Select Menu

ads2

Slider

Featured Post (Slider)

Rumah - Interior

Recent Comments

Kesehatan

Social Icons

google plus facebook linkedin

Artikel Popular

Portfolio

Motivasi Kerja

Travel

Performance

Cute

My Place

Motivasi Kerja

Racing

Videos

Ilustrasi. (Foto: Corbis)

JAKARTA - Indonesia semakin menarik di mata para investor. Bahkan para investor di New York Stock Exchange (NYSE) berebut untuk melakukan investasi pada perusahaan Indonesia.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mencontohkan, penawaran obilgasi Danareksa yang menuai begitu banyak peminat di NYSE. Hal tersebut terungkap kala Danareksa melakukan roadshow obligasi.

"Di New York, investor membludak. Lebih banyak dari yang kita harapkan. Indonesia di New York luar biasa, banyak yang tertarik untuk berinvestasi," ungkap dia usai rapat pimpinan BUMN di Danareksa, Jakarta, Selasa (9/10/2012).

Dia mengatakan, dalam roadshow yang dilakukan, banyak investor di NYSE yang datang untuk melakukan penawaran. "Investor itu selalu bergantung kebutuhan kita. Tapi kita tidak akan mengambil pendanaan berlebihan," kata dia.

Dia melanjutkan, Danareksa memang mengutamakan penawaran pada investor lokal. Menurutnya, berkat ciamiknya kerja Danareksa, maka BUMN sekuritas tersebut memiliki pelanggan tetap.

"Biasanya kita sudah habis di domestik, kita sudah punya investor loyal. Mereka enggak perlu default, mereka malah minta jumlahnya besar. Tapi itu tak sesuai dengan kebutuhan," tukas dia. (mrt)

Sumber
Ilustrasi. (Foto: Corbis)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan optimisme investor global terhadap prospek tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat. Peningkatan tersebut ditandai oleh derasnya arus modal masuk ke Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah tercatat berada diperingkat kedua tertinggi di Asia setelah China. Hal tersebut menjadi salah satu pemicu keyakinan investor global berinvestasi di Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Persepsi investor global terhadap aset portofolio Indonesia makin positif," ungkap Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (12/10/2012).

Perry menyebutkan, di saham misalnya, dengan pertumbuhan ekonomi 6,3 persen pada triwulan ketiga dan merupakan pertumbuhan tertinggi nomor dua di Asia, perolehan laba perusahaan-perusahaan publik kita masih rata-rata di atas 20 persen.

"Ini membuat price to earning ratio (PER) kita tetap menarik," tutur Perry.

Optimisme investor global itu, menurut Perry, tercermin dari semakin derasnya arus modal masuk terlihat dari investasi asing langsung yang naik menjadi USD5,3 miliar pada kuartal ketiga tahun ini dari USD3,7 miliar pada kuartal sebelumnya.

"Arus modal yang deras masuk, naik menjadi USD5,3 miliar di kuartal ketiga, dari sebelumnya hanya USD3,7 miliar," tukas Perry. (ade)

Sumber
SHUTTERSTOCK 
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis di Eropa yang masih terus memburuk berisiko besar pada perekonomian Indonesia dan negara-negara Asia. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap relatif tinggi, bahkan nomor dua di Asia setelah China. Diversifikasi pasar ekspor Indonesia menunjukkan hasil.

Ekonom Senior Standard Chartered Indonesia, Fauzi Ichsan, di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/10/2012), memprediksi, tahun ini pertumbuhan Indonesia sangat mungkin berada pada posisi nomor dua tertinggi di Asia setelah China. Ia memperkirakan tahun 2012 pertumbuhan Indonesia bisa melaju hingga level 6,3 persen, di bawah China dengan pertumbuhan 7,7 persen.

”Indonesia adalah salah satu negara yang terimbas krisis global dan dampaknya masih terbatas dibandingkan, misalnya, negara tetangga,” kata Fauzi.

Ia memprediksi, kendati pertumbuhan ekonomi dunia melambat, posisi China, Indonesia, dan India masih terlindungi dari rentannya ekonomi global. Bahkan, posisi Indonesia diperkirakan terus membaik dan diperkirakan tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,5 persen.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan Kompas Cyprianus Anto Saptowalyono di Nagoya, Jepang, mengatakan, untuk mengurangi dampak negatif pertumbuhan ekonomi global yang lebih rendah daripada perkiraan semula, pemerintah akan menjaga mesin-mesin pertumbuhan ekonomi domestik. Karena itu, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengurangi dampak terhadap perekonomian dalam negeri.

Langkah-langkah kebijakan tersebut, kata Hatta, antara lain, adalah menjaga daya beli masyarakat. Hal ini dilakukan dengan mengendalikan laju inflasi, yang diimplementasikan dengan menjaga kelancaran distribusi barang. Pemerintah juga menerapkan kebijakan mengurangi pengaruh musiman terhadap harga pangan di dalam negeri.

Pemerintah juga mendorong pertumbuhan dan penyebaran investasi melalui perbaikan iklim investasi. Langkah lainnya dengan diversifikasi ekspor. ”Dalam hal negara tujuan ekspor, kita sudah lebih terdiversifikasi dibandingkan pada masa sebelum resesi global pada 2008-2009,” kata Hatta.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, strategi diversifikasi ekspor Indonesia yang dimulai tahun 2011 guna meredam dampak krisis Eropa sudah menunjukkan hasil. Volume dan nilai ekspor ke negara-negara nontradisional mulai meningkat.

Menurut Bayu, kelesuan ekonomi dunia telah berdampak serius bagi kinerja ekspor Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2012 mencapai 14,12 miliar dollar AS, turun 12,27 persen dibandingkan dengan ekspor Juli 2012. (ENY/SON/DMU)

Sumber
Ilustrasi. (Foto: AP)

JAKARTA - Salah satu yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri adalah masyarakat menengah. Masyarakat menengah ini dilihat dari pendapatan menengah.

Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar, mengatakan saat ini kelas menengah Indonesia mencapai 45 juta orang. Menurutnya, pertumbuhan ini mengalami peningkatan tiap tahunnya.

"Bila peningkatan lima sampai enam persen per tahun maka dari 2011 ke 2030 akan ada 95 juta kelas menengah kita. Paling besar 125 juta ditambah dengan 45 juta sekarang," ungkap Mahendra Siregar, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (5/10/2012).

Mahendra mengatakan, Kelompok menengah di Indonesia saat ini telah menjadi motor perekonomian indonesia. "Struktur demografi berbeda dengan negara maju," katanya.

Menurutnya, kelas menengah turut serta menjaga dan meningkatkan perekonomian selama 10 tahun sejak krisis 1998 hingga 2008 di tengah krisis global. "Memfasilitasi kelas menengah baru menjaga meningkatkan optimisme perekonomian di tengah krisis global," ujar mahendra.

Mahendra mengatakan, pada 2011 Bank Dunia menyatakan penduduk Indonesia berpendapatan relatif besar serta memiliki keterampilan yang tinggi. "Bank Dunia mengatakan penduduk Indonesia pendapatan kelas menengah dua hingga USD20 per hari pada 2011. Usia produktif jauh lebih tinggi demographic defident 2040," ujarnya. (mrt)

Sumber
Ilustrasi. (Foto: Corbis)

JAKARTA - Perekonomian global diperkirakan masih akan melambat karena belum pulihnya ekonomi Amerika Serikat (AS) ditambah melambatnya ekonomi China dan India. Namun, perekonomian Indonesia masih dalam keadaan stabil dengan adanya sentimen negatif tersebut.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengungkapkan perekonomian domestik masih tumbuh cukup baik walaupun tidak setinggi prakiraan semula. Darmin menilai ekonomi Indonesia pada triwulan III-2012 akan sedikit terkoreksi.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2012 diprakirakan sebesar 6,3 persen, lebih rendah dari prakiraan sebelumnya akibat penurunan kinerja sektor eksternal," katanya di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Kamis (11/10/2012).

Dia mengungkapkan, meskipun konsumsi dan investasi yang berorientasi permintaan domestik tetap tumbuh tinggi, penurunan ekspor telah berdampak pada penurunan produksi dan investasi yang berorientasi ekspor.

"Ke depan, pertumbuhan ekonomi masih akan ditopang oleh permintaan domestik yang cukup kuat dan potensi membaiknya ekspor meskipun masih dibayangi oleh ketidakpastian perekonomian global," kata dia.

Hal tersebut juga didukung oleh masih cukup kuatnya sumber pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Jawa. Dengan perkembangan tersebut, ekonomi Indonesia untuk keseluruhan 2012 sebesar 6,1-6,5 persen sementara untuk 2013 diprakirakan pada 6,3-6,7 persen. (mrt)

Sumber


New manufacturing plant will create 1 million jobs in the region, where the average monthly wage is $100 a month

The market leading computer manufacturer Foxconn is planning a new $1 billion facility in Indonesia.

The new manufacturing plant will create around 1 million jobs in the region. Foxconn is currently discussing its plans with the Indonesian Ministry of Industry.

Foxconn already operates several manufacturing plants in China and Brazil, where it assembles electronic goods for many of the world's biggest technology companies.

In a statement released yesterday, the company says it was attracted to Indonesia over Malaysia and Vietnam due to its high rate of economic growth - around 6 per cent a year. It also noted that the region is "sorely in need" of formal jobs, giving it a large workforce used to wages of around $100 a month.

"We are looking forward to establish a new manufacturing plant in Indonesia, although nothing is finalised yet," a Foxconn representative in a statement. "This will help us in manufacturing good quality products and make them available in the markets at lower prices. With this, Indonesians will also get better employment opportunities. We will continue our efforts in establishing more manufacturing plants across the globe."

Foxconn has attempted to raise the standard of working and living conditions in its huge factories due to widespread reports of accidents, fatalities and suicides. However, despite the evidence, demand for jobs at the company's factories in countries like China remains high.

Source: Gamesindustry
-

Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI, Iman Pambagyo, memimpin pertemuan bilateral antara Indonesia dengan Brasil disela ASEAN Latin Business Forum (ALBF) 2012 di Jakarta, Senin (9/7). (FOTO ANTARA/Ismar Patrizki)

Jakarta (ANTARA News) - Dua perusahaan asal Brazil, Embraer dan Embrapa, menyampaikan minat untuk berinvestasi di Indonesia.

"Kami belum (membahas) sampai detail, kami membicarakan peluang (kerjasama)," kata Direktur Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo, selepas pertemuan bilateral Indonesia-Brazil pada ASEAN-Latin Business Forum 2012 di Jakarta, Senin.

Iman mengatakan pertemuan perwakilan pemerintah dan bisnis antar kedua negara merupakan pertemuan lanjutan setelah pertemuan tingkat menteri.

Embraer merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Brazil yang bergerak di sektor pertanian. Perusahaan itu juga melakukan riset pertanian yang bekerjasama dengan Kementerian Pertanian Brazil.

Sedangkan Embraer merupakan perusahaan pembuat pesawat terbang komersial, militer, dan pesawat pribadi. Embraer terkenal sebagai perusahaan pesawat terbang ketiga sedunia.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri mengatakan, dua perusahaan industri makanan dan industri transportasi Brazil tertarik untuk berinvestasi.

"Perusahaan terkait transportasi itu perusahaan kedua terbesar di Brazil dan (perusahaan) terkait makanan itu (terbesar) ketiga. Keduanya berkontribusi sekitar 20 persen bagi produk domestik bruto Brazil," kata Chatib.

Chatib mengatakan BKPM tidak menaruh harapan yang besar, tapi lebih mementingkan bagaimana investasi itu dapat dilakukan. (I026)

Oleh Asnil Bambani Amri, Reuters


LONDON. Hasil riset dari Nielsen menyebutkan, indeks kepercayaan konsumen global merosot di kuartal II dibanding kuartal sebelumnya. Namun kondisi sebaliknya terjadi di Indonesia yang justru mencatat kenaikan indeks kepercayaan konsumen pada kuartal II tahun 2012 bahkan tertinggi dari negara-negara berkembang lainnya termasuk China.

Laporan indeks konsumen ini disampaikan dalam laporan yang dirilis Nielsen, Senin (16/7) lalu. Dalam laporan itu menyebutkan, indeks kepercayaan konsumen di Indonesia kuartal II bisa juga bisa mengalahkan India, yang selama ini selalu berada di atas Indonesia. "Konsumen di Indonesia optimistis karena sepanjang tahun ada upgrade peringkat investasi dari Moody`s dan Fitch, " kata Catherine Eddy, direktur pengelola, Nielsen Indonesia.

Sementara itu, India beserta negara berkembang lainnya seperti China, dan Brazil mengalami penurunan indeks kepercayaan konsumen pada kuartal II. Penurunan indeks kepercayaan konsumen juga melanda kawasan zona euro, yang saat ini berjuang dari krisis, begitu pula dengan Amerika Serikat (AS).

Sumber

Oleh Herlina Kartika Dewi, Agus Triyono


JAKARTA. Pemerintah sudah memastikan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tahun ini dan hanya meluncurkan paket kebijakan pembatasan BBM bersubsidi bagi kendaraan dinas milik instansi pemerintah. Keputusan pemerintah tersebut rupanya berdampak positif pada tingkat kepercayaan konsumen.

Alhasil, hasil survei indeks kepercayaan konsumen yang dirilis Danareksa Research Institute maupun Bank Indonesia (BI) menunjukkan, indeks keyakinan konsumen meningkat drastis pada bulan Mei lalu. Ambil contoh, survei dari Danareksa menyebutkan, indeks kepercayaan konsumen bulan Mei naik menjadi 91,3. Indeks ini melejit tinggi ketimbang indeks bulan sebelumnya yang hanya 83,4.

Begitu juga dengan survei yang dirilis BI menyatakan, indeks keyakinan konsumen meningkat dari 102,5 pada April menjadi 109 pada bulan Mei lalu. Ini menandakan, masyarakat semakin optimistis dengan perekonomian Indonesia.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, membaiknya tingkat kepercayaan konsumen ini disebabkan karena kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan harga pangan sudah menurun. "Menurunnya kekhawatiran ini antara lain karena semakin kecilnya peluang kenaikan harga BBM bersubsidi di tahun ini," ujarnya, akhir pekan lalu.

Adapun hasil survei BI menyebutkan, membaiknya indeks keyakinan konsumen itu sebagai dampak dari kepastian penundaan kenaikan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah. Keputusan tersebut membuat konsumen yakin kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan masih tetap membaik.

Indikasi ini juga terlihat dari kenaikan indeks ekspektasi konsumen dalam enam bulan ke depan, dari 107,5 di bulan April menjadi 114,3 di bulan Mei 2012. Begitupun, survei Danareksa juga mencatat, indeks ekspektasi konsumen dalam enam bulan ke depan naik dari 95 menjadi 102,6.

Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistyaningsih sependapat bahwa peningkatan indeks keyakinan konsumen pada Mei lalu memang terjadi akibat menurunnya ekspektasi masyarakat akan kenaikan harga BBM bersubsidi. "Sedangkan sekarang sudah ada penegasan dari pemerintah bahwa tidak ada kenaikan harga BBM dan hanya akan ada penghematan di kalangan pemerintah. Ini membuat kepercayaan masyarakat meningkat," ulasnya.

Pengamat ekonomi Universitas Atmajaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko menambahkan, selama ini faktor domestic memang lebih banyak mendominasi pergerakan indeks keyakinan konsumen. Makanya, begitu pemerintah memastikan tidak ada kenaikan harga BBM bersubsidi, bisa segera meredakan ekspektasi inflasi tinggi di masyarakat. Ujung-ujungnya, masyarakat menjadi lebih percaya dengan kondisi ekonomi kita akan membaik.

Depresiasi rupiah

Namun, indeks kepercayaan konsumen tersebut bisa saja menurun pada bulan-bulan mendatang. Apalagi, kalau nilai tukar rupiah terus lemah lunglai menghadapi dollar Amerika Serikat.

Prasetyantoko mengatakan, melemahnya kurs rupiah bisa saja melemahkan pula daya beli masyarakat. “Sebab, depresiasi rupiah akan membuat barang impor semakin mahal," ujarnya.

Selain itu, gejolak nilai tukar rupiah juga berpotensi mengerek inflasi terutama dari barang impor (imported inflation). Bila inflasi bergerak naik, otomatis mengganggu daya beli masyarakat dan membuat ekspektasi inflasi naik kembali. Apalagi, jika fluktuasi nilai tukar rupiah berlangsung cukup lama.

Tapi, menurut Lana, pelemahan nilai tukar rupiah tidak berpengaruh secara langsung terhadap kepercayaan konsumen. Ia mengatakan, konsumen akan lebih sensitif dengan perkembangan ekonomi domestik. “Konsumen akan lebih peka apabila efeknya langsung berpengaruh ke  sektor riil," imbuh dia.


Ilustrasi - google.co.id

JAKARTA - Hary Tanoesoedibjo meminta para pengusaha dan profesional asal Indonesia yang kini berkiprah di Singapore untuk pulang ke Indonesia guna merebut peluang investasi yang akhir-akhir semakin prospek.

"Posisi Indonesia saat ini adalah negara yang paling prospek untuk investasi dan buka usaha menyusul krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropah. Membaiknya posisi ekonomi Indonesia itu hendaknya mendorong investor dan profesionnal Indonesia untuk berkiprah di Indonesia," kata Hary Tanoesoedibjo saat menjadi pembicara Dialog Tokoh Nasional dihadapan ratusan profesional Indonesia di KBRI Singapura, Selasa (17/7).

Dijelaskannya, kawasan Asia saat ini paling maju perekonomiannya di dunia sebagai dampak krisis ekonomi kawasan Eropa dan Amerika. Sedang untuk kawasan Asia, Indonesia merupakan negara yang paling siap menghadapi krisis karena perekonomiannya tidak  bersandar kepada perekonomian ekspor.

Eropa krisis karena beban hutang sudah mencapai 70 persen dibanding GDP. Sementara kondisi usia masyarakatnya relatif 65 tahun ke atas. Akibatnya biaya utk tunjangan kalangan usia tua sangat tinggi, sementara kontribusi pajak hanya 35 persen. GDP negara-negara Eropa 50 persen didukung anggaran negara. Amerika juga mengalami hal yang sama setelah krisis akibat subprime mortage dan perubahan belum banyak terjadi. Pengangguran juga terus naik.

"Jadi tidak akan ada perbaikan dalam jangka waktu pendek. Sehingga pertumbuhan di Eropa dan Amerika juga akan terus turun," ujar politisi Partai Nasional Demokrat itu.

Negara yang paling terkena imbas terhadap penurunan pertumbuhan Amerika dan Eropa adalah China karena 70 persen perekonomiannya ditopang oleh ekspor dan mayoritas ke dua kawasan tersebut.

Beda halnya dengan Indonesia dengan jumlah penduduk 3 besar di Asia, memiliki jumlah usia produktif mencapai 70 persen atau sekitar 150 juta orang. Usia produktif ini membuat daya beli mereka juga tinggi, sehingga tingkat konsumsi juga tinggi. "Hal ini akan mendorong tingginya produktivitas industri dan PHK dengan sendirinya sangat rendah," ujar dia.

Menurut Hary, basis ekonomi Indonesia 63 persen adalah konsumsi, dimana 65 persennya digerakkan oleh private sektor yang relatif tahan terhadap inflasi sehingga daya beli masyarakat cenderung stabil.

Selain itu, sumber daya alam Indonesia seperti perikanan, pertambangan dan pertanian masih sangat besar tapi pemanfaatannya belum optimal.

"Belum optimalnya sektor perikanan, pertambangan dan pertanian Indonesia sesungguhnya potensi yang sangat luar biasa," tegasnya.

Dialog Tokoh Nasional di Singapora, diselenggarakan oleh Indonesia Profesional Association (IPA) bersama komunitas Rajawali 7 diikuti warga Indonesia di Singapura. (fas/jpnn)



BALI. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau BP Migas akan menerapkan persyaratan bagi penjualan Liquefied natural gas (LNG) untuk kebutuhan industri di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.

Syarat yang akan diajukan BP Migas itu adalah; pembeli LNG (industri) wajib menanam investasinya di Indonesia. Usulan ini disampaikan oleh, Kepala BP Migas, R. Priyono dalam konferensi pers yang digelar di Bali, Kamis (12/7).

Priyono mengungkapkan, LNG saat ini sudah menjadi komoditas penting bagi ekonomi bangsa. Maka itu, BP Migas merancang strategi baru dalam pemanfaatan LNG, terutama untuk pasar ekspor. ”Kami ingin yang beli LNG berinvestasi di sini (Indonesia),” tegas Priyono.

Usulan Priyono itu, sudah disampaikan dalam Forum LNG 2012 yang dihadiri oleh beberapa pembeli LNG dari Jepang, Korea Selatan, Taiwan, India, Singapura, juga dari Indonesia (pembeli domestik).

Melalui acara itu, Priyono berharap, pembeli khususnya dari negara tradisional (Jepang, Korea Selatan dan Taiwan) memahami keinginan BP Migas dan Pemerintah Indonesia untukmenaikkan nilai tambah dari penjualan LNG.

Untuk memuluskan rencana ini, pemerintah bersama tim dari BP Migas sedang melakukan negosiasi lanjutan dengan pembeli LNG yang berada di Jepang. Sejauh ini, industri yang membeli LNG dari Indonesia yang ada Jepang, tidak keberatan dengan usulan BP Migas tersebut.

Berbeda dengan industri yang berada di Korea Selatan, yang sejauh ini belum menyatakan kesediaannya untuk berinvestasi di Indonesia. “Biasa kalau dalam jual beli, kalau ada klausul baru mereka menolak, tetapi kami yakin ke depan mereka mau,” kata Prioyono.

Meurut Priyono, persyaratan yang diajukan oleh BP Migas cukup masuk akal bagi Indonesia dan juga bagi industri yang ada di negara pembeli LNG tersebut. Apalagi, pembeli LNG itu sangat bergantung dengan suplai LNG dari Indonesia “Kami jamin pasti bisa,” tegasnya.



Oleh Narita Indrastiti, Marantina


JAKARTA. Investor asing mulai kembali berinvestasi di Indonesia. Itu terlihat dari posisi dana asing di pasar saham dan obligasi per Juli. Kemajuan penyelesaian krisis utang Eropa membuat kepercayaan asing terhadap pasar negara berkembang mulai membaik. Apalagi kemarin, Bank Sentral Eropa (ECB) menurunkan suku bunga ke 0,75%. Kondisi ini membuat investasi di Indonesia makin menarik. 

Dana asing di pasar saham dalam lima hari tercatat melakukan jual beli bersih (net buy) Rp 1,542 triliun. Padahal selama bulan Juni lalu, asing mencatat penjualan bersih (net sell) Rp 1,97 triliun.

Sedangkan di Surat Berharga Negara (SBN) asing per 4 Juli mencatat net buy Rp 2,35 triliun menjadi Rp 226,77 triliun. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan mencatat per Juni kepemilikan asing turun Rp 80 miliar menjadi Rp 224,42 triliun. Porsi asing per Juni menyusut menjadi 28,36% dari 28,77% di Mei.

Ariawan Analis PT Mega Capital Indonesia menilai penurunan suku bunga ECB akan menjadi sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi. "Return obligasi di Indonesia akan menjadi lebih menarik," ujar dia. Sebab selisih yield obligasi di Indonesia dengan Eropa semakin besar. 

Hasil kesepakatan pemimpin Uni Eropa pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) akhir Juni lalu juga masih menjadi angin segar. 

Masih banjir investasi

Analis MNC Securites Reza Nugraha menambahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif pun menjadi daya tarik investor asing. Pendapatan dan laba bersih emiten selama ini masih membukukan kinerja positif. Reza optimis, aliran modal asing akan terus membanjir pasar saham sampai enam bulan ke depan. 

Namun di pasar obligasi, Ariawan menduga asing tidak banyak menambah portofolio. "Mereka akan profit taking kalau bullish, jadi walaupun meningkat, pergerakan jumlah dananya masih tidak menentu," kata dia.

Ariawan menduga kenaikan dana asing di pasar obligasi jangka pendek Rp 2 triliun - Rp 4 triliun. Sebab pasar obligasi masih rentan sentimen global seperti dari Eropa. 

Faktor lain yang membuat asing akan terus masuk ke pasar saham dan obligasi adalah nilai tukar rupiah. Herdi Ranuwibowo, Head of Debt Capital Market PT Trimegah Securities memperkirakan jika nilai tukar rupiah masih terjaga di bawah level Rp 9.400 per dollar AS. Maka asing masih berpotensi masuk ke pasar Indonesia. Sebab inflasi Indonesia pun terjaga di level bawah. 

Sebab Ariawan menambahkan penguatan rupiah membuat asing bisa mendapatkan capital gain sekaligus currency gain.

Sumber


JAKARTA. Indonesia dinobatkan sebagai lima besar pasar teratas kategori emerging market utama dunia. Laporan yang dirilis Global Intelligence Alliance (GIA) menyebutkan, lima besar emerging market tahun 2012-2017 tersebut adalah; Brasil, India, China, Rusia, dan Indonesia.

Indonesia sebelumnya berada di luar posisi lima besar, tetapi tahun ini masuk dalam daftar yang diperhitungkan sebagai negara emerging market utama dunia. Setelah Indonesia, menyusul Afrika Selatan di posisi keenam, kemudian Vietnam di posisi ketujuh, Meksiko di posisi delapan dan Turki di posisi sembilan.

Peringkat nomor 10 diraih oleh Argentina diikuti oleh Thailand dan Chili di posisi kesebelas dan kedua belas masing-masing. Indonesia naik menjadi peringkat kelima lantaran naiknya pertumbuhan produk kimia, serta manufaktur industri dan jasa keuangan.

Begitu pula dengan Afrika Selatan yang kurang lebih mirip dengan Indonesia. Sementara itu, Vietnam masuk mengalami perbaikan pertumbuhan dari sektor konsumsi yang naik, terutama dari sisi produk ritel. Sementara itu, Singapura harus menyerah berada di posisi ke-15, dibawahnya ada Nigeria.

Dalam laporan Perspektif Bisnis di Emerging Markets 2012-2017 tersebut mengatakan, Indonesia sebagai negara berkembang berhasil menarik investasi. Banyak responden yang disurvei oleh GIA, sekitar 91% menyatakan, investasi di di negara berkembang memiliki peluang besar untuk berkembang lebih cepat.

"Pasar negara berkembang yang menarik membuat perusahaan memilih investasi. Seperti di China dan Brazil yang masuk dalam daftar hit tujuan investasi,” kata Pete Baca, head of Strategic Analysis & Advisory GIA dalam situsnya.

Sumber

Ilustrasi (Antara News/foxconn.com)

Jakarta (ANTARA News) - Perusahaan pembuat perangkat keras dan perangkat lunak komputer maupun komponen elektronik lainnya asal Taiwan, Foxconn, akan mendirikan pabrik di Indonesia.

"Ada perusahaan Taiwan yaitu Foxconn yang mau masuk Indonesia, perusahaan itu membuat komponen perangkat keras maupun perangkat lunak bagi hampir semua merek komputer," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Rabu. Demikian juga (Red), Apple berniat mendirikan pabrik di Indonesia, disini.

Ia mengungkapkan hal tersebut seusai menyaksikan penandatangan nota kesepahaman antara Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dengan grup pengusaha asal Taiwan Chinese National Federation of Industries (CNFI) di kantor Kementerian Perindustrian.

Kesepakatan tersebut menurut Hidayat didapat saat Menteri Perdagangan Gita Wirjawan berkunjung ke Taiwan tiga pekan lalu.

"Mereka akan masuk ke Indonesia dengan membawa teknologi dan membutuhkan pekerja sekitar satu juta orang dengan investasi senilai lebih dari satu miliar dolar AS, namun Kemenperin dan Badan Koordinasi Penanaman Modal sedang membuat aturan terkait," jelas Hidayat.

 Ia menjelaskan bahwa Foxconn meminta lahan untuk pendirian industri di pulau Jawa.

"Tapi saya lebih memilih agar mereka mendirikan pabrik di luar pulau Jawa, kalau demikian sudah pasti akan saya berikan insentif berupa tax holiday, tax allowance dan kemudahan lain," tambah Hidayat.

Ketua umum Apindo Sofjan Wanandi yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa Foxconn sedang membuat kajian (feasibility study) sebagai persiapan untuk masuk ke Indonesia.

"Mungkin waktu kajian adalah satu tahun karena mereka mau masuk dalam ukuran yang sangat besar sehingga butuh satu daerah yang yang benar-benar bisa memenuhi kebutuhan mereka," kata Sofjan.

Pendirian pabrik di Indonesia menurut Sofjan, untuk perluasan industri dan bukan relokasi pabrik FOxconn di China.

"Bukan relokasi tapi mereka memperbesar pabrik sebab sudah tidak bisa lagi menambah di China karena sudah terlalu besar jadi mereka pindah ke Indonesia, mereka juga punya pabrik di Malaysia tapi masih terlalu kecil," katanya.

Sofjan mengharapkan pemerintah dapat menyediakan daerah industri dan kecukupan infrastruktur seperti pelabuhan atau bandar udara yang dibutuhkan oleh Foxconn.

"Peran Apindo adalah memfasilitasi agar mereka menemukan mitra perusahaan Indonesia yang baik dan menyelesaikan keperluan infrastruktur maupun lahan yang mereka butuhkan," katanya.

Lahan yang dipertimbangkan sebagai lokasi pendirian pabrik adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan yang ditemui secara terpisah mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut tertarik mendirikan pabrik di tanah air karena Indonesia juga punya potensi pasar yang besar.

"Belum dibicarakan apakah pabrik diperuntukkan untuk kepentingan ekspor saja atau juga menyuplai untuk kebutuhan domestik, tapi pasar di Indonesia sangat besar karena banyak sekali pengguna produk elektronik," katanya.

Nama lengkap Foxconn adalah Hon Hai Precision Industry Co., Ltd. dan merupakan penyedia komponen elektronik untuk produk merek Apple, Acer, Cisco, Dell, Hewlett-Packard, Intel, Microsoft, Motorola Mobility, Nintendo, Nokia, Samsung Electronics, Sony, Toshiba dan Vizio.

Menurut Forbes, pendapatan perusahaan tersebut hingga Juli 2011 adalah sebesar 95,19 miliar dolar AS dengan keuntungan mencapai 2,45 miliar dolar AS sehingga menduduki posisi ke-60 sebagai perusahaan terbesar di dunia. (D017)


Indonesia pada satu zona waktu

Oleh Edy Can, Herlina KD, Narita Indrastiti


KP3EI mengusulkan penyatuan tiga zona waktu wilayah Indonesia menjadi satu. Pengaturan ini bertujuan menjangkau partisipasi kawasan Indonesia Timur dan Tengah dalam pertumbuhan ekonomi. Sayang, studinya belum tuntas
Waktu adalah uang. Karena sangat paham makna kalimat itu, banyak negara menata kembali pengaturan waktu di wilayahnya. Aturan baku yang selama ini dipelopori Sandford Fleming pada Oktober 1884 silam sudah mulai ditinggalkan lantaran tak sesuai dengan kepentingan ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan nasional.
China salah satu contohnya. Sejak dikuasai Partai Komunis, wilayah China yang terbagi lima zona waktu direduksi menjadi satu pada 1949. Kini waktu yang dipakai di China adalah GMT+ 8. Perubahan ini tentunya untuk kepentingan politik.
Singapura yang terletak di zona GM+7 malah menerapkan waktu GM+8. Sejak 1 Januari 1982, negara kecil yang bersebelahan dengan Malaysia ini mengubah waktu sejam lebih cepat. Perubahan ini supaya Negeri Merlion ini bisa bersaing dengan Malaysia yang terlebih dahulu mempercepat waktunya sejam lebih cepat.
Yang terbaru adalah Samoa. Negara kecil di Lautan Pasifik Selatan melakukan langkah radikal dengan memutar jamnya satu hari lebih cepat dari sebelumnya. Bila sebelumnya, waktu di Samoa 21 jam lebih lambat dari Sidney maka sejak 29 Desember 2011 lalu waktu di negara itu menjadi tiga jam lebih cepat dari Sidney.
Pemerintah Samoa beralasan, pengaturan waktu ini supaya mereka bisa berbisnis dengan Australia dan Selandia Baru dengan durasi yang lebih panjang. Bila menggunakan zona waktu yang lama, Samoa harus rela kekurangan dua hari dalam bertransaksi dengan kedua negara tersebut.
Beberapa negara juga tengah mempertimbangkan pengaturan zona waktu ini lagi. Diantaranya, Brasil dan Rusia.
Zona waktu Indonesia sendiri juga pernah diotak-atik. Bahkan, perubahan waktu itu dilakukan beberapa kali baik oleh penjajah maupun pemerintah sendiri. (lihat infografik 1).
Dua pekan lalu, dalam sebuah seminar di Bogor, Jawa Barat, usulan mengatur ulang pembagian waktu ini muncul kembali. Adalah Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) yang mengusulkannya. KP3EI minta zona waktu yang terbagi tiga zona disatukan menjadi GM+8.
Ketua Divisi Humas dan Promosi KP3EI Edib Muslim mengatakan, pengaturan kembali waktu Indonesia ini untuk menjaga soliditas Negara Kesatuan Bangsa Indonesia (NKRI), membangun daya saing nasional serta internasional bangsa. “Unifikasi wilayah waktu nasional menjadi GMT+8 mampu memberikan daya angkat dana daya dorong bagi daya saing sosial politik, ekonomi dan ekologi nasional,” katanya.
Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Lucky Eko Wuryanto menambahkan, penyamaan waktu ini untuk menjangkau keterlibatan masyarakat Indonesia bagian timur dan tengah dalam pertumbuhan ekonomi. “Semuanya akan bangun dan tidur bersamaan,” kata Eko.
“Semuanya akan bangun dan tidur bersamaan,” kata Eko.
Dari sisi birokrasi nasional, KP3EI menilai penyamaan dari tiga zona menjadi satu akan efektif mendorong peningkatan kinerja birokrasi dari Sabang hingga Merauke. Sebab, waktu koordinasi akan lebih panjang yakni sepanjang masa kerja yakni delapan jam.
Sementara dengan tiga zona waktu, KP3EI menghitung waktu koordinasi secara penuh pada saat bersamaan hanya 180 menit (tiga jam). Kok bisa?
Begini hitungannya. KP3EI mengasumsikan koordinasi birokrasi baru dimulai pukul 08.00 WIB, ketika jam masuk kantor di kawasan Indonesia barat. Di saat yang bersamaan, di kawasan Indonesia tengah sudah memasuki pukul 09.00 dan Indonesia Timur pukul 10.00. Dengan perbedaan waktu itu, KP3EI menyatakan, tempo rapat koordinasi hanya bisa dilakukan selama dua jam saja sebab kawasan Indonesia Timur sudah memasuki jam istirahat makan siang.
Ketika kawasan Indonesia Timur selesai istirahat, rapat koordinasi pun tak langsung bisa dimulai. Sebab, kawasan Indonesia tengah pada saat berbarengan memasuki jam istirahat. Begitu pula selanjutnya.
Alhasil, koordinasi bisa dilakukan setelah jam istirahat kawasan Indonesia Barat selesai yakni pukul 13.00. Rapat koordinasi pun tak bisa berlama-lama sebab sejam kemudian kawasan Indonesia Timur sudah gelap dan saatnya pulang kerja. Jadi rapat koordinasi hanya bisa dilakukan dua jam sebelum makan siang dan sejam setelah jam istirahat.
Transaksi bursa pendek
Begitu juga yang terjadi dengan akses perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan tiga zona waktu, KP3EI menghitung kawasan Indonesia Timur dan Tengah hanya memiliki akses perdagangan yang pendek ketimbang kawasan Indonesia Barat (lihat infografik 2).
Untuk kawasan Indonesia Timur, KP3EI menghitung waktu efektif transaksi bursa saham hanya 2 x 30 menit. Ini lantaran, transaksi bursa baru dimulai pada pukul 11.30 WIT. Setengah jam kemudian, wilayah Indonesia timur harus memasuki jam istirahat kendati sesi perdagangan pertama sebenarnya belum selesai.
Pelaku pasar di kawasan Indonesia Timur baru bisa memulai kembali transaksi pada pukul 15.30 WIT. Sebab, pada sesi perdagangan bursa kedua baru dibuka pada pukul 13.30 WIB atau pukul 15.30 WIT. Transaksi pun hanya hanya berlangsung setengah jam karena kantor keburu tutup pada pukul 16.00 WIT.
Kawasan Indonesia bagian tengah masih beruntung ketimbang pelaku di Indonesia timur. Mereka bisa bertransaksi sebanyak 2 x 90 menit. Yakni 90 menit pada sesi perdagangan pertama dan 90 menit pada sesi perdagangan kedua.
Nah, dengan penerapan zona waktu tunggal ini, KP3EI berharap masyarat Indonesia Tengah dan Indonesia Timur bisa mempunyai durasi transaksi yang lama di bursa. “Bursa masih berpeluang untuk dimanfaatkan menjadi instrument pemersatu ekonomi,” kata Edib.
KP3EI menargetkan usulan ini bisa terealisasi pada 17 Agustus 2012 mendatang. Namun, KP3EI juga mengajak lembaga lain seperti Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia memberikan tanggapan atas dampak penyatuan waktu itu.
Belum tuntas
Usulan penyamaan waktu ini memperoleh tanggapan beragam. Ada yang setuju dan tentu saja ada yang tidak. Ada pula yang bersikap berhati-hati atas usulan ini.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) termasuk golongan yang setuju soal ide KP3EI ini. Ketua Apindo Sofjan Wanandi mengaku sudah pernah mengusulkan ide yang sama kepada pemerintah. Apalagi, katanya, Indonesia berada dalam satu zona waktu dengan Malaysia dan Singapura. “Ini membuat kami lebih efisien dalam bekerja,” katannya pekan lalu.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa juga belum buru-buru menyetujui usulan itu kendati mengakui usulan itu sudah dikaji sejak dia menjadi menteri riset dan teknologi. Ini artinya kajian tersebut sudah berusia 12 tahun. “Ada plus minus, silahkan dikaji,” kata Hatta.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo bersikap hati-hati menanggapi usulan itu. Dia tak sepakat bila wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke ini hanya memiliki satu waktu.
"Sepertinya kita kurang agresif menjaga produktifitas," kata Agus.
Bekas Direktur Utama Bank Mandiri ini beralasan ada beberapa daerah yang waktunya lebih cepat ketimbang Singapura yakni Sumatera Barat dan Sumatera Utara. "Sepertinya kita kurang agresif menjaga produktifitas," kata Agus.
Hal ini dibenarkan Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) T. Djamaluddin. Dia menilai, penyederhaan waktu itu memang memudahkan koordinasi terkait jam kerja dinas dan bisnis.
Cuma, dia juga melihat ada inefisiensi bila Indonesia dijadikan satu zona waktu seperti China. “Ada potensi komunikasi dinas atau bisnis terganggu,” katanya seperti dikutip dari makalahnya berjudul "Kajian Astronomi Perubahan Zona Waktu Indonesia".
Berdasarkan perhitungannya, Djamaluddin mengatakan ada jeda waktu tambahan sekitar setengah jam sesudah istirahat untuk shalat dhuhur di wilayah Jawa Bagian Barat dan Sumatera yang notabenemempunyai sebaran penduduk lebih dari 40% dari total penduduk Indonesia.
Alhasil, Djamaluddin mengusulkan menjadikan Indonesia menjadi dua zona waktu. Dengan usulan ini, dia mengatakan, tambahan jeda waktu saat shalat dzuhur bisa dihilangkan.
Lucky sendiri mengaku belum mengetahui bagaimana perhitungan LAPAN itu. Dia justru berharap ada riset lebih rinci dari berbagai lembaga lainnya ke depannya. Bila demikian, pemerintah tampaknya harus berburu waktu karena time is money.

Sumber

Industri otomotif rebutan bangun pabrik baru

Oleh Asni Bambani, Arief Wicaksono, Melati Amaya Dori, Sofyan Nur Hidayat 



JAKARTA. Industri otomotif dunia rupanya tergiur dengan potensi bisnis otomotif di Indonesia. Tidak hanya produsen otomotif dari Amerika Serikat atau Jepang saja, produsen otomotif dari Eropa juga ikut melirik potensi bisnis kuda besi di Nusantara.
Tengok saja tahun 2012 ini, ada tujuh industri mobil ternama dunia yang membangun pabrik baru atau memperbesar pabrik mereka di Indonesia dengan nilai hingga ratusan juta dolar. Keputusan ini tentu beralasan, salah satunya adalah faktor ekonomi Indonesia yang tumbuh positif.
Jesseda Thongpak, analis dari IHS Otomotif menyatakan, Indonesia saat ini menikmati kenaikan pendapatan dari pertumbuhan industri komoditas sejak 2008. "Pasar mobil Indonesia berada di ambang booming," kata Thongpak seperti yang dikutip Bloomberg.
Thongpak juga bilang, Indonesia menjadi incaran produk otomotif dunia, sebab Indonesia mencatat inflasi yang rendah dan suku bunga relatif stabil. Ia bahkan berani memprediksikan, penjualan mobil di Indonesia bisa melesat hingga 50% dalam lima tahun ke depan.
Riset IHS Otomotif itu juga menjelaskan, penjualan mobil Indonesia akan mencapai 1,2 juta unit pada tahun 2016 mendatang. Menurut Thongpak, Indonesia bakal masuk era mobil karena pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita sudah melampaui US$ 3.000.
Hal ini didukung oleh hasil analisis dari CLSA Asia-Pacific Markets, yang menyebutkan potensi pasar Indonesia yang terbuka lebar. Dari 1.000 warga Indonesia, baru 32 orang yang memiliki mobil.
Berbeda dengan Thailand, 123 warga dari 1.000 warga sudah memiliki mobil sendiri. Begitu juga dengan Malaysia, diantara 1.000 warganya, 300 orang sudah memiliki mobil.
Usia produktif yang tinggi
Selain ekonomi yang tumbuh, ketertarikan industri otomotif ke Indonesia terpengaruh banyaknya usia produktif di Indonesia. Usia penduduk ini tentu penting bagi produsen mobil, sebab warga yang berusia produktif membutuhkan mobilitas yang lebih tinggi.
Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi menyebutkan, jumlah penduduk produktif Indonesia saat ini mencapai 67,7 juta orang dari 230 juta penduduk Indonesia. “Ini jumlah penduduk produktif yang menarik bagi pelaku usaha, karena daya belinya tinggi,” terang Bayu.
Hal senada juga disampaikan pengamat otomotif Indonesia, Martin T Teiseran. Ia bilang, usia penduduk yang besar menjadi alasan utama bagi produsen mobil mengembangkan bisnisnya di Indonesia. “Ini tak mungkin disia-siakan oleh industri otomotif, Indonesia pasar yang besar,” jelas Martin kepada KONTAN.
Selain usia produktif, Martin yang juga penulis buku otomotif ini menilai, bisnis otomotif di Indonesia sangat menguntungkan ketimbang negara lainnya. “Dari sisi harga jual mobil itu saja sudah ketahuan, harga jual mobil di Indonesia lebih mahal dari pada negara lain,” ungkap Martin.
Peluang bisnis mobil yang besar di Indonesia inilah yang menjadi pemicu industri mobil dunia datang ramai-ramai ke Indonesia. Ketertarikan mereka juga mendapat dukungan dari pemerintah, yang memasukkan industri otomotif ke dalam Program Peningkatan Daya Saing 6 Kelompok Industri Prioritas sampai 2014.
Pilih tanam uang di kawasan industri
Kedatangan investor otomotif itu ternyata tak mau mencari lokasi sembarangan. Mereka memilih kawasan industri yang sudah memiliki infrastruktur memadai. Umumnya, investor otomotif melirik kawasan Industri di Karawang dan Bekasi, Jawa Barat. Mayoritas kawasan industri di dua lokasi ini sudah dikuasai industri otomotif.
Konsultan properti Colliers International Indonesia mencatat, kuartal I ini saja, industri otomotif tercatat sebagai industri yang rajin membangun di kawasan industri di Bekasi dan Karawang. “Dari 112,58 ha yang telah dibangun di kuartal I, 68 ha dibangun oleh industri otomotif,” kata Fery Salanto, Associate DirectorColliers International Indonesia di Jakarta.
Banyak alasan bagi industri otomotif memilih menanamkan investasi di kawasan industri. Salah satunya adalah fasilitas pendukung dan akses bahan baku. Apalagi, baru-baru ini PT Krakatau Steel menggandeng Nippon Steel Trading Co Ltd asal Jepang dan PT Adyawinsa Dinamika membangun pabrik bahan baku komponen baja otomotif di kawasan industri Karawang.
Dengan menggelontorkan investasi Rp 100 miliar, perusahaan patungan bernama PT Indo Japan Steel Center ini akan memproduksi 10.000 ton baja per bulan mulai awal 2013.
Presiden Direktur PT Krakatau Steel Tbk, Fazwar Bujang bilang, peluang pasar baja untuk industri otomotif sangat menjanjikan. Jika rata-rata kebutuhan baja satu mobil 700 kilogram (kg), maka kebutuhan baja industri otomotif diperkirakan 560.000 ton per tahun.
Lebih jelasnya, berikut ekspansi industri mobil ternama dunia mengembangkan bisnisnya di Indonesia:
Toyota
Toyota selaku produsen mobil terbesar di Indonesia berusaha mempertahankan posisi sebagai jawara mobil di Indonesia. Agar posisi tetap teratas, Toyota menambah kapasitas produksi di pabrik Karawang II dari 70.000 unit jadi 120.000 unit dengan investasi 41,3 miliar yen.
Selain untuk menyasar pasar domestik, penambahan kapasitas pabrik Karawang II, untuk melayani pasar ekspor mobil ke Asia, Timur Tengah, Afrika, Australia dan Selandia Baru. Rencananya, pabrik baru ini akan beroperasi awal 2014.
Jika pabrik baru itu beroperasi, maka total kapasitas produksi Toyota bisa membengkak menjadi 230.000 unit per tahun. Tak hanya di level produksi, Toyota juga memperkuat layanan purna jual dengan menambah 22 diler baru di bawah naungan Auto 2000 tahun ini.
Saat ini, Auto 2000 sudah memiliki ari 156 diler yang tersebar merata di seluruh di Indonesia. Diler Auto 2000 mayoritas atau sekitar 50% berada di daerah, 18% lainnya ada di Jawa Timur serta Kalimantan, 18% di Jawa Barat, dan 16% di Sumatera.
Selain Auto 2000, Toyota juga mengandalkan penjualan dari Nasmoco Group, Haji Kalla Group dan PT Hasjrat Abadi. Selain menambah diler, Toyota menambah logistic center di Cibitung dengan daya tampung 5.000 unit-6.000 unit, kemudian di Surabaya seluas 8 ha berdaya tampung 3.000 unit, dan di Karawang seluas 15 ha dengan daya tampung 6.000 unit.
Dibidang penjualan, Toyota tahun ini gencar menghadirkan varian baru seperti New Alphard, kemudian sedan All New Camry. Tak hanya itu, akhir semester II ini, Toyota berencana merilis mobil sport bernama Toyota 86.
Daihatsu
Astra Daihatsu Motor (ADM) seakan tak mau ketinggalan dengan Toyota. Akhir tahun ini, Daihatsu menargetkan bisa merealisasikan pabrik baru yang bisa menambah kapasitas produksi hingga 100.000 unit per tahun.
Pabrik yang mulai dibangun sejak 2011 ini, berada di atas tanah seluas 70.000 m2 di Karawang, Jawa Barat. Dengan nilai investasi Rp 2,1 triliun, pabrik ini akan menambah kapasitas produksi ADM dari 330.000 unit per tahun menjadi 430.000 unit per tahun.
Selain menambah pabrik baru, Daihatsu juga memperkuat layanan purnajual dengan menambah diler baru. Melewati PT Astra International Tbk - Daihatsu Sales Operation (AI-DSO), Dahiatsu akan menambah 30 diler baru dengan nilai investasi Rp 1 triliun.
Suparno Djasmin, chief executive officer (CEO) AI-DSO menargetkan, tahun ini bisa memiliki 211 diler dari 181 diler yang sudah beroperasi. “Ini target sampai tahun 2014, untuk menambah jumlah diler baru,” ungkap Suparno.
Mitsubishi
Tak mau ketinggalan, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) selaku Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Mitsubishi juga membangun pabrik baru di Pulo Gadung, Jakarta.
Pabrik senilai Rp 250 miliar ini fokus memproduksi sport utility vehicle (SUV) Outlander Sport. “Pembangunan pabrik akan mendorong penjualan tahun ini,” kata Rizwan Alamsjah, Direktur Pemasaran KTB.
Pabrik baru ini berada di lahan 2,5 ha yang diharapkan beroperasi semester satu tahun ini juga. Dengan kapasitas 12.000 unit per tahun, pabrik baru ini akan mendongkrak kapasitas produksi pabrik Mitsubishi menjadi 150.000 unit per tahun.
Selain bangun pabrik baru, Mitsubishi juga menambah diler dari 157 diler menjadi 200 diler di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Untuk mendukung kinerja diler ini, Mitsubishi akan menambah produk baru tahun ini, yaitu Mitsubishi Mirage di kelas city car.
Dengan kapasitas mesin dibawah 1300 cc, kendaraan kecil ini diklaim hemat bahan bakar yang dipersiapkan bersaing dengan kendaraan city car lainnya termasuk Nissan March.
Isuzu
Tak mau ketinggalan, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) selaku ATPM Isuzu juga ikut membangun pabrik akhir tahun ini. Isuzu memilih lokasi pabrik sama dengan rekan-rekannya, yaitu kawasan industri di Karawang, Jawa Barat dengan investasi Rp 1 triliun.
Yohannes Nangoi, Presiden Direktur IAMI bilang, pabrik baru ini akan menambah kapasitas produksi Isuzu dari 40.000 unit per tahun menjadi 80.000 unit per tahun. Pabrik baru ini akan memperkuat penjualan produk Isuzu di segmen truk, mobil merek panther, pick up, dan elf.
Honda
Sementara itu, PT Honda Prospect Motor (HPM), juga menambah kapasitas pabriknya di Karawang, Jawa Barat. Honda berniat menambah investasi US$ 329 juta setara Rp 3,1 triliun untuk membangun pabrik di atas lahan 512,500 m2 dengan kapasitas produksi 120.000 unit per tahun.
"Pabrik baru ini menyerap 2000 sampai 5000 tenaga kerja baru," kata Kusnadi Budiman Senior Vice President PT. Honda Prospect Motor (HPM). Kehadiran pabrik ini akan mendongkrak kapasitas produksi Honda dari 60.000 unit per tahun menjadi 180.000 per tahun.
Tahap awal, pabrik baru ini akan memproduksi varian baru Honda yaitu Honda Brio pada kuartal I tahun 2014. Mobil segmen city car ini dipersiapkan Honda untuk menghadapi Nissan March yang sudah lebih duluan hadir di Indonesia.
Tak hanya menambah pabrik, Honda juga memperkuat layanan distribusi dan jaringan purna jual dengan menambah 12 diler baru tahun ini. Honda menargetkan, tahun ini bisa memiliki 100 diler dari total 88 diler yang sudah beroperasi.
Nissan
Keputusan menambah kapasitas pabrik juga dilakukan Nissan Motor Company Limited (NML) asal Jepang. Perusahaan ini juga memilih lokasi di kawasan industri di Karawang, Jawa Barat. Nissan akan menambah investasi US$ 400 juta untuk meningkatkan produksi dari 100.000 unit per tahun menjadi 250.000 unit per tahun.
Niat itu disampaikan Carlos Ghosn, Chief Executive Officer (CEO) NML saat berkunjung ke Jakarta pada Maret lalu. “Ini langkah strategis memperkuat basis produksi dan penjualan Nissan di Indonesia,” ungkapnya seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Selain menambah pabrik, Nissan akan membangun 100 diler sampai 150 diler tambahan dari 71 diler yang sudah beroperasi. Untuk memperkuat kinerja diler, tahun ini Nissan meluncurkan tiga jagoan barunya, yaitu Nissan New X-Trail Urban, New Nissan Teana dan New Nissan Navara Sports.
Tak hanya mengembangkan merek Nissan saja, produsen otomotif ini berencana memproduksi merek lawas, yaitu Datsun di Indonesia. Merek bersejarah bagi Nissan ini rencananya akan hadir di segmen mobillow cost and green car (LCGC), sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ingin fokus ke produksi mobil LCGC.
Volkswagen
Seakan tak mau ketinggalan, produsen mobil asal Jerman, Volkswagen tahun inin mengumumkan rencananya membuat pabrik perakitan di Indonesia. Pabrik itu rencananya memproduksi varian Multivan dan Transporter (T5) dengan kapasitas produksi 1.200 unit di 2015 mendatang.
"Kami merakit kendaraan di Indonesia untuk kebutuhan pasar yang tumbuh," kata Jens Ocksen, Kepala Produksi Volkswagen di Jerman, yang dikutip dari situsnya Februari lalu. Sayangnya, Volkswagen belum mengungkap berapa nilai investasinya.
Untuk merakit kendaraannya di Indonesia, Volkswagen akan bekerja sama dengan Garuda Mataram Motor (GMM). Importir yang juga anak perusahaan Indomobil ini sebelumnya sudah bekerja sama dalam memasarkan produk Volkswagen di enam diler Volkswagen di Indonesia.
Ia menambahkan, dengan cara produksi complete knock-down (CKD) di Indonesia, Schomburg berharap bisa menggenjot pangsa pasar yang lebih besar di Indonesia. Sementara, komponen perakitan Volkswagen T5 Transporter langsung diimpor dari pabrik utama di Hanover, Jerman.
General Motor
General Motor (GM) misalnya, produsen mobil terbesar dunia ini juga berniat membuka pabrik perakitan mobil lagi di Indonesia. Perlu diketahui, GM pernah berdiri di Indonesia hingga akhirnya memutuskan hengkang enam tahun silam.
Produsen mobil merek Chevrolet ini membangun pabrik di Bekasi, Jawa Barat, dengan nilai investasi US$ 150 juta. Tahap awal, akan memproduksi 40.000 unit mulai 2013. Pabrik ini akan memproduksi segmensport utility vehicle (SUV) Captiva dan multi purpose vehicle (MPV) Orlando.
Tahun ini, GM memiliki 35 diler dan berencana membangun 5 diler baru lagi. Untuk memperkuat kinerja diler tahun ini, GM menghadirkan tiga jagoan barunya, yaitu Chevrolet Orlando, Chevrolet Colorado, All-New Chevrolet Trailblazer.
Ford
Berbeda dengan rekan senegaranya, Ford Motor masih pikir-pikir membangun pabrik di Indonesia. Perusahaan mobil dari negara Uwak Sam ini memilih menebar produk baru tahun ini.
Ford berniat menghadirkan 8 varian baru, dua diantaranya All New Ford Ranger dan All New Ford Focus. Sebelumnya, Ford telah meluncurkan segmen sedan, Ford Fiesta segmen sedan.
Bagus Susanto, Managing Director PT Ford Motor Indonesia (FMI) optimistis pasar mobil Indonesia tembus 1 juta unit tahun ini. Optimisme Bagus itu, sudah menghitung dampak dari kebijakan Bank Indonesia mengenal syarat Down Payment (DP) sebesar 30% untuk pembelian mobil.
Faktor utama pertumbuhan penjualan mobil menurut Bagus adalah, adanya pertumbuhan PDB Indonesia yang sudah menembus US$ 3.000 per kapita. “China waktu GDP-nya US$ 5.000 per kapita, pertumbuhan penjualan mobilnya sangat tinggi, jadi saya yakin di Indonesia juga akan seperti itu,” katanya.
Hyundai
Berbeda dengan kiprah mobil Jepang di Indonesia. Hyundai, produsen mobil asal Korea Selatan ini masih melakukan kajian mendirikan pabrik di Indonesia.
Namun begitu, Jongkie D Sugiarto Presiden Direktur PT Hyundai Motor Indonesia(HMI) mengaku, sudah merekomendasikan pendirian pabrik sejak dua tahun lalu."Kami beri rekomendasi kepada prinsipal, tapi keputusan ada di mereka (prinsipal)," kata Jongkie.
Walaupun belum final mendirikan pabrik baru, tetapi Hyundai tahun ini akan menambah 11 diler baru dari 19 diler yang sudah ada. Saat ini, diler Hyundai tersebar di Jakarta, Bogor, Bandung, Balikpapan, Medan, Semarang, Yogyakarta, Gresik, dan Denpasar.