saja yaitu WiFi only tanpa mendukung SIM card.

Meski sudah terkuak spesifikasi dan tampilannya, pihak Mozilla sampai saat ini masih belum bersedia meluncurkan konfirmasi terkait kebenaran kabar ini dan juga masih bungkam mengenai kapan tablet Firefox OS mereka ini bakal hadir di pasaran.

Sumber: Merdeka
Oleh WAH

(http://dev.chromium.org/chromium-os/user-experience/form-factors/tablet)

SAN FRANCISCO, KOMPAS.com - Tak lama lagi, iPad akan mendapat lawan berat. Google pun kini memperluas pengembangan proyek Chromium-nya untuk menciptakan perangkat tablet sejenis yang bekerja dengan platform atau sistem operasi Chrome OS.

Konsep desain perangkat tablet rancangan Google muncul dalam salah satu halaman situs untuk developer Chrome. Di halaman tersebut ditampilkan foto-foto bentuknya maupun konsep tampilan dasar untuk user interface-nya (UI). Namun, semuanya baru desain awal.

"Ini adalah sebuah konsep UI yang sedang dalam masa pengembangan. Desainnya bisa berubah setiap saat," demikian pernyataan Google yang di bagian atas halaman.

Halaman tersebut menampilkan garis besar tampilan Chrome OS di perangkat tablet. Ada beberapa konsep yang sudah ditawarkan Google dalam tablet tersebut. Antara lain dengan keyboard virtual yang bisa dimodifikasi tergantung kebutuhan apakah satu layar penuh, sesuai ukuran aplikasi yang dibuka, atau dibagi di kanan dan kiri agar menyesuaikan dua tangan. Selain itu, Google juga menawarkan beberapa pengaturan tab untuk membuka lebih dari satu aplikasi. Bisa di pinggir atau saling bersisian.

Untuk memperjelas konsep desain tersebut, Google juga menyediakan penjelasan dalam bentuk video yang bebas diunduh dari halaman yang sama. Konsep tersebut didesain oleh Glen Murphy.

Belum ada informasi kapan tablet ini akan tersedia di pasaran. Namun, Google sebelumnya pernah mengumumkan bahwa Chrome OS akan diluncurkan akhir tahun ini. Chrome OS merupakan sistem operasi baru rancangan Google yang dibangun dari platform browser web Chrome. Sistem operasi tersebut sepenuhnya mendukung layanan cloud computing karena semua aplikasi dan data tak disimpan dalam hardisk melainkan di server internet.

Sumber: Kompas
Oleh Oik Yusuf


Model memeragakan tablet Acer Iconia W4 dalam acara peluncuran di Jakarta, Rabu (22/1/2014)

JAKARTA, KOMPAS.com - Perangkat-perangkat tablet Windows 8.1 mulai memasuki pasaran Indonesia. Kehadiran mereka diawali oleh Iconia W4 dari Acer, sebuah tablet dengan diagonal layar 8 inci yang resmi diluncurkan di Tanah Air melalui acara di Jakarta, Rabu (22/1/2014) kemarin.

Iconia W4 merupakan kelanjutan dari produk sebelumnya, Iconia W3 yang belum lama dirilis pada akhir Agustus tahun lalu. Kedua produk ini mengusung konsep serupa, yaitu menanamkan OS Windows versi desktop di tablet mungil berukuran 8 inci.

Kendati memiliki penampilan fisik yang juga mirip, Iconia W4 mengusung sejumlah perubahan penting yang membedakannya dari tablet terdahulu, termasuk penggunaan sistem operasi Windows 8.1 dan prosesor Intel "Bay Trail" alias Atom Z3740 quad-core berkecepatan 1,8 GHz.

Prosesor milik Iconia W4 itu menawarkan kinerja lebih gegas dibandingkan generasi sebelumnya yang dipakai oleh Iconia W3. Bahkan, Presiden Direktur Acer Indonesia Jason Lim menyebutkan bahwa performa Iconia W4 bisa tiga kali lebih tinggi.


oik yusuf/ kompas.com
Tablet 8 inci dengan OS Windows 8.1, Acer Iconia W4

Perubahan lain mencakup fisik yang lebih ringan, juga lebih ringkas dengan memaketkan keyboard Bluetooth baru yang seukuran dengan layar. Sebelumnya, Acer membundel Iconia W3 dengan keyboard berukuran full-size yang tampak aneh ketika dipadukan dengan tablet berukuran 8 inci tersebut.

Aksesori keyboard baru tersebut menunjang ukuran kecil Iconia W3. Tablet ini pun jadi lebih mudah dibawa ke mana-mana dengan keyboard yang ikut terbungkus di dalam cover.

Akan tetapi, ada harga yang harus dibayar untuk keringkasan bentuk Iconia W4. Seperti yang bisa diduga sebelumnya, keyboard berukuran kecil ini sedikit kurang nyaman ketika dipakai mengetik. Mereka yang pernah mencoba Eee PC pertama dari Asus beberapa tahun yang lalu akan langsung teringat dengan pengalaman memakai keyboard di netbook itu.


oik yusuf/ kompas.com

Aksesoris keyboard standar yang dipaketkan dengan Iconia W8 berbentuk sedikit terlalu kecil sehingga agak sulit digunakan untuk mengetik dengan nyaman.

Meski berukuran kecil untuk sebuah tablet, Iconia W4 dilengkapi deretan konektor yang lebih lengkap dibandingkan perangkat sejenis yang berbasis OS Android atau iOS.

Berkat OS Windows 8.1 versi desktop di dalamnya, tablet ini bukan hanya mampu menjalankan aplikasi Windows standar, namun juga dilengkapi sejumlah port ala laptop yaitu micro-USB (versi 2.0) yang bisa dikonversikan ke full-size USB dan keluaran video melalui konektor mini-HDMI.


oik yusuf/ kompas.com

Sisi bawah Acer Iconia W4 memuat port micro-USB (2.0), konektor jack audio 3,5mm, dan grill speaker. Di sisi depan bagian bawah juga terdapat tombol Windows yang akan memunculkan Start Screen apabila ditekan


oik yusuf/ kompas.com
Tombol power ditempatkan di sisi atas tablet

Ketika tersambung ke monitor/TV dengan input HDMI, Iconia W4 pun bisa menjalankan skenario multi-monitor standar, seperti mirroring dan extended desktop. Keluaran HDMI pada tablet ini diletakkan di sisi kanan, bersama dengan slot micro-SD dan tombol pengatur volume. Adapun tombol power terletak di sisi atas tablet.


oik yusuf/ kompas.com

Di sisi kanan Iconia W4 terdapat port mini-HDMI untuk keluaran video, tombol pengatur volume, dan slot micro-SD.

Di luar hardware dan software yang lebih aktual, salah satu perubahan yang paling terasa adalah peningkatan kualitas layar. Dulu, Iconia W3 memiliki kualitas layar yang mengecewakan. Sekarang hal tersebut telah diperbaiki dengan menerapkan panel berteknologi In-Plane Switching pada Iconia W4.

Baik Iconia W3 maupun W4 memiliki resolusi display yang sama, yaitu 1280x800, tapi kualitas tampilan layar keduanya sungguh berbeda. Tak seperti pendahulunya, gambar-gambar dan warna yang ditampilkan Iconia W4 tampak konsisten ketika pengguna mengubah sudut pandang. Layar IPS pada tablet ini memang diklaim memiliki viewing angle cukup luas, mencapai 170 derajat.

Sayang, ketika dicermati lebih jauh, tampilan di layar Iconia W4 ternyata sedikit kurang tajam. Icon dan teks di interface Windows pun tampak agak kecil. Hal tersebut diakibatkan oleh ukuran layar Iconia W4 yang memang mungil dan berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna saat menjalankan aplikasi desktop di tablet ini.


oik yusuf/ kompas.com

Berkat layar 8 inci dan aksesoris keyboard yang seukuran, Iconia W4 berbentuk lebih ringkas dibanding pendahulunya.

Untuk urusan sambungan ke internet, Iconia W4 mengandalkan WiFi 802.11 a/b/g/n tanpa 3G. Pihak Acer juga berencana merilis versi lain dari tablet ini yang dibekali dengan koneksi data seluler tersebut. Spesifikasi lain termasuk on-board storage 32GB, serta kamera belakang 5 megapixel dan kamera depan 2 megapixel.

Iconia W4 versi WiFi only dijadwalkan sudah mulai tersedia mulai Januari 2014 dengan harga Rp 5,2 juta, termasuk bundel Office Home and Student 2013 dan aksesori keyboard Bluetooth. Versi WiFi+3G akan menyusul dirilis pada Maret mendatang dengan harga Rp 6,2 juta.

Banderol tersebut sedikit lebih mahal dibandingkan pendahulunya, Iconia W3 yang dihargai di kisaran Rp 4 jutaan. Tapi, menurut pihak Acer, hal itu tak lain disebabkan oleh nilai tukar dollar AS yang menguat belakangan ini.


oik yusuf/ kompas.com
Acer Iconia W4

Sumber: Kompas

Beberapa dari kalian sudah tahu kalau Mozilla telah terjun ke pasaran Handphone dengan memperkenalkan sistem operasi Handphone menggunakan Firefox OS.

Selain itu sudah ada pabrik yang mengkonfirmasi akan menghadirkan Tablet dengan menggunakan Firefox OS.

Foxconn yang pada acara Computex 2013 menampilkan Tablet pertama di dunia yang menggunakan sistem operasi Firefox OS. Tetapi Foxconn masih belum mau memberitahukan spesifikasi dari Tablet Firefox OS tersebut. Wah pelit juga yah ~.~

Foxconn juga akan menjual smartphone yang menggunakan Firefox OS yaitu The Keon dan The Peak.Kabarnya Alcatel dan ZTE juga memperkenalkan smartphone terbaru mereka yang menggunakan Firefox OS. Bahkan Sony, Huawei, dan LG juga sedang mengembangkan smartphone Firefox OS.

Kira-kira apa yang yang membuat Firefox OS itu begitu spesial?

Sumber: Forum.kompas
Ekoore Python S3 

Tablet yang mampu menjalankan 3 OS sekaligus - tahun 2013 diyakini akan menjadi menjadi tahunnya komputer tablet. Semakin banyaknya produsen elektronik yang lebih memilih mengembangkan komputer tablet dari pada netbook, dan permintaan akan tablet yang tingi disinyalir menjadi penyebab boomingnya komputer tablet. Selain itu lahirnya, berbagai sistem operasi baru juga turut andil dalam perkembangan komputer tablet. Tercatat kini berbagai OS mendukung kompatibilitas kmputer tablet yang mengutamakan layar sentuh. iOS, Android, dan Windows 8 mendomainasi sistem operasi yang beredar di pasaran komputer tablet. Selain itu, ada juga OS ubuntu yang belakangan juga tak mau kalah bersaing.

Bingung, dengan banyaknya pilihan sistem operasi mobile yang ditawarkan ? Kini Anda tak perlu bingung lagi, sebab telah dirilis sebuah tablet 'bunglon" yang ampu menjalankan 3 OS sekaligus dalam satu tablet. Adalah tablet Python S3 tablet multi boot buatan Ekoore (Produsen PC asal Italia).Tablet unik ini, mendukung 3 sistem operasi mobile yang populer, yaitu Android ICS, Windows 8, dan Ubuntu 13.04. dengan begitu, pengguna bisa merasakan dan membandingkan 3 sistem operasi berbeda yang tertanam dalam satu tablet dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Tablet Pyhton S3 sendiri, dibekali layar 11,6 inchi dengan resolusi 1.366 x 768 piksel . Tablet Python membenamkan prosesor Intel Celeron dengan RAM 8GB. Python S3 juga dibekali memori sebesar 128 GB berjenis SSD. Tablet multi boot OS ini ditawarkan dengan harga USD 770 atau sekitar Rp. 7,5 jutaan. Tertarik membelinya ?

Sumber: Ttechnomu
Oleh Aditya Panji

Aditya Panji/KompasTekno
Produk tablet berbasis Android dan Windows 8 yang memakai prosesor Intel yang dipamerkan di Intel Developer Forum (IDF) 2013

KOMPAS.com - Intel akan bekerja sama dengan sejumlah produsen komputer untuk membuat komputer dual OS yang mampu menjalankan dua sistem operasi sekaligus, yaitu Android dan Windows. Komputer ini akan dipamerkan Intel dalam ajang Computer Electronics Show 2014 di Las Vegas, Amerika Serikat, dari 7 hingga 10 Januari 2014.

The Verge melaporkan, ide dasar Intel adalah membuat Android berjalan dalam Windows menggunakan teknik virtualisasi. Sehingga, pengguna bisa membuka aplikasi Android dan Windows secara bersamaan tanpa harus me-reboot komputer.

Sebelumnya, Samsung pernah melakukan hal serupa melalui produk laptop Ativ Q yang dibekali desain layar sentuh. Asus asal Taiwan juga membangun sebuah komputer dual OS.

Rencana Intel ini nampaknya kurang berjalan mulus. Microsoft selaku empunya Windows, dikabarkan kurang setuju jika sistem operasinya disandingkan dengan Android.

“Microsoft tidak ingin ini terjadi,” kata Patrick Moorhead, analis utama di Moor Insights and Strategy. Menurutnya, selama ini Microsoft berusaha menggabungkan sistem operasi Windows dan Windows Phone, dengan tujuan menyatukan toko aplikasi keduanya.

Ide utamanya adalah, setiap aplikasi yang dibangun untuk salah satu sistem operasi Microsoft bisa bekerja di perangkat ponsel pintar maupun komputer pribadi. Nah, dengan menempatkan Android dan Windows dalam satu perangkat, akan mengacaukan rencana jangka panjang Microsoft tersebut.

Moorhead berpendapat, Microsoft bisa saja membujuk para produsen komputer untuk membatalkan rencana memproduksi komputer dual OS berbasis Windows dan Android.

Intel selama ini telah bekerja keras mengoptimalkan aplikasi-aplikasi Android dapat bekerja di prosesor berbasis arsitektur x86 buatannya. Kebanyakan aplikasi Android dimaksimalkan untuk prosesor dengan basis arsitektur ARM.

Sumber: Kompas


By


Ladies and gentlemen, welcome to the world of email. Yes, email! Sure, many of you have given up on the stuff in favor of more instant means of communication, but don't worry, because that's here too! Yes, the BlackBerry PlayBook, which was released 10 months ago, is now finally able to send messages all by itself. Sure, BlackBerry Bridge is still there and more useful than ever, tying the PlayBook even closer to your work-issued smartphone, but the 7-inch slate finally feels like it can stand a little more solidly on its own two feet.

Thankfully that's not all -- this recently refreshed tablet has a few other tricks up its sleeve, most notable being the ability to run some (focus on the some) Android apps without having to resort to any messy tweaks or hacks. The experience isn't entirely clean, nor does it quite feel like the refresh the "two dot oh" moniker implies, but it is a nice step forward. Click on through to see what you get.


Messages

No, the biggest point of discussion at the PlayBook's launch was what it couldn't do.

The biggest point of discussion at the launch of the PlayBook wasn't the thing's stout build quality, its stoic good looks or even its finger-friendly gestures. No, the biggest tale was what it couldn't do. It lacked a dedicated email app, had no concept of a calendar and couldn't even keep track of your contacts. Sure, there was a Gmail icon sitting there next to the other apps, but that was just a link to an optimized version of the web interface. It didn't fool anybody.

As we mentioned, more and more people are forgoing email for other means of communication and those still down with POP are largely sending their missives through some online service or another. But, for a platform that made a name for itself by producing the most email-friendly smartphones on the planet, producing a tablet by the same name that's completely ignorant to the stuff was a glaring oversight.

Of course, the PlayBook could send emails, but only when paired with a willing BlackBerry smartphone via the Bridge app. That 'ol Bridge is still here, which we'll discuss in just a moment, and now users are swimming in a wealth of messaging options. Both Bridge and Messages let you send and receive emails and, should you configure the same email account in both you'll get not one but two notifications with every email you receive! That is every bit as annoying as it sounds.


Thankfully Messages is much more than just email. Through it you can aggregate messaging from Twitter, Facebook and LinkedIn -- the most important social network for suits -- though you are limited to only one of each. (Sorry, Twitter schizos.) You can, however, have as many email accounts as you like, coming through Exchange, Hotmail, Gmail, IMAP, or POP.

Add a bunch and everything will be all jumbled together into a single view of what's going on. Every friend request, every Twitter DM and every desperate "Know of any openings?" message from that guy you used to work with that summer who quit in a huff and quickly had second thoughts. The integrated view is nice if you're a casual communicator, but if you're the social sort things quickly become overwhelming. Thankfully, with a tap in the list of accounts on the left you can display only content from that source, and you can also filter by folder (or label, in the case of Gmail).

While you can view other content, this is not a replacement for the various other social apps in there. For example, unlike the (generally quite good) Facebook app, in Messages you can only view messages, friend requests and events. No status updates here.

The email sending interface is clean and simple and pretty much everything you would expect. There's a box for "To," a box for "Cc," a third for "Subject" and, finally, the place where you type in the body itself. No, Bcc is not supported, but attachments thankfully are, and you can choose any file you like.

Contacts and Calendar


Yes, there are new applications to manage these things, too. We signed in with our Gmail and Facebook accounts and the tablet made quick work of our pending appointments, listing them all in a simple, straightforward calendar view. You can create new events and push them to any of those accounts, but the functionality is somewhat limited compared to the real thing. For example, you can create an event on your Google Calendar, but you can't specify anything more than a simple pop-up reminder.

The Contacts app is similarly functional, pulling down whatever your social networks want to serve up. However, it's not particularly smart. For example, we have plenty of friends in LinkedIn, Facebook and Twitter who appeared two or three separate times in the list. You can manually link them together if you're so inclined, but that sounds only marginally more entertaining than manually defragmenting your hard drive bit by bit.

Android

Happening across an Android app in the App World is a bit like winning the lottery: you're unlikely to do either by chance.

As nice as it is to finally have some proper integrated messaging, the most talked-about feature here is the ability to run Android apps right out of the box. You'll find them in the App World -- well, you might find them. RIM didn't want to make these stand out beyond the standard apps, so happening across an official APK is a bit like winning the lottery: you're unlikely to do either by chance.

So we specifically went looking for some clues on what to search for, and we had the most luck poking around the CrackBerry forums for posts by lucky winners. In this thread we found a short list of available apps and downloaded two: the Dolphin HD browser and Pool Break Lite.

The apps download and install quickly and smoothly enough, like any other app, and they're listed right next to any native apps with nothing untoward about their icons. Just make sure you save up a little extra patience the first time you run them. Select one and you'll be presented with a black screen telling you that the app is "initializing" and ask that you "please wait."


It's basically like rebooting the tablet, but thankfully that's just a one-time thing. Android apps will later load more quickly and, once in memory, seem to run well. We prefer the (still excellent) stock PlayBook browser to Dolphin HD, but that's not to say the other one doesn't swim very well in these unusual waters. It does.

We wanted to try out a little game performance, and are happy to report that Pool Break Lite too ran well. It admittedly isn't the most polygonally demanding of all titles in the world, and the multi-touch navigation in the app was a bit jumpy, but the tablet had no problem emulating the Android calls to make it run.

Developers will be glad to know that, after submitting their apps to App World, they can charge money if they wish, and indeed many already are. In-game ads are also supported, but RIM provides no Android support for its own BlackBerry ad services.

BlackBerry Remote

BlackBerry Remote will turn your Bold into the best HTPC remote on the planet.

The biggest new feature in the 2.0 version of BlackBerry Bridge, which ties your phone to your tablet, isn't actually directly related to Bridge at all. It's Remote, which adds the ability to use it as a very smart, very expensive remote control. Pair the two and you can use the phone's display like a trackpad, moving a cursor about the tablet and performing gestures on the edges. You can also use the phone's keyboard to type or enter a Presentation Mode for easy navigation through a PowerPoint hosted on the tablet.

It's really great, but what's even more great is that this works with any device -- any device that can talk to a Bluetooth mouse and keyboard, at least. We've seen this hooked up with PCs, Android tablets and more, so even if you don't have a PlayBook you'll be wanting to install the new Bridge app. It will turn your Bold into the best HTPC remote on the planet.

Print To Go

Docs To Go has been around since the beginning, giving simple viewing and editing for Office-like documents. New in 2.0 is Print To Go, which you're probably thinking gives the ability to print from your PlayBook. Actually it's the other way around. If you install the Print To Go client on your PC (no Mac support currently) you can print documents directly to your tablet, wirelessly. It shows up like a printer and anything sent through it can be easily viewed offline later. Nice and simple -- if you have a PC.

BBM

It's clear that RIM doesn't even want to bring it to its own platforms, and so we're going to go ahead and stop wondering about when it will show up on anyone else's.

This is the part where we'd like to write about how great the new BBM integration is with the PlayBook 2.0 OS but, sadly, we can't -- because there still isn't a BBM app outside of BlackBerry Bridge. Yes, you can BBM on the tablet if you have a tethered smartphone, but it's time to be able to do it without.

For a long time we wondered when, not if, BlackBerry would bring BBM to other platforms -- iOS, Android, we knew people who would pay real money to use it. Now, though, it's clear that RIM doesn't even want to bring it to its own platforms, and so we're going to go ahead and stop wondering about when it will show up on anyone else's.

Wrap-up



The PlayBook was clearly designed at the outset to only be used with a crutch, and that crutch is a smartphone. Using the tablet just felt a bit uncomfortable without a reassuringly blinking blue light from a nearby BlackBerry. With the 2.0 release the PlayBook is rather more independent, less codependant, but still far from a strong figure when stacked up against the competition. This is a positive refresh that current owners will want to apply as soon as is readily possible, but it won't bring many new users to the fold.

The Messages app fills a void and the Android app support is a nice plus, but the former is simply something that should have been there at the beginning and the latter offers far too limited selection now to be a proper selling point. Both feel like too little and both have arrived far too late. Sadly, the best new feature here is not on the tablet at all -- it's the BlackBerry Remote app for smartphones.