Slider
Featured Post (Slider)
Rumah - Interior
Kategori
- Arkeologi
- Arkeologi Dunia
- Arsitektur
- Bisnis
- Ekonomi Indonesia
- Elektronik
- Energi
- Fashion
- Game
- Halaman
- Inovasi
- Kebudayaan
- Kesehatan
- Kesehatan Jiwa
- Komputer - Game
- Komputer - Hardware
- Komputer - OS dan Software
- Komputer - Tips
- Komputer Sabak
- Komputer Sabak - Game
- Komputer Sabak - OS dan App
- Komputer Sabak - Tips
- Lalu Lintas
- Liburan
- Liburan - Tips
- Lingkungan dan Cuaca
- Media Sosial
- Motivasi Diri
- Motivasi Kehidupan
- Motivasi Kerja
- Motivasi Keuangan
- Motivasi Wirausaha
- Obat - Herbal
- Obat - Kimia
- Otomotif
- Otomotif - Asuransi
- Otomotif - Kebanjiran
- Otomotif - Tips
- Pendidikan
- Penyakit
- Peternakan
- Rangking Universitas
- Rumah - Eksterior
- Rumah - Interior
- Smartphone
- Smartphone - App
- Smartphone - OS
- Smartphone - Tips
- Teknologi
- Umum
- Universitaria
Recent Comments
Kesehatan
Artikel Popular
-
Oleh Tri Agus Yogawasista Kini hadir Pasar KITA dimana barangnya Segar, dan lingkungan belanja Bersih dan Nyaman! Pasar KITA ad...
-
By Alexandra Burlacu New Surface tablet computers with keyboards are displayed at its unveiling by Microsoft in Los Angeles, Californi...
-
WORLD ranking University Det. Country Presence Rank* Impact Rank* Openness Rank* Excellence Rank* 1 (3) Harvard University ...
-
By Luxigon As the sun tracks across the sky, the entirety of the building’s western façades transform image by luxigon New york-b...
-
JAKARTA - Pernah mencicipi aneka kue kuku macan? Hmm..nikmat sekali bukan. Tetapi pernahkah merasakan dicakar macan? Ih, amit-amit, janga...
-
Moto Kios Buku Gema (Gemar Membaca)™ : 1. Just DUIT (Do'a, Usaha, Ikhlas dan Tawakal) 2. Hari ini lebih baik dari hari kem...
-
Dalam mencatat kejadian-kejadian penting seperti hari kelahiran, pernikahan serta moment penting lainnya kadangkala kita hanya mencata...
-
Game JRPG untuk komputer dan pc sangat banyak di cari oleh kalangan pecinta game buatan jepang. Ada ciri khas tersendiri dari segi ...
-
JAKARTA - Selain coakan di balik hendel pintu mobil, ada bagian lain yang juga perlu diberi pelindung stiker agar terhindar dari lece...
-
By David Galbraith - Oobject.com In the early days of manned flight, people generally had no clue what they were doing. If two wi...
Portfolio
Motivasi Kerja
Travel
Performance
‹
›
Cute
My Place
Motivasi Kerja
Racing
Videos
Oleh Agie Permadi
Sindonews.com - Setelah sebelumnya menemukan tiga kerangka tengkorak di sekitar situs Candi Blandongan di Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, Tim BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Serang Banten kembali menemukan titik Situs candi terbaru di daerah tersebut.
Dengan adanya penemuan situs baru tersebut, kini titik situs candi di Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya menjadi 40 titik situs candi.
"Kalo dulu hanya 39 sekarang menjadi 40 setelah ada penemuan baru oleh tim dari Serang," kata Muralih, salah seorang pemelihara candi, yang di temui di situs Candi Jiwa, Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, Kamis (26/12/2013).
Penemuan situs baru tersebut di temukan pada tanggal 7 November, 2013. Namun sayangnya, pihaknya belum mengetahui pasti berapa besaran dan luas candi tersebut, bahkan nama titik candi pun belum diketahui. Kendati begitu, komplek situs candi di Kecamatan Batu Jaya yang luas keseluruhannya hampir mencapai 500 hektar atau 50 KM tersebut sedikit demi sedikit mulai terkuak.
Dikatakan, dari 40 situs titik yang ada, baru sekitar dua candi yang sudah dilakukan penggalian dan pembugaran. "Saat ini yang sudah baru dua, candi jiwa dan Blandongan. Bahkan candi Blandongan saja baru beres proses pemugaranan tinggal pembenahan halaman sekitarnya saja," katanya.
Sementara itu, Nasri, Pengelola museum batu jaya mengatakan bahwa wisata sejarah candi Jiwa tersebut di gandrungi wisatawan luar daerah dan wisatawan dari akademisi maupun pelajar. Hal tersebut terlihat dari data wisatawan yang datang ke tempatnya, setiap bulan hampir mencapai ribuan.
"Museum memang buka tiap hari, dan pengunjung juga selalu ada, kalo dilihat dari data statistik pengunjung yang datang ke tempat kami setiap bulannya hampir mencapai ribua, kalo yang ke situs mungkin lebih dari itu," katanya.
Dikatakan, rencananya pihak pengelola akan membuatkan jalan dari situs langsung ke museum, pasalnya banayak wisatawan setelah mengnjungi situs malas intuk ke musium, karena jalannya harus memutar. Untuk mengarahkan wisatawan mengunjungi museum maka pihaknya pun berencana akan membuat jalan dari situs menuju museum.
Saat ini, museum batu jaya telah menyimpan benda-benda peninggalan yang didapatkan dari berbagai situs candi yang tersebar di komplek situs Batu Jaya tersebut. Mulai dari gerabah, batu, manik, hingga arca dan tengkorak.
"Penemuan dari masing-masing candi tidak sama, karena bentuk dan ukuran bangunan candi juga beda-beda, arca kepala manusia di temukan di candi serut, sementara gerabah di blandongan, untuk candi jiwa hanya bata dengan bentuk kaki balita, dan candi lainnya juga ada penemuan lainnya juga. Mungkin itu karena setiap candi memiliki fungsi masing-masing juga," katanya.
Sementara itu, berdasarkan informasi jarak antara satu situs dengan situs lainnya di perkirakan sekitar 50 meter antar candi.
Sumber: Sindonews
Candi Blandongan
Sindonews.com - Setelah sebelumnya menemukan tiga kerangka tengkorak di sekitar situs Candi Blandongan di Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, Tim BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Serang Banten kembali menemukan titik Situs candi terbaru di daerah tersebut.
Dengan adanya penemuan situs baru tersebut, kini titik situs candi di Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya menjadi 40 titik situs candi.
"Kalo dulu hanya 39 sekarang menjadi 40 setelah ada penemuan baru oleh tim dari Serang," kata Muralih, salah seorang pemelihara candi, yang di temui di situs Candi Jiwa, Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, Kamis (26/12/2013).
Penemuan situs baru tersebut di temukan pada tanggal 7 November, 2013. Namun sayangnya, pihaknya belum mengetahui pasti berapa besaran dan luas candi tersebut, bahkan nama titik candi pun belum diketahui. Kendati begitu, komplek situs candi di Kecamatan Batu Jaya yang luas keseluruhannya hampir mencapai 500 hektar atau 50 KM tersebut sedikit demi sedikit mulai terkuak.
Dikatakan, dari 40 situs titik yang ada, baru sekitar dua candi yang sudah dilakukan penggalian dan pembugaran. "Saat ini yang sudah baru dua, candi jiwa dan Blandongan. Bahkan candi Blandongan saja baru beres proses pemugaranan tinggal pembenahan halaman sekitarnya saja," katanya.
Sementara itu, Nasri, Pengelola museum batu jaya mengatakan bahwa wisata sejarah candi Jiwa tersebut di gandrungi wisatawan luar daerah dan wisatawan dari akademisi maupun pelajar. Hal tersebut terlihat dari data wisatawan yang datang ke tempatnya, setiap bulan hampir mencapai ribuan.
"Museum memang buka tiap hari, dan pengunjung juga selalu ada, kalo dilihat dari data statistik pengunjung yang datang ke tempat kami setiap bulannya hampir mencapai ribua, kalo yang ke situs mungkin lebih dari itu," katanya.
Dikatakan, rencananya pihak pengelola akan membuatkan jalan dari situs langsung ke museum, pasalnya banayak wisatawan setelah mengnjungi situs malas intuk ke musium, karena jalannya harus memutar. Untuk mengarahkan wisatawan mengunjungi museum maka pihaknya pun berencana akan membuat jalan dari situs menuju museum.
Saat ini, museum batu jaya telah menyimpan benda-benda peninggalan yang didapatkan dari berbagai situs candi yang tersebar di komplek situs Batu Jaya tersebut. Mulai dari gerabah, batu, manik, hingga arca dan tengkorak.
"Penemuan dari masing-masing candi tidak sama, karena bentuk dan ukuran bangunan candi juga beda-beda, arca kepala manusia di temukan di candi serut, sementara gerabah di blandongan, untuk candi jiwa hanya bata dengan bentuk kaki balita, dan candi lainnya juga ada penemuan lainnya juga. Mungkin itu karena setiap candi memiliki fungsi masing-masing juga," katanya.
Sementara itu, berdasarkan informasi jarak antara satu situs dengan situs lainnya di perkirakan sekitar 50 meter antar candi.
Sumber: Sindonews
Arkeologi
Oleh Hanz Jimenez Salim
Liputan6.com, Jakarta : Mengarungi lautan, tak hanya dilakukan nelayan pencari ikan. Para arkeolog bawah air dari Pusat Arkeologi Nasional juga melakukan hal yang sama. Bedanya, mereka bukan untuk mencari ikan, melainkan menguak keberadaan situs sejarah di perairan Indonesia.
Baru-baru ini mereka berhasil menemukan sebuah bangkai kapal selam U-Boot milik tentara Nazi, Jerman, di perairan Laut Jawa, tepatnya di Karimunjawa, Jawa Tengah.
Salah satu dari tim arkeolog bawah air Pusat Arkeologi Nasional itu adalah Shinatria Adityatama. Dia menceritakaan sedikit kisahnya menyelam dan menemukan bangkai kapal itu.
Adit, sapaan akrab pemuda kelahiran Yogyakarta, 9 Desember 1987 ini, mengatakan dirinya baru mengetahui keberadaan bangkai kapal selam tersebut dari seorang nelayan di kawasan Karimunjawa. Tepatnya pada 2 tahun lalu. Ketika itu, dia bersama salah satu rekannya sedang melakukan hobi menyelamnya di daerah Karimunjawa.
"Saya lagi nyelam waktu itu, 2 tahun lalu. Saya tahu dari nelayan. Nelayan itu bilang kalau mau melihat ada kapal berbentuk tabung ada di tengah laut," kata Adit ketika ditemui di kediamannya di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2013).
Mendapat informasi itu, Adit tak langsung menyelam. Dia bersama temannya itu kemudian melakukan riset dan mencari tahu jenis kapal yang tenggelam tersebut. Tak hanya itu, Adit juga melapor ke Pusat Arkeologi Nasional.
Penasaran dengan infromasi keberadaan kapal selam yang karam itu, Adit yang pada saat itu masih menjadi mahasiswa Universitas Gajah Mada berniat bergabung dengan Tim Pusat Arkeologi Nasional. Usai lulus dari Fakultas Arkeologi pada 2012, rasa penasaran terhadap bangkai kapal selam itu agak sedikit terbuka.
Dia akhirnya berkeja sebagai peneliti di Pusat Arkeologi Nasional pada saat itu dan terus melakukan riset tentang keberadaan bangkal kapal selam tersebut. Setelah melakukan riset panjang, kemudian dibentuklah tim yang terdiri dari 16 orang untuk melakukan pencarian bangkai kapal tersebut.
Tim gabungan yang terdiri dari peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta, penyelam dari Sentral Selam Yogyakarta, serta beberapa penduduk lokal yang telah mengunjungi situs sebelumnya akhirnya bergerak mencari keberadaan kapal selam itu.
Tim tersebut berangkat tidak menggunakan kapal speed boat atau kapal mewah. Dengan menumpang kapal yang biasa mengangkut sembako yang disewa, mereka mulai bergerak. Tanggal 8 November 2013 malam, tim kemudian bergerak menuju lokasi situs. Adit menuturkan, lokasi situs itu berjarak sekitar 10 jam dari pulau Karimunjawa.
"Kami baru sampai ke lokasi pada 9 November dinihari. Tapi kami belum menyelam. Kami masih harus melakukan pencarian berjam-jam sebelum berhasil menemukan titik keberadaan bangkai kapal," tutur Adit.
Menurut Adit, tim baru terjun ke laut tempat kapal itu sekitar pukul 05.00 WIB. Tak mudah memang, 6 jam kemudian Adit dan timnya baru menemukan kapal itu sekitar pukul 13.00 WIB. "Kami mulai terjun ke situs sekitar jam 5 pagi dan baru berhasil ketemu kapal jam 1 siang," ucapnya.
Saat ditemukan tim penyelam, kondisi kapal hanya tinggal separuh. Bagian buritan kapal atau bagian belakang kapal sudah tidak ada. Namun kondisinya masih cukup baik untuk menunjukan bentuk kapal selam.
Proses pencarian dan pengangkutan sampal artefak dari bangkai kapal memakan waktu sekitar 3 hari. Selama rentang waktu tersebut, tim peneliti berada di tengah laut dan melakukan segala aktifitas mereka di atas kapal. "Tiga hari kami di atas kapal saja, segala aktivitas kami," ujarnya.
Dengan berbagai perlengkapan dan perbekalan yang sudah disiapkan, tim menghabiskan waktu selama 3 hari menetap di situs yang berada di tengah laut.
Dalam satu hari, ada 3 tim penyelam yang masuk ke dalam situs. Setiap tim yang terdiri dari 2-3 penyelam secara bergantian melakukan penyelaman sebanyak 2-3 kali dalam sehari. "Kami baru selesai tanggal 11 November karena cuacanya memang sudah tidak memungkinkan," jelas Adit.
Sebelum berangkat, tim memang sudah diingatkan bahwa dalam beberapa hari cuaca di laut akan memburuk dan berbahaya untuk melakukan pelayaran. Oleh karenanya tim berburu dengan waktu sebelum cucaca semakin memburuk.
Akhirnya setelah berjibaku di tengah laut selama 3 hari, tim kemudian kembali dan berhasil membawa beberapa sampel artefak untuk diteliti. Artefak tersebut di antaranya, 2 buah piring dengan lambang Nazi dan merk pabrik yang biasa memproduksi barang untuk keperluan angkatan bersenjata Jerman.
Menurut Adit, piring tersebut diperkirakan adalah piring produksi tahun 1939. "Kami hanya membawa beberapa sampel saja. Yang kami bawa itu, untuk kami teliti kembali," tambahnya.
Selain itu ditemukan pula kancing yang terdapat logo angkatan laut di atasnya, teropong binocular, kacamata selam, pipa untuk nafas, batre/aki, sol sepatu, penutup panel listrik, dan saklar instalasi listrik.
Meski berhasil menemukan berbagai jenis barang bersejarah itu, Adit mengaku masih belum dapat menemukan bukti kongkret dari jenis kapal selam yang karam itu. Tak hanya itu, Adit dan timnya juga belum dapat menemukan berapa awak di dalam kapal tersebut.
"Yang tidak kami temukan adanya buku-buku prajurit yang ikut dalam kru kapal. Dari catatan sejarahnya, setiap anggota Nazi yang ikut berlayar dengan kapal selam ini mempunyai buku tanda pengenal. Tapi itu sudah tidak ada, dan kami duga sudah hancur," jelasnya.
Sebagai seorang arkeolog, Adit menganggap pengangkatan bangkai kapal selam yang karam sekitar tahun 1944 itu tak perlu dilakukan. Menurut Adit, peninggalan sejarah yang berada di dalam laut sejatinya memang harus dibiarkan.
"Itu sebagai bukti kalau di negara kita ini, dahulunya juga menjadi saksi perjalanan sejarah dunia seperti kapal selam ini yang ada pada zaman perang dunia kedua," tutup Adit. (Eks)
Sumber: Liputan6
Kapal Selam Nazi (wikipedia.org)
Liputan6.com, Jakarta : Mengarungi lautan, tak hanya dilakukan nelayan pencari ikan. Para arkeolog bawah air dari Pusat Arkeologi Nasional juga melakukan hal yang sama. Bedanya, mereka bukan untuk mencari ikan, melainkan menguak keberadaan situs sejarah di perairan Indonesia.
Baru-baru ini mereka berhasil menemukan sebuah bangkai kapal selam U-Boot milik tentara Nazi, Jerman, di perairan Laut Jawa, tepatnya di Karimunjawa, Jawa Tengah.
Salah satu dari tim arkeolog bawah air Pusat Arkeologi Nasional itu adalah Shinatria Adityatama. Dia menceritakaan sedikit kisahnya menyelam dan menemukan bangkai kapal itu.
Adit, sapaan akrab pemuda kelahiran Yogyakarta, 9 Desember 1987 ini, mengatakan dirinya baru mengetahui keberadaan bangkai kapal selam tersebut dari seorang nelayan di kawasan Karimunjawa. Tepatnya pada 2 tahun lalu. Ketika itu, dia bersama salah satu rekannya sedang melakukan hobi menyelamnya di daerah Karimunjawa.
"Saya lagi nyelam waktu itu, 2 tahun lalu. Saya tahu dari nelayan. Nelayan itu bilang kalau mau melihat ada kapal berbentuk tabung ada di tengah laut," kata Adit ketika ditemui di kediamannya di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2013).
Mendapat informasi itu, Adit tak langsung menyelam. Dia bersama temannya itu kemudian melakukan riset dan mencari tahu jenis kapal yang tenggelam tersebut. Tak hanya itu, Adit juga melapor ke Pusat Arkeologi Nasional.
Penasaran dengan infromasi keberadaan kapal selam yang karam itu, Adit yang pada saat itu masih menjadi mahasiswa Universitas Gajah Mada berniat bergabung dengan Tim Pusat Arkeologi Nasional. Usai lulus dari Fakultas Arkeologi pada 2012, rasa penasaran terhadap bangkai kapal selam itu agak sedikit terbuka.
Dia akhirnya berkeja sebagai peneliti di Pusat Arkeologi Nasional pada saat itu dan terus melakukan riset tentang keberadaan bangkal kapal selam tersebut. Setelah melakukan riset panjang, kemudian dibentuklah tim yang terdiri dari 16 orang untuk melakukan pencarian bangkai kapal tersebut.
Tim gabungan yang terdiri dari peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta, penyelam dari Sentral Selam Yogyakarta, serta beberapa penduduk lokal yang telah mengunjungi situs sebelumnya akhirnya bergerak mencari keberadaan kapal selam itu.
Tim tersebut berangkat tidak menggunakan kapal speed boat atau kapal mewah. Dengan menumpang kapal yang biasa mengangkut sembako yang disewa, mereka mulai bergerak. Tanggal 8 November 2013 malam, tim kemudian bergerak menuju lokasi situs. Adit menuturkan, lokasi situs itu berjarak sekitar 10 jam dari pulau Karimunjawa.
"Kami baru sampai ke lokasi pada 9 November dinihari. Tapi kami belum menyelam. Kami masih harus melakukan pencarian berjam-jam sebelum berhasil menemukan titik keberadaan bangkai kapal," tutur Adit.
Menurut Adit, tim baru terjun ke laut tempat kapal itu sekitar pukul 05.00 WIB. Tak mudah memang, 6 jam kemudian Adit dan timnya baru menemukan kapal itu sekitar pukul 13.00 WIB. "Kami mulai terjun ke situs sekitar jam 5 pagi dan baru berhasil ketemu kapal jam 1 siang," ucapnya.
Saat ditemukan tim penyelam, kondisi kapal hanya tinggal separuh. Bagian buritan kapal atau bagian belakang kapal sudah tidak ada. Namun kondisinya masih cukup baik untuk menunjukan bentuk kapal selam.
Proses pencarian dan pengangkutan sampal artefak dari bangkai kapal memakan waktu sekitar 3 hari. Selama rentang waktu tersebut, tim peneliti berada di tengah laut dan melakukan segala aktifitas mereka di atas kapal. "Tiga hari kami di atas kapal saja, segala aktivitas kami," ujarnya.
Dengan berbagai perlengkapan dan perbekalan yang sudah disiapkan, tim menghabiskan waktu selama 3 hari menetap di situs yang berada di tengah laut.
Dalam satu hari, ada 3 tim penyelam yang masuk ke dalam situs. Setiap tim yang terdiri dari 2-3 penyelam secara bergantian melakukan penyelaman sebanyak 2-3 kali dalam sehari. "Kami baru selesai tanggal 11 November karena cuacanya memang sudah tidak memungkinkan," jelas Adit.
Sebelum berangkat, tim memang sudah diingatkan bahwa dalam beberapa hari cuaca di laut akan memburuk dan berbahaya untuk melakukan pelayaran. Oleh karenanya tim berburu dengan waktu sebelum cucaca semakin memburuk.
Akhirnya setelah berjibaku di tengah laut selama 3 hari, tim kemudian kembali dan berhasil membawa beberapa sampel artefak untuk diteliti. Artefak tersebut di antaranya, 2 buah piring dengan lambang Nazi dan merk pabrik yang biasa memproduksi barang untuk keperluan angkatan bersenjata Jerman.
Menurut Adit, piring tersebut diperkirakan adalah piring produksi tahun 1939. "Kami hanya membawa beberapa sampel saja. Yang kami bawa itu, untuk kami teliti kembali," tambahnya.
Selain itu ditemukan pula kancing yang terdapat logo angkatan laut di atasnya, teropong binocular, kacamata selam, pipa untuk nafas, batre/aki, sol sepatu, penutup panel listrik, dan saklar instalasi listrik.
Meski berhasil menemukan berbagai jenis barang bersejarah itu, Adit mengaku masih belum dapat menemukan bukti kongkret dari jenis kapal selam yang karam itu. Tak hanya itu, Adit dan timnya juga belum dapat menemukan berapa awak di dalam kapal tersebut.
"Yang tidak kami temukan adanya buku-buku prajurit yang ikut dalam kru kapal. Dari catatan sejarahnya, setiap anggota Nazi yang ikut berlayar dengan kapal selam ini mempunyai buku tanda pengenal. Tapi itu sudah tidak ada, dan kami duga sudah hancur," jelasnya.
Sebagai seorang arkeolog, Adit menganggap pengangkatan bangkai kapal selam yang karam sekitar tahun 1944 itu tak perlu dilakukan. Menurut Adit, peninggalan sejarah yang berada di dalam laut sejatinya memang harus dibiarkan.
"Itu sebagai bukti kalau di negara kita ini, dahulunya juga menjadi saksi perjalanan sejarah dunia seperti kapal selam ini yang ada pada zaman perang dunia kedua," tutup Adit. (Eks)
Sumber: Liputan6
Arkeologi
surya/david yohanes
Heri saat mengukur patirtan Semarum
TRIBUNNEWS.COM,TRENGGALEK - Penemuan bangunan terpendam dengan bata ukuran besar di Desa Semarum, Kecamatan Durenan, Trenggalek pada 2011 mulai diteliti oleh Balai Arkeologi Yogyakarta yang membawahi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hasilnya dipastikan bangunan tersebut berupa patirtan pada masa kuno.
Bangunan kuno terpendam tersebut berada di belakang rumah warga, Kaseni, Khosim dan Taji. Menurut Ketua Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Heri Praswanto, timnya sudah mulai menggali sejak Minggu (30/12/2012) lalu, dibantu Balai Pelestarisn Peningalan Purbakala (BP3) Trowulan dan Dinas Kebudayaan setempat. Penggalian tersebut dilakukan, sebab temuan bangunan terspendam tersebut diyakini sebagai salah satu kunci untuk mengungkap salah satu alur peradaban di Kabupaten Trenggalek.
“Kami meyakini, bangunan tersebut sebagai salah satu peninggalan purbakala yang strategis untuk mengungkap peradaban di Trenggalek,” terangnya, Kamis (3/2/2013).
Dari proses penggalian selama empat hari, tim sudah bisa menyimpulkan jika bangunan terpendam tersebut bekas sebuah patirtan. Patirtan ini bisa sebagai lokasi pemandian kaum bangsawan, atau sebuah bangunan untuk tata kelola air. Namun dengan temuan lain adanya terra kota, atau gerabah pemberat jaring diyakini bangunan tersebut lebih mirim sebuah dam kuno, dengan kedalaman mencapai 110 meter.
Dimana bagian atas terdiri dari tiga lapis batu bata, bagian tubuh terdiri dari enam lapir batu bata dan bagian pondasi terdiri dari tiga lapis batu bata.
“Kami belum bisa menyimpulkan, tapi keyakinan kami itu sebuah dam kuno untuk pola pengaturan air. Sebab kalau sebuah pemandian bangsawan agaknya teralu dalam,” tambahnya.
Hal lain yang menguatkan keberadaan sebuah patirtan, adanya endapan pasir halus di bagian dalam bangunan yang menandakan ada proses perendaman air. Sementara permukaan batu bata di bagian dalam juga nampak lebih rapuh di banding bagian luar, pertanda pernah terendam air dalam waktu lama.
Dari penelusuran tim, keberadaan patirtan Semarum tersebut merupakan satu rangkaian dari rantai peradaban. Di atas gunung di sisi utara desa ini terdapat sebuah kali yang disebut Ngasinan. Kali inilah yang menjadi sumber mata air utama. Dari Kali Ngasinan, ke bawah sedikit ada sebuah candi yang disebut Candi Brongkah, kemudian patirtan dan pemukiman warga, yaitu Desa Kamulan. Jika diruntut dari bawah, warga Kamulan akan pergi ke patirtan, menyucikan diri, sebelum melakukan persembahyangan di Candi Brongkah.
“Jadi keberadaan patirtan ini menjadi rangkaian sebuah proses kehidupan. Dimana keberadaannya selain untuk sumber kehidupan, juga untuk penyucian diri sebelum beribadah di Candi Brongkah,” katanya.
Lalu apa arti penting penemuan di Semarum? Heri menjelaskan, paska kemunduran Mataram Hindu di Jawa Tengah, kerajaan mulai bergeser ke Jawa Timur oleh Empu Sindok. Sebelum munculnya kerajaan Kadiri, ada proses peralihan peradaban dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Salah satunya adalah adalah di Trenggalek. Dengan kata lain, Trenggalek, khususnya Semarum diyakini sebagai salah satu cikal bakal lahirnya kerajaan di Jawa Timur.
“Trenggalek mempunyai sejarah panjang dari masa pra sejarah sampai masa kolonial. Mengungkap rahasia di Semarum akan membuka proses peradaban lain,” tuturnya.
Heri menyebut, penelitian yang dilakukan timnya masih penyelidikan tahap awal yang akan diteruskan lagi di tahun ini. Hasil penelitian akan disimpulkan secara komprehensif dan akan diwujudkan dalam sebuah rekomendasi ke BP3 Trowulan.
Arkeologi
Oleh Yunanto Wiji Utomo
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Jejak Peradaban Hindu Abad IX - Susunan batu bata merah besar yang merupakan bagian dari bangunan candi hasil ekskavasi Balai Arkeologi Yogyakarta di Dukuh Buloh, Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Jumat (20/7/2012). Bangunan candi yang diperkirakan abad IX dan X tersebut merupakan rangkaian sejarah peradaban Hindu di pesisir utara Jawa Tengah.
KOMPAS.com — Beragam peninggalan arkeologis dari masa manusia purba dan kerajaan Nusantara ditemukan tahun 2012. Di antara ragam penemuan, Kompas.com menampilkan 5 di antaranya yang baru dan menonjol.
Seluruh temuan bisa menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki sejarah peradaban yang luar biasa, tak kalah dengan peninggalan Suku Maya yang sempat membuat geger. Apa saja peninggalan arkeologis Indonesia tahun ini? Berikut uraiannya.
Situs bersejarah di parkiran McDonalds
Situs bernama Ketawanggede ini sebenarnya sudah ditemukan dua tahun sebelumnya, tetapi belum didaftarkan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan. Lokasi situs ini di Jalan Mayjen DI Panjaitan, Lowokwaru, Malang, Jawa Timur.
Situs bersejarah tersebut menjadi petunjuk adanya candi besar dengan arsitektur Hindu-Buddha masa Kerajaan Singosari dan Majapahit di wilayah Sungai Brantas. Candi tersebut menjadi tempat pemujaan Dewa Siwa.
Candi langka di Pati
Reruntuhan bangunan candi ditemukan di wilayah Pati. Candi ini tergolong langka karena diperkirakan merupakan candi yang berasal dari abad ke-8 hingga ke-10 tetapi sudah menggunakan material bata merah. Candi ini juga diduga lebih tua dari Prambanan dan Borobudur.
Penemuan candi ini juga merevisi dikotomi antara candi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selama ini, ada anggapan bahwa candi di Jawa Timur berbahan bata merah dan Jawa Tengah berbahan batu. Nyatanya, candi yang ditemukan di Pati ini berbahan bata merah.
Kapal kuno situs Kota China Marelan
Ekskavasi oleh 30 peneliti sejak 30 April 2011 membuahkan penemuan pecahan kapal kuno di situs Kota China Marelan, Sumatera Utara. Diduga, pecahan itu adalah bagian dari kapal yang berasal dari abad ke-12. Umur artefak masih perlu dikonfirmasi.
Selain pecahan kapal, arkeolog juga menemukan keramik, manik-manik kaca, serpihan emas, dan tahi besi. Menurut para arkeolog, situs Kota China Marelan pernah menjadi pusat perniagaan pada abad ke-11.
Kapak purba di Pati
KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI
Warga dan pengelola Situs Patiayam menunjukkan temuan kapak perimbas manusia prasejarah dan sejumlah fosil hewan purba di Rumah Fosil Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Minggu (11/11/2012). Temuan itu semakin mengukuhkan keberadaan manusia prasejarah yang pernah tinggal di wilayah cekungan tak jauh dari Pegunungan Muria itu.
Artefak kembali ditemukan di situs Patiayam. Sepanjang tahun 2012, ditemukan beberapa artefak di situs ini, di antaranya alat tulang yang diduga digunakan manusia jenis Homo erectus untuk mencari umbi-umbian.
Arkeolog juga menemukan kapak purba. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang mendiami situs Patiayam saat itu memiliki peradaban tinggi. Kapak genggam telah beberapa kali ditemukan di situs ini.
Banteng purba
Patiayam tidak hanya menyimpan artefak alat-alat yang digunakan manusia di masa lalu. Fosil banteng purba juga ditemukan di situs ini pada tahun 2012. Fosil itu diduga berasal dari masa 750.000 tahun lalu. Temuan ini menjadi petunjuk bahwa manusia dan hewan sudah hidup berdampingan di masa lalu.
Sumber
Sumber
Arkeologi
Ilustrasi - antarafoto.com
TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Hasil eskavasi di Situs Liyangan, yang dilakukan Balai Arkeologi dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, serta Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah kembali membuahkan hasil. Kali ini ditemukan beberapa struktur bangunan di berbagai titik.
Ketua Tim Eskavasi, Sugeng Riyanto mengatakan, penemuan itu antara lain, sebuah jalan kuno, dengan struktur batuan tertata rapi. Lebarnya kurang lebih empat meter, namun panjangnya belum diketahui. Jalan ini berada di kompleks peribadatan atau candi utama. Selain itu, ada batur, selasar, dan tembok beteng.
"Dari ekskavasi, sejauh ini di bawah dekat candi, ditemukan jalan dari batu. Kemudian di atasnya ada talud dari batuan bolder (batu kali). Di dekat batu bolder kami temukan lagi pagar dari batu putih, tingginya lebih dari dua meter, lebar kurang lebih 40 cm," ujarnya, Rabu (12/12).
Menurutnya, ekskavasi kali ini juga bertujuan untuk melanjutkan penggalian struktur talud dari bolder, dan struktur tangga yang sebelumnya ditemukan oleh penambang pasir. Kemudian membuka lagi struktur batur I di depan tangga, batur II di samping candi, serta satu batur di dekat sungai.
Situs Liyangan sendiri telah terbagi menjadi tiga bagian yakni sektor I (candi utama/tempat peribadatan), sektor II (tempat permukiman), sektor III (kawasan pertanian kuno).
Melihat pembagian sektor, menggambarkan bahwa kompleks Situs Liyangan dahulunya merupakan sebuah tempat hunian manusia yang perdabannya telah maju. Dibuktikan, di lokasi tersebut ada tempat peribadatan, permukiman, dan kawasan pertanian.
Sebelumnya, juga telah ditemukan pecahan keramik, tembikar, pecahan kaca, mata tombak satu sisi, serta onggokan padi yang telah terbakar. Lokasi penemuan berada 100 meter dari candi utama, tepatnya di lokasi permukiman warga. (Raditia Yoni Ariya/CN26/JBSM )
Sumber
Arkeologi
Salah satu peninggalan jaman Megalitikum (sumber: Ist)
Penemuan-penemuan benda bersejarah itu menjadi bukti tingginya peradaban di daerah itu.
Balai Arkeologi Palembang menemukan bukti baru zaman megalitikum di Goa Napal Licin, Kabupaten Musirawas. Bukti tersebut berupa gundukan batu dan peralatan zaman batu.
"Penelitian sebelumnya berhasil membuktikan adanya candi berupa gundukan batu bata," kata Kepala Balai Arkeologi (Balar) Palembang Nurhadi Rangkuti ketika dihubungi, di Palembang, Sabtu (28/12).
Menurut dia, sepanjang tahun 2012 pihaknya melakukan sejumlah penelitian khusus di Sumatera Selatan yang terbagi di beberapa lokasi.
Di Kabupaten Musirawas, penelitian difokuskan di kawasan Goa Napal Licin Kecamatan Ulu Rawas. Hasil penelitian menemukan, sejumlah candi dan bukti-bukti kehidupan manusia pra sejarah lainnya seperti peralatan batu.
"Indikasi benda megalitikum lainnya juga ditemukan berupa batu silendris yang bentuknya mirip dengan temuan di Jambi," kata Nurhadi.
Nurhadi menambahkan, pihaknya juga melanjutkan penelitian-penelitian pada sejumlah daerah, seperti di daerah Kabupaten Lahat, Pagar Alam dan Ogan Komering Ulu Selatan.
Penemuan-penemuan benda bersejarah, seperti lumpang batu, candi dan benda-benda megalitikum menjadi bukti tingginya peradaban di daerah itu.
Penulis: Antara/ Whisnu Bagus
Arkeologi
Warga Dusun Curup, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan menemukan tiga arca kepala manusia yang diduga merupakan peninggalan zaman prasejarah. Tiga arca kepala manusia itu diyakini berumur di atas 4.000 tahun.
Tiga arca itu ditemukan di pingir Sungai Cawang dengan kondisi kepala terpisah dari tubuh. Sementara, badannya sudah roboh tenggelam di pinggir sungai, satu lagi hanya terlihat bagian kepala dengan mata melotot, sementara bagian lain tertimbun tanah.
Posisi ditemukannya arca tersebut berada tepat di dua jalur sungai di antara bebatuan yang sudah tersusun rapi bertingkat-tingkat membentuk bangunan candi dan pintu gerbang sebuah kerajaan.
"Kami menemukan tiga arca peninggalan prasejarah muara Sungai Selangis besar dan kecil dengan posisi menempel di dinding bebatuan yang sudah tersusun rapi seperti anak tangga berukuran cukup lebar," kata Burlian warga setempat, Selasa (1/1) seperti dilansir Antara.
Penemuan arca tersebut berawal ketika dia hendak mencuci tangan setelah bekerja di kebun kopi di sekitar alur Sungai Selangis. Saat itu tidak sengaja terlihat bongkahan batu menyerupai kepala manusia masih menempel dengan kondisi retak hampir roboh.
"Ketiga arca ini semuanya masih dalam posisi menempel di dinding batu dan ada juga yang sebagian masih tertanam di dalam tanah dasar sungai," katanya.
Ia mengatakan, bentuk arca ini belum sempurna karena baru berupa goresan lingkaran mata bulat besar, masih belum menunjukkan bentuk tubuh manusia utuh.
Diperkirakan ukuran setiap arca bisa mencapai diameter 60-70 centimeter dengan tinggi sekitar 3 meter dan ukurannya sebesar hewan kerbau.
Dia menambahkan, kalau dilihat dari bentuk dan susunan batu yang bertingkat-tingkat menjadi bukti jika di aliran sungai ini banyak tersimpan megalit.
"Namun masih perlu dilakukan penggalian dan pembersihan lokasi bebatuan di sekitar penemuan arca, selain hutan belukar dan sudah tertimbun tanah cukup dalam," ujar dia.
Dia juga mengatakan, ada arca yang tenggelam di Sungai Selangis. Namun, arca itu dapat dilihat saat kondisi air sedang jernih.
"Memang di sekitar Dusun Cawang dan Curup sudah banyak penemuan beberapa peninggalan sejarah seperti megalit dan arca prasejarah yang sudah berumur ribuan tahun, dan termasuk masa Kerajaan Sriwijaya," katanya.
Sementara itu Arkeologi dari Balar Palembang, Kristantina Indiastuti memperkirakan arca tersebut berumur lebih dari 3.000 tahun.
"Kalau melihat dari bentuknya diperkirakan arca yang baru ditemukan warga Dusun Curup, Kelurahan Muarasiba, Kecamatan Pagaralam Utara itu merupakan peninggalan pra sejarah berumur lebih dari 3.000 hingga 4.000 tahun," kata dia.
"Namun untuk memastikan berapa umur dan peninggalan zaman apa temuan arca tersebut, masih perlu dibuktikan secara ilmiah dengan penelitian, memang penemuan benda bersejarah di Pagaralam cukup luar biasa," ungkapnya. [dan]
Sumber
Arkeologi
Ras Melayu secara genetika memiliki ciri adanya hemoglobin Malay yang tak dimiliki ras lain.
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Sangkot Marzuki menjelaskan, dari pemetaan genetika yang dilakukan 99 ahli genetika di Asia, terungkap orang Melayu lebih tua dibandingkan dengan orang China. Khususnya Yunan yang selama ini dianggap sebagai nenek moyang umumnya orang Indonesia.
Ras Austronesia, termasuk orang Melayu, lebih dulu ada dibandingkan dengan ras Chinotis-Belan, yaitu ras yang berbahasa China/Mandarin. Sangkot mengungkapkan hal itu dalam orasi ilmiahnya pada Dialog Budaya Melayu di Pekanbaru, Riau, Selasa (4/12).
Dialog diprakarsai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama dengan Lembaga Adat Melayu di Riau dan Pemerintah Provinsi Riau. Tampil pula memberikan orasi ilmiah budayawan Melayu, Tengku Nasaruddin Said (Tenas) Effendy. Dialog yang berlangsung tiga hari sejak Senin ini juga diisi berbagai diskusi mengenai perkembangan budaya Melayu di Indonesia, Malaysia, Brunai, Thailand, Singapura, dan Brunei.
Tenas Effendy mengingatkan, sekarang kehidupan budaya Melayu semakin berat karena menghadapi intervensi budaya luar yang belum tentu serasai dan sejalan dengan nilai asas budaya Melayu. Kehidupan masa kini dan masa depan yang semakin terdedah, semakin membuka peluang terjadinya pergeseran, perubahan, dan pengikisan nilai budaya Melayu.
Sangkot, yang menjadi bagan dari ahli getika di Asia Timur menyebutkan, Melayu merupakan ras perpaduan. Ras Melayu secara genetika memiliki ciri adanya hemoglobin Malay yang tak dimiliki ras lain.
(Zika Zakiya. Sumber: Kompas)
Sumber
Arkeologi
ilustrasi - kaskus.co.id
Prasasti Melayu Kuno tidak banyak diungkap. Padahal beberapa kalangan pakar dari bidang sejarah, arkeologi, maupun etnografi linguistik, menduga Kerajaan Melayu Kuno di Sumatra adalah kerajaan yang lebih tua daripada Sriwijaya, di awal-awal abad tujuh Masehi.
"Logikanya, prasasti Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu Kuno," tutur Dr. Ninie Susanti Y., ahli efigrafi dari Fakultas Ilmu Budaya UI dalam ceramah umum arkeologi yang bertajuk 'Menelisik Prasasti Melayu Kuno' bersama Masyarakat Arkeologi Indonesia di Museum Tengah Kebun, Jakarta Selatan, Selasa (7/2).
Berita tertua mengenai Melayu Kuno didapatkan dari berita Dinasti Tang di China, yang menulis kedatangan utusan dari Mo-lo-yeu (dibaca Melayu), tercatat pada tahun 644 dan 645.
Gambaran mengenai Melayu Kuno selalu tak terpisahkan dengan Sriwijaya. Menurut Ninie, ketika bicara Melayu tidak mungkin mengesampingkan peninggalan Kerajaan Sriwijaya pula. Keduanya merupakan kerajaan maritim yang sibuk dengan aktivitas perdagangan sehingga tidak meninggalkan prasasti-prasasti sebanyak kerajaan di Jawa.
"Mungkin benar kerajaan ini sudah sangat tua. Namun memang bukti-bukti yang sahih belum kita temukan," ujarnya. Tinjauan prasasti memang merupakan bukti paling otentik untuk mengungkap sejarah. Prasasti pun akan bercerita mengenai banyak hal. Makin banyak prasasti terdata, makin banyak sejarah yang dapat terungkap.
Meski demikian, bahkan sebagai seorang efigraf, Ninie mengakui, ia tidak bisa bertumpu pada prasasti-prasasti saja. Pendekatan baru ditemukan, mempergunakan data bantu dari bidang ilmu linguistik.
Persebaran bahasa Melayu Kuno ada di berbagai daerah di Pulau Sumatra, Jawa, hingga seluruh wilayah Nusantara. Juga di Semenanjung Malaya, Filipina, dan Thailand.
Tetapi berdasarkan penelitian leksikostatistik (mempelajari asal-usul suatu bahasa) oleh Prof. Harimurti Kridalaksana, dikaji serta disimpulkan bahwa muasal bahasa Melayu Kuno dari Sumatra. Sebab di Sumatra-lah, dialek regional bahasa Melayu terbanyak ditemukan.
Karena itu, Ninie berharap lahan penelitian sejarah Melayu Kuno yang masih terbuka lebar ini bisa ditekuni. Ia mengistilahkan, penelitian harus bersifat 'keroyokan' dari segala disiplin terkait, tak hanya dari satu sisi atau berjalan masing-masing.
"Saya masih mempunyai keyakinan. Belum tentu sejarah Melayu (Kuno) itu gelap. Mungkin hanya belum ada penelitian mendalam, penelitian tentang Melayu Kuno harus lebih digencarkan," tambahnya.
Sumber
Arkeologi
Orang katai dari Flores (Homo floresiensis) dianggap salah satu penemuan besar dalam dunia paleoantropologi.
Proses penggambaran wajah pada orang kerdil perempuan dari Flores (Homo floresiensis). (The Age).
Antropolog wajah dari University of Wollongong, Australia, Susan Hayes, berhasil memberi wajah pada tengkorak orang katai perempuan berusia 17.000 tahun yang ditemukan di Liang Bua, Flores, Nusa Tenggara Timur. Imaji dalam format 2D ini dirilis Senin (10/12) dan menunjukkan bahwa orang katai ini tidak memenuhi kriteria "cantik" manusia modern.
Dalam foto tersebut, perempuan katai ini berdagu rata dengan kening yang kurang apik. Namun, ditegaskannya jika mengenai orang katai dari Flores (Homo floresiensis) adalah mengenai ketepatan sains dan bukan mencari estetika. "Ia bukanlah perempuan cantik. Ia tak punya fitur feminim seperti mata besar atau kening yang menarik," kata Hayes.
"Wajah" ini didapatkan Hayes dengan imaji 3D beresolusi tinggi dan data CT scan dari tengkorak orang katai perempuan yang berusia 17.000 tahun. Informasi ini kemudian dimasukkan ke dalam program komputer grafis. Ini memungkinkan Hayes untuk merekonstruksi tengkorak yang ada. Wajah dan fitur lainnya kemudian ditambahkan berdasarkan struktur atribut tengkorak.
Hasil analisa ini juga mengkritisi hasil penggambaran sebelumnya yang memperlihatkan Homo floresiensis lebih mirip monyet. Sebab, penemuan Hayes menunjukkan Homo floresiensis memiliki lebih banyak fitur manusia.
Perbandingan tengkorak orang kerdil dari Flores (Homo floresiensis) (kiri) dengan Homo sapiens. Dalam hal ukuran, tengkorak Homo floresiensis sebesar tengkorak anak usia tiga tahun pada manusia modern. (Peter Brown/Nature/National Geographic News).
"Sebagai Homo floresiensis, ia (perempuan orang katai) lebih mirip kita dibanding simpanse --yang juga relatif dekat manusia," kata Hayes.
Homo floresiensis hidup di Flores pada 17.000 hingga 18.000 tahun lalu. Tulang belulang yang ditemukan pada tahun 2004 adalah perempuan, hanya bertinggi satu meter, dengan berat 25 kilogram.
Tulang ini ditemukan pada deposit sedimen yang sama berisi peralatan batu, tengkorak gajah kecil, hewan pengerat, dan komodo. Sisa belulang Homo floresiensis digali oleh tim Professor Mike Morwood pada tahun 2003.
Kecilnya ukuran tengkorak ini membuat Homo floresiensis dijuluki sebagai hobbit --karakter manusia mungil dalam novel "The Lord of The Rings" karya J.R.R Tolkien yang akhirnya juga difilmkan ke pentas Hollywood. Namun, mereka dianggap salah satu penemuan besar dalam dunia paleoantropologi sebagai manusia paling ekstrem.
(Zika Zakiya. Sumber: National Geographic News, The Age)
Sumber
Arkeologi
Oleh Abdul Lathif
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Salah satu peninggalan kerajaan Majapahit, Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini diperkirakan merupakan petirtan atau tempat mandi keluarga kerajaan yang dibangun sekitar abad ke-13 atau abad ke-14.
MOJOKERTO, KOMPAS.com -- Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) menggelar Jelajah Majapahit sebagai rangkaian perhelatan bertajuk Temu Pusaka Indonesia, Kamis (18/10/2012) di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Temu Pusaka Indonesia merupakan kegiatan tahunan, yang kali ini digelar di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Kegiatan Jelajah Majapahit yang diikuti tiga rombongan bus dan kendaraan lainnya dipimpin Wakil Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Pia Alisjahbana. Rombongan disambut oleh Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa di pelataran Candi Wringan Lawang, Desa Jatipasar, Trowulan.
Candi Wringin Lawang yang berbentuk gapura berukuran 13 x 11,50 meter dengan tinggi 15,50 meter pada masa kerajaan Majapahit adalah pintu gerbang kerajaan. Mustofa mengungkapkan, kerajaan Majapahit adalah cikal bakal Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang pada masanya mampu mempersatukan wilayah nusantara.
Dalam dua tahun terakhir, menurut Mustofa, sekitar dua ratus peninggalan Majapahit ditemukan dan akan terus dipelihara agar tetap lestari sebagai situs-situs peninggalan masa lampau. "Kita akan terus mengupayakan mengangkat peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit sebagai aset yang sangat berharga yang sudah puluhan tahun dibiarkan. Dengan demikian akan tumbuh kegiatan ekonomi kreatif, termasuk cinderamata dan makanan-makanan," katanya.
Dari Candi Wringan Lawang, rombongan Jelajah Majapahit mengunjungi Candi Brahu, Candi Gentong, Candi Tikus, Candi Bajangratu, dan Pusat Informasi Majapahit.
Temu Pusaka Indonesia, dibuka oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Kamis sore di Balai Kota Surabaya. Pembukaan dihadiri Ketua BPPI I Gede Ardhika, mantan Menteri Pariwisata era Presiden Abdurrahman Wahid.
Arkeologi
Oleh Aditya Revianur
DEPOK, KOMPAS.com - Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N Miksic mengatakan, pengaruh Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur sampai hingga Semenanjung Malaya. Kerajaan Majapahit, lanjutnya, dapat dikatakan menjajah daerah tersebut.
"Dalam kitab Negarakertagama yang ditulis Prapanca, Tumasik (Singapura) juga termasuk dalam jajahan Majapahit," kata Miksic dalam seminar Internasional Epigrafi dan Sejarah Kuna Indonesia di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu (5/12/2012).
Miksnic menambahkan, kerajaan di Semenanjung Malaya mencari perlindungan dengan tunduk pada raja Jawa.
Sebenarnya, lanjutnya, sejak masa Raja Kertanegara dari Singasari, semenanjung Malaya telah meminta perlindungan raja Jawa itu. Namun, puncak dari hal tersebut diketahui terjadi pada masa raja-raja Majapahit.
Menurutnya, dominasi Jawa di Semenanjung Malaya dapat diketahui dari peninggalan arkeologis di tempat tersebut. Peninggalan arkeologi lebih memperlihatkan pengaruh Majapahit di Semenanjung Malaya yang sangat kuat.
"Di wilayah Melayu ditemukan artefak berupa kesenian bermotif Jawa. Bentuknya adalah arca Kala Makara dan Dewi Prajnaparamita yang memperlihatkan ciri kesenian khas Jawa Majapahit. Selain itu, juga banyak ditemukan gerabah yang lebih berciri Trowulan. Ada kesinambungan yang terjadi antara hubungan Melayu dengan kerajaan Jawa (Majapahit)," tandasnya.
Ia menerangkan, bentuk definisi jajahan pada masa lampau dengan sekarang berbeda. Sebab, sistem penjajahan di masa kini lebih berarti monopoli. Padahal, hubungan antara Majapahit dan daerah jajahannya tidak seperti hal itu. Menurut sejarah, hubungan Majapahit dan Melayu bahkan saling menguntungkan.
Menurutnya, Majapahit kemungkinan besar hanya mengirim tentara ke daerah jajahannya dalam keadaan tertentu. Sebab itu, pengaruh Majapahit yang sangat mempengaruhi daerah jajahannya lebih berorientasi pada bentuk kebudayaan.
"Salah satu tanda kebudayaan itu adalah terakota. Kemungkinan besar bukan dibuat di Jawa tapi di Pattani (Thailand Selatan) yang meniru bentuk kebudayaan Jawa. Pengaruh Trowulan, Kebudayaan khas Majapahit, sudah ada di sana dan sangat mempengaruhi," tegasnya.
Bukti Arkeologi di Singapura Berorientasi ke Jawa
Miksic mengatakan, banyak tinggalan arkeologi di Singapura bercirikan artefak yang ditemukan di Jawa Timur. Menurutnya, di Stanford Road pernah ditemukan benteng kuno seperti yang ditemukan di Kota Jawa, Sumatera Utara.
Namun, seiring pembangunan di wilayah tersebut, benteng kuno lenyap. Bukti lain yang memperlihatkan pengaruh Jawa adalah Pancur Larangan.
"Pancuran di Singapura meniru di Candi Belahan, Jawa Timur. Banyak sekali persamaan antara penemuan arkeologi arsitektur di Singapura dan Majapahit," tambahnya.
Selain adanya kesamaan peninggalan arsitektur kuna berupa fitur, ada hal yang serupa dalam penemuan artefak. Penggalian yang dilakukan di Singapura memperlihatkan gerabah yang dipengaruhi kebudayaan Majapahit.
Selain gerabah, tandasnya, ada temuan mata uang kepeng China yang lazim digunakan Majapahit. Selain mata uang, ornamen artefak yang ditemukan di Keramat Iskandar Shah memperlihatkan kesamaan dengan bentuk pengarcaan Adityawarwan.
Arca Adityawarman ditemukan di Padang Roco Sumatera Barat. Figur Adityawarman tersebut, terangnya, berdasarkan bukti naskah kuna sangat dekat dengan kerajaan Majapahit.
"Menurut sumber naskah itu, Adityawarman dilahirkan di Jawa. Beberapa pusaka di Pagaruyung, Sumatera Barat, kemungkikinan besar dari masa Adityawarman yang ada kesamaan budaya dengan Majapahit," tandanya.
Lebih jauh ia menambahkan, dalam memperebutkan wilayah Singapura, Majapahit dan Siam atau Thailand sempat bertikai. Pada abad ke-14 M, Siam menyerang Singapura yang saat itu dikuasai pengaruh Majapahit. Namun, Majapahit tidak dapat ditundukkan Siam.
Pengaruh Majapahit di Singapura, lanjutnya, semakin dikuatkan di bukit Larangan. Bentuk itu, terangnya, adalah pendirian beberapa bangunan bata khas Majapahit yang didirikan utusan dari Jawa.
"Bukit itu kini menjadi rumah Raffles. Dulu di sana ada Candi Bata. Namun sejak rafles mendirikan bangunan di sana, semuanya hilang tak berbekas," pungkasnya.
Arkeologi
Sudah tak terhitung berapa ribu kali penggalian arkeologis dan penelitian di Trowulan, situs yang memendam kebesaran Majapahit.
Bagian poster National Geographic Indonesia edisi September 2012 yang menggambarkan suasana multikulturalisme di Ibu Kota Majapahit (Seni: Sandy Solihin)
Situs Trowulan yang berlokasi di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, menyimpan sisa keagungan Kerajaan Majapahit, sehingga terus diteliti. Menurut sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya, Hanan Pamungkas, Trowulan hampir dipastikan sebagai pusat Kerajaan Majapahit karena memiliki situs pemukiman padat penduduk.
Trowulan ditetapkan menjadi cagar budaya sesuai UU No. 11 Tahun 2010 dan sebagai laboratorium arkeologis terlengkap di nusantara dengan luas 99 kilometer persegi. Ratusan ribu temuan benda peninggalan, berupa artefak, ekofak, serta fitur yang diperkirakan berasal dari abad 12 hingga 15 Masehi, didapatkan dari cagar budaya Trowulan.
Pusat Arkenas hampir setiap tahun menjadwalkan macam-macam penggalian arkeologis di kawasan ini. Penelitian juga dilakukan para mahasiswa jurusan arkeologi, dosen arkeologi, peneliti, arsitek, dan ahli sejarah dari berbagai kampus dan lembaga penelitian. Sudah tak terhitung berapa ribu kali penggalian arkeologis dan penelitian di Trowulan.
Data Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur mencatat, penelitian telah dilakukan sejak 1815 oleh JW Bartholomeus Wardenaar, seorang peneliti kebangsaan Belanda.
Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Jawa yang didirikan pertama kali oleh Raden Wijaya. Kerajaan dan peradaban Majapahit mengalami keruntuhan sekitar awal abad ke-16. Raja yang tersohor di Majapahit ialah Hayam Wuruk dengan patihnya, Gajah Mada. Pada masa pemerintahan, mereka berdua membawa Majapahit ke masa kejayaan.
Berbagai upaya penelitian terus dilakukan di Trowulan demi mengungkap masa keemasan Majapahit. Namun, aktivitas industri batu bata makin menjamur saat ini bisa mengancam keberadaan peninggalan Majapahit di Trowulan yang masih terpendam.
Hanan Pamungkas menilai, penggalian arkeologis seolah berpacu dengan kerusakan yang terjadi di tanah Trowulan akibat industri batu bata tersebut. Hingga sekarang, 75 persen tanah peninggalan Kerajaan Majapahit pun sayangnya sudah rusak.
(Gloria Samantha. Sumber: Kompas)
Sumber
Arkeologi
Wanita di Lembah Baliem tampak menggunakan Noken
TRIBUNNEWS.COM JAKARTA- Tanggal 4 Desember 2012 ada 189 negara menyatakan Tari Saman menjadi harta tak benda, kemudian Subak, Bali. Kini, noken sebagai warisan dunia dari Papua.
Noken di ajukan ke Unesco bukan soal nilai tambah, melainkan fungsinya, "Bukan sekedar tempat membawa barang, tapi perekat sosial bagi manusia,".
Hal ini dutarakan Dra Diah Harianti M Psi mengutip pernyataan Wakil Menteri bidang kebudayaan, kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, usai meluncurkan Indonesia Berkarakter, Sabtu malam ( 3/12/2012)
Sementara menurut penjelasan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti berkenaan dengan kegiatan Indonesia Berkarakter baru-baru ini, ingin mencoba menyeimbangkan antara kemampuan yang sifatnya nalar dengan kemampuan yang sifatnya budi,kreatifitas, estetika,dan etika. Cerdas saja tidak cukup tapi harus cerdas dan berbudi.
Maka kita mengangkat Indonesia berkarakter itu sebagai program dari direktorat pendidikan dan kebudayaan, direktorat internalisasi nilai, memasukkan nilai-nilai ke dalam sistem pendidikan, supaya pendidikan itu tidak orientasi penugasan saja tetapi juga olah hati, olah raga, olah nurani sehingga karakter itu menjadi kuat.
Apa sebenarnya fungsi yang membuat seorang anak murid itu sukses dan gagal. Fungsi pokoknya di mana ? kok ada yang gagal ada yang pinter ada yang sukses. Jawabannya ternyata adalah konsistensi berkarakter, konsistensi kreatifitas. Yang membuat sukses itu adalah social skill. Jadi kalau di dalam istilahnya bukan hanya IQ tapi EQ, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana berinteraksi dengan orang lain dengan manusia lain.
Karena itulah maka kita mencoba Indonesia Berkarakter ini sebagai program-program yang akan masuk ke dalam pendidikan.
Dalam konteks sosialisasi dan kampanye media saat ini menurut Diah Harianti, coba mengemas nilai-nilai yang ada dalam keseharian dalam berbagai bentukmedia, antara lain pembuatan file, penyusunan advertorial, bulletin, iklan layanan masyarakat, CD pemuata film-film documenter dan jingle Indonesia berkarakter.
“Selain itu disamping pembuatan produk-produk bertemakan Indonesia berkarakter, juga dilakukan upaya kampanye ke 5 provinsi di luar Jakarta seperi Palangkaraya, Palembang, Makassar dan Bali dengan melibatkan para remaja anak-anak sekolah SMP dan SMA serta beberapa guru pendamping.
Terkait Noken sebagai warisan dunia menurut Wakil Menteri bidang kebudayaan, kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti,
sudah di ajukan sejak 4 tahun lalu namun waktu itu belum lulus dan masih mendapat revisi.
Harus ada perbaikan, harus ada filmnya, harus lengkap, harus ada penjelasan-penjelasan ilmiahnya. Yang jelas nilai tambah itu penting. Misalnya sebelum di kasih ini (noken) harganya Rp. 500.000, dengan dikasih ini menjadi Rp. 5.000.000, berarti kan 10 kali lipat, jadi sentuhan noken bisa mendongkrak kesejahteraan masyarakat papua dengan 10 bahkan 100 nilai tambah.
Jadi kita ingin seniman-seniman itu, pemerintah akan memfasilitasi, misalnya noken, kita akan memfasilitasi, 1000 produksi pertama pemerintah yang akan membeli.
Dalam pembuatan noken yang kecil kalau fokus bisa satu dua hari kalau selang seling itu bisa 2 sampai 3 minggu. Tapi kalau yang besar ini bisa sampai 1 tahun 3 sampai 4 bulan. Noken ini disebut noken emas. Karena di buat dari anggrek hitam, anggrek coklat dan anggrek kuning. Di daerah pesisir juga orang Papua menggunakan noken, namun yang terbuat dari kulit kayu. Dan dari berbagai suku.
Sekarang ini orang lebih cenderung menggunakan kantong plastik daripada menggunakan noken. Karena lebih mudah di dapat. Maka dari itu perlu di lindungi oleh Unesco.
Noken di pakai juga untuk menggendong anak, karena ventilasi udaranya aman. Karena menggunakan daun-daun pandan dan daun-daun lainnya. Sehingga aman untuk bayi. Dan noken juga memperkuat otot anak ketika di dalam noken. Anak pun jarang sakit.
Sumber
Arkeologi
TEMUAN BARU: Asmorejo (67) yang dikenal warga Grogol Kecamatan Plupuh Jawa Tengah dengan sebutan Pak Sinyur sedang memperlihatkan temuan fosil berupa lutut Gajah Purba beserta gading yang tidak utuh di rumahnya. Asmorejo adalah warga lokal yang berprofesi sebagai petani sekaligus pencari fosil di sekitar Sangiran. Sinyur paling banyak menyumbang temuannya ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Foto: Guslan Gumilang/Jawa Pos
Tawaran harga fosil gajah purba yang"jauh lebih mahal di pasar gelap tak menggiurkan hati Sinyur. Ratusan temuan purbakala dengan telaten dia setorkan ke"Museum Sangiran, meski rumahnya masih gedek dan berlantai tanah.
Anggit Satriyo Nugroho-Guslan Gumilang, Sangiran
DUA batu berbentuk silinder sepanjang 50 cm berdiameter sekitar 10 sentimeter itu dikeluarkan Sinyur dari dalam karung. Tanpa cemas atau khawatir, dia lalu menjemur dua batu tersebut di kebun belakang rumahnya di Desa Grogol Ledokan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Padahal, batu tersebut bukanlah batu biasa. Sinyur meyakini temuan itu adalah gading gajah purba (Stegodon trighonochepalus) yang telah membatu dan berubah menjadi fosil.
Gajah purba tersebut diperkirakan hidup di kawasan Sangiran 700 ribu tahun silam. Selama zaman itu, di Sangiran hidup tiga jenis gajah, yakni Stegodon, Mastodon, dan Elephas.
Sangiran merupakan situs arkeologi yang sejak 1996 tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (badan PBB yang mengurusi pendidikan, sains, dan kebudayaan). Wilayah seluas 56 kilometer itu terletak di lembah Bengawan Solo dan secara administratif masuk Kabupaten Sragen dan Karanganyar, sekitar 15 kilometer sebelah utara Solo.
Adalah Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, seorang paleontolog sekaligus geolog, yang memulai penelitian di Sangiran pada 1934. Di kawasan itu pula ditemukan fosil nenek moyang manusia pertama, Phitecanthropus erectus, yang lantas membuat nama Sangiran mendunia.
Pada zaman 700 ribu tahun lalu, Sangiran masih berupa kawasan hutan terbuka sebelum perubahan iklim mengubahnya menjadi sabana yang luas. Kini kontur alam di Sangiran berupa tebing-tebing dan tanah yang tandus.
Sinyur menemukan batu yang diduga gading tersebut di sebuah tebing tak jauh dari rumahnya. "Ini tadi baru saya temukan. Sayang, baru saya angkat, sudah putus jadi dua," kata suami Surati itu ketika ditemui Senin lalu (27/11).
Dia lalu membawa masuk fosil gading ke rumahnya yang berdinding gedek alias anyaman bambu. Tanpa perawatan khusus, fosil gading tersebut diletakkan pria 67 tahun itu di lantai rumahnya yang masih berupa"tanah. Di rumah tersebut, dia hanya tinggal bersama sang istri. Kebanyakan anaknya menjadi tenaga kerja di Malaysia.
"Ini harus cepat-cepat saya setorkan ke museum. Ini sudah jadi kewajiban. Ini aset negara," tegas bapak lima anak tersebut.
Museum yang dia maksud adalah Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) di Kecamatan Kalijambe, Sragen. Jarak museum tersebut dari rumahnya sekitar 7 kilometer. Karena itu, Sinyur pun harus menembus hutan jati dengan jalanan rusak berkelok.
Di pojokan rumahnya, dia memiliki banyak temuan. Namun, tidak berupa tulang-tulang satwa purba yang utuh. Fosil-fosil tersebut lebih tepat disebut remukan tulang, sehingga agak sulit diidentifikasi jenis fosil satwa yang dimaksud itu.
Namun, temuan paling dahsyat, ungkap Sinyur, terjadi dua tahun silam. Ketika itu, dirinya menemukan gading gajah yang masih utuh berukuran 2,5 meter. Gading tersebut sudah diserahkan ke museum.
Dia mengaku mendapat imbalan Rp 5,5 juta gara-gara penemuan tersebut. Gara-gara penemuan itu pula, Pak Sinyur diliput sejumlah media massa di Jawa Tengah.
Ya, saban hari, selain bertani di kebun yang tak jauh dari rumahnya, Sinyur adalah pemburu tulang belulang gajah purba di kawasan situs Sangiran. Aktivitas tersebut dia rintis sejak 14 tahun silam.
Nama asli Sinyur sebenarnya Asmorejo. Namun, karena pandai memperbaiki radio warga yang rusak, warga desa setempat memanggilnya Pak Insinyur alias Pak Sinyur. Padahal, dia sebenarnya hanya tamatan sekolah rakyat (SR, setingkat SD atau sekolah dasar) di Semarang.
Saat berburu tulang-tulang purba tersebut, modal Sinyur cukup peralatan sederhana, yakni dua linggis dan kuas besar. Dia lantas menembus belantara hutan di kawasan situs Sangiran yang berupa tebing dan jurang.
Menurut dia, di setiap tempat yang digali, pasti ditemukan tulang-tulang hewan purba. "Kangge kulo mboten angel. Wong kulo nduduk tanah mesti nemu (Bagi saya, menemukan fosil itu bukan pekerjaan sulit. Sebab, saat menggali, saya selalu menemukannya)," ujarnya.
Kemampuannya mengidentifikasi tanah yang menyimpan fosil purba tersebut berawal 14 tahun silam. Yakni, ketika Sinyur membeli sebidang lahan tak jauh dari rumahnya. "Tanahe menika kulo paculi pasire, terus disade (tanah itu saya cangkuli pasirnya, terus dijual)," ungkapnya.
Rupanya, di balik timbunan pasir tersebut tersimpan banyak fosil purba. Dia sering menemukan potongan tulang kerbau purba (Bubalus Paleo Karabau), kudanil (Hippopotamus), hingga gajah purba.
Namun, yang paling sering ditemukan adalah fosil gajah. Tak heran, selain lewat temuan tulang belulang manusia purba, Sangiran dikenal karena banyaknya penemuan tulang satwa purba berupa gajah. Saat ini, pintu gapura di kawasan museum tersebut juga berupa gading gajah berukuran besar.
Gara-gara pengalamannya itu, Sinyur jadi mengenal tanah yang menyimpan fosil tersebut. Selama ini, tanah yang menyimpan fosil selalu ditandai dengan adanya batu padas, yakni batuan putih yang keras dan sedikit pasir. Bila sudah menemukan tanah dengan ciri seperti itu, dia yakin di bawahnya tersimpan fosil.
Namun, Sinyur selalu menyerahkan semua temuannya yang berjumlah ratusan ke museum. Padahal, kalau mau "nakal", dirinya bisa saja menjual temuan tersebut kepada pedagang gelap. Tentu, imbalan yang didapat jauh lebih besar.
Banyak kawan Sinyur yang menempuh jalan tersebut. Kehidupan mereka pun kini sudah lebih mapan. Bahkan sampai memiliki rumah keren, mobil mewah, dan bisnis suvenir yang mapan.
Akhir-akhir ini, kawasan Sangiran memang dirundung persoalan perdagangan gelap fosil. Warga yang menemukan fosil diam-diam tak menyetorkannya ke museum, melainkan menjualnya ke makelar, lalu ditransaksikan dengan pihak asing.
Warga nekat melakukan itu karena dibekap persoalan ekonomi. Hal tersebut tak lepas dari kondisi lahan di Sangiran yang tidak terlalu subur untuk bercocok tanam. Jadilah satu-satunya jalan untuk mendapat uang dengan cepat adalah berdagang fosil.
Pihak berwenang sebenarnya sudah memasang banyak papan pengumuman berisi ancaman pidana bagi warga yang nekat berdagang fosil. Papan-papan tersebut terpacak di sudut-sudut kampung kompleks situs Sangiran seluas 56 km persegi itu. Tapi, tetap saja pasar gelap perdagangan fosil terus berlangsung.
Namun, Sinyur tak mau menempuh langkah itu. Bagi dia, berburu fosil lalu menyerahkannya kepada pihak berwenang lebih memuaskan batin ketimbang mencari materi. Bahkan, uang yang diterima dari museum kerap dibagi-bagikan kepada teman-temannya sesama penggali fosil.
"Kalau langsung dijual ke pedagang gelap, sebenarnya saya bisa langsung membikin tembok rumah. Tapi, apa ya harus begitu" Rasanya kurang pas," ucapnya.
Oleh museum, fosil gading gajah dihargai tak sampai Rp 1 juta. Padahal, bila dijual kepada pedagang gelap fosil, harganya berlipat-lipat sampai menembus Rp 50 juta.
Gara-gara ketekunannya menyetorkan fosil ke museum itu, pihak museum menyebut Sinyur sebagai kontributor alias penyetor fosil paling banyak. Namanya juga masuk dalam sebuah buku perjalanan Museum Sangiran.
Kemampuan Sinyur mengidentifikasi tanah yang menyimpan fosil tersebut juga dimanfaatkan para mahasiswa arkeologi untuk belajar. Sejumlah peneliti arkeologi juga kerap bertandang ke rumahnya sekadar untuk berdiskusi soal penemuan fosil tersebut.
Para peneliti itu ingin belajar mengidentifikasi tanah yang di dalamnya menyimpan fosil. "Kalau ikut terus, pasti capek. Ada yang pernah ikut, lalu kakinya keseleo. Sebab, naik turun jurang," ujarnya.
Sutanto, seorang warga di kawasan Kalijambe, Sangiran, mengungkapkan, selama ini museum cukup rendah menghargai temuan fosil. "Saya pernah dengar, temuan gading hanya dihargai Rp 250 ribu dan diberi piagam. Padahal, untuk mengangkutnya ke permukaan tanah, butuh waktu sampai dua hari. Ya warga langsung bereaksi, piagamnya langsung disobek-sobek," ucapnya.
Dia menambahkan, menemukan fosil di situs tersebut memang serbadilematis. Selama ini, museum tak selalu mau menerima fosil yang tak utuh. "Namun, bila pecahan fosil dijual ke pedagang gelap, justru jadi masalah. Kami warga jadi serbasalah," katanya. (*/c5/ttg)
Arkeologi
KOMPAS/LASTI KURNIA
Mulai dari replika hingga fosil tengkorak manusia purba Sangiran hadir di tengah pusat perbelanjaan modern Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (15/11/2012). Selain fosil manusia purba, ditampilkan juga fosil hewan purba dan berbagai peralatan dari masa silam. Koleksi tersebut berasal dari Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, sebagai upaya memperkenalkan sejarah kepada generasi muda.
KOMPAS.com - Ribuan fosil purba di Sangiran yang masih terpendam di dalam tanah dimungkinkan akan muncul ke permukaan. Hal ini bisa terjadi karena struktur tanah di Sangiran yang mudah tererosi dan patah ketika musim hujan tiba.
"Saat ini fosil yang ditemukan masih sekitar 20 persen, sedangkan sisanya masih terpendam di dalam tanah. Sangat dimungkinkan sekali ketika musim hujan tiba, fosil-fosil ini akan tergali sendiri ke permukaan," papar Kepala Seksi Pengembangan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Rusmulia Ciptadi, di sela-sela acara Pameran Museum Manusia Purba di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (29/11).
Sangiran yang dideklarasikan sebagai situs manusia purba oleh Van Konigswald pada 1934 silam merupakan daerah dengan karateristik tanah yang unik. Tanah Sangiran berasal dari endapan abu vulkanis, material lahar dari Gunung Lawu Purba dan Gunung Merapi Purba.
Ketika hujan, tanah ini mudah tererosi dan membentuk endapan. Saat itulah, fosil-fosil akan terangkat dengan sendirinya ke permukaan. Kekhasan lainnya adalah ketika terangkat di permukaan, fosil-fosil ini masih awet.
Rusmulia menjelaskan, fosil yang terpendam ini tersebar di 22 desa yang mencakup Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah. Fosil ini bisa mencakup manusia, binatang, serta fauna, ditambah dengan alat berburu mereka.
"Penemuan terakhir adalah penemuan kaki gajah. Kami masih menanti penemuan-penemuan berikutnya karena Sangiran tidak akan pernah mati," tambahnya.
Tiga museum baru di Sangiran
Dalam pengembangan situs Sangiran, pada tahun 2014 akan dibangun tiga museum baru di luas area 56 kilometer persegi yang tersebar di 22 desa. Tiga museum ini adalah klaster Dayu (penelitian arkeologi mutakhir), klaster Ngebung (sejarah penemuan), dan klaster Bukuran (history of Java Man).
Budi Sancoyo, Kasubag Tata Usaha Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menjelaskan, museum ini lebih bersifat khusus dan diharapkan menjadi lokasi penelitian. "Koleksinya yang paling banyak tetap berada di klaster Krikilan atau Museum Purba Sangiran yang jumlahnya mencapai 31 ribu. Sementara itu, di museum khusus tersebut, pengunjung dapat belajar lebih detail tentang evolusi manusia," papar Budi.
Ia menambahkan penemuan fosil-fosil terakhir yang masih terpendam dalam tanah juga akan dimasukkan sesuai dengan karateristik museum khusus. Dengan demikian, pengunjung tidak kesulitan bila ingin melakukan penelitian.
Sementara itu, terkait dengan pameran Museum Purba Sangiran di lima kota: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar, yang berlokasi di salah satu pusat perbelanjaan, Budi mengaku untuk meningkatkan kecintaan serta wawasan masyarakat terhadap manusia purba.
"Dengan pameran di mal, mereka tidak perlu kerepotan untuk datang ke Sangiran. Kami menilai cara ini efektif karena mal selalu didatangi banyak orang.Selama ini kunjungan ke museum masih sangat kurang," tambahnya.
Salah satu pengunjung, Desi Aiz (20) mengapresiasi positif pameran di pusat perbelanjaan. "Saya belum pernah ke Sangiran dan lewat pameran ini kami menjadi tahu isi museum itu," kata Desi.
Situs Sangiran pertama kali dikenal sebagai situs purbakala sejak tahun 1930-an ketika Van Es memetakan daerah Sangiran. Pada tahun 1934,situs ini dideklarasikan sebagai situs manusia purba oleh Von Konigswald dan tahun 1997 masuk sebagai cagar budaya.
Akhirnya situs ini ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya No.C 593 tahun 1996. Masuknya Sangiran sebagai warisan budaya dunia karena merupakan kunci dan lokasi penting dalam evolusi manusia, fauna, serta lingkungannya selama 2,4 juta tahun lalu tanpa terputus. (Olivia Lewi Pramesti)
Arkeologi
Langganan:
Postingan (Atom)






















Recent Comments