Select Menu

ads2

Slider

Featured Post (Slider)

Rumah - Interior

Recent Comments

Kesehatan

Social Icons

google plus facebook linkedin

Artikel Popular

Portfolio

Motivasi Kerja

Travel

Performance

Cute

My Place

Motivasi Kerja

Racing

Videos

Oleh Agie Permadi

Candi Blandongan

Sindonews.com - Setelah sebelumnya menemukan tiga kerangka tengkorak di sekitar situs Candi Blandongan di Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, Tim BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Serang Banten kembali menemukan titik Situs candi terbaru di daerah tersebut.

Dengan adanya penemuan situs baru tersebut, kini titik situs candi di Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya menjadi 40 titik situs candi.

"Kalo dulu hanya 39 sekarang menjadi 40 setelah ada penemuan baru oleh tim dari Serang," kata Muralih, salah seorang pemelihara candi, yang di temui di situs Candi Jiwa, Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, Kamis (26/12/2013).

Penemuan situs baru tersebut di temukan pada tanggal 7 November, 2013. Namun sayangnya, pihaknya belum mengetahui pasti berapa besaran dan luas candi tersebut, bahkan nama titik candi pun belum diketahui. Kendati begitu, komplek situs candi di Kecamatan Batu Jaya yang luas keseluruhannya hampir mencapai 500 hektar atau 50 KM tersebut sedikit demi sedikit mulai terkuak.

Dikatakan, dari 40 situs titik yang ada, baru sekitar dua candi yang sudah dilakukan penggalian dan pembugaran. "Saat ini yang sudah baru dua, candi jiwa dan Blandongan. Bahkan candi Blandongan saja baru beres proses pemugaranan tinggal pembenahan halaman sekitarnya saja," katanya.

Sementara itu, Nasri, Pengelola museum batu jaya mengatakan bahwa wisata sejarah candi Jiwa tersebut di gandrungi wisatawan luar daerah dan wisatawan dari akademisi maupun pelajar. Hal tersebut terlihat dari data wisatawan yang datang ke tempatnya, setiap bulan hampir mencapai ribuan.

"Museum memang buka tiap hari, dan pengunjung juga selalu ada, kalo dilihat dari data statistik pengunjung yang datang ke tempat kami setiap bulannya hampir mencapai ribua, kalo yang ke situs mungkin lebih dari itu," katanya.

Dikatakan, rencananya pihak pengelola akan membuatkan jalan dari situs langsung ke museum, pasalnya banayak wisatawan setelah mengnjungi situs malas intuk ke musium, karena jalannya harus memutar. Untuk mengarahkan wisatawan mengunjungi museum maka pihaknya pun berencana akan membuat jalan dari situs menuju museum.

Saat ini, museum batu jaya telah menyimpan benda-benda peninggalan yang didapatkan dari berbagai situs candi yang tersebar di komplek situs Batu Jaya tersebut. Mulai dari gerabah, batu, manik, hingga arca dan tengkorak.

"Penemuan dari masing-masing candi tidak sama, karena bentuk dan ukuran bangunan candi juga beda-beda, arca kepala manusia di temukan di candi serut, sementara gerabah di blandongan, untuk candi jiwa hanya bata dengan bentuk kaki balita, dan candi lainnya juga ada penemuan lainnya juga. Mungkin itu karena setiap candi memiliki fungsi masing-masing juga," katanya.

Sementara itu, berdasarkan informasi jarak antara satu situs dengan situs lainnya di perkirakan sekitar 50 meter antar candi.

Sumber: Sindonews
Oleh Hanz Jimenez Salim

Kapal Selam Nazi (wikipedia.org)

Liputan6.com, Jakarta : Mengarungi lautan, tak hanya dilakukan nelayan pencari ikan. Para arkeolog bawah air dari Pusat Arkeologi Nasional juga melakukan hal yang sama. Bedanya, mereka bukan untuk mencari ikan, melainkan menguak keberadaan situs sejarah di perairan Indonesia.

Baru-baru ini mereka berhasil menemukan sebuah bangkai kapal selam U-Boot milik tentara Nazi, Jerman, di perairan Laut Jawa, tepatnya di Karimunjawa, Jawa Tengah.

Salah satu dari tim arkeolog bawah air Pusat Arkeologi Nasional itu adalah Shinatria Adityatama. Dia menceritakaan sedikit kisahnya menyelam dan menemukan bangkai kapal itu.

Adit, sapaan akrab pemuda kelahiran Yogyakarta, 9 Desember 1987 ini, mengatakan dirinya baru mengetahui keberadaan bangkai kapal selam tersebut dari seorang nelayan di kawasan Karimunjawa. Tepatnya pada 2 tahun lalu. Ketika itu, dia bersama salah satu rekannya sedang melakukan hobi menyelamnya di daerah Karimunjawa.

"Saya lagi nyelam waktu itu, 2 tahun lalu. Saya tahu dari nelayan. Nelayan itu bilang kalau mau melihat ada kapal berbentuk tabung ada di tengah laut," kata Adit ketika ditemui di kediamannya di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2013).

Mendapat informasi itu, Adit tak langsung menyelam. Dia bersama temannya itu kemudian melakukan riset dan mencari tahu jenis kapal yang tenggelam tersebut. Tak hanya itu, Adit juga melapor ke Pusat Arkeologi Nasional.

Penasaran dengan infromasi keberadaan kapal selam yang karam itu, Adit yang pada saat itu masih menjadi mahasiswa Universitas Gajah Mada berniat bergabung dengan Tim Pusat Arkeologi Nasional. Usai lulus dari Fakultas Arkeologi pada 2012, rasa penasaran terhadap bangkai kapal selam itu agak sedikit terbuka.

Dia akhirnya berkeja sebagai peneliti di Pusat Arkeologi Nasional pada saat itu dan terus melakukan riset tentang keberadaan bangkal kapal selam tersebut. Setelah melakukan riset panjang, kemudian dibentuklah tim yang terdiri dari 16 orang untuk melakukan pencarian bangkai kapal tersebut.

Tim gabungan yang terdiri dari peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta, penyelam dari Sentral Selam Yogyakarta, serta beberapa penduduk lokal yang telah mengunjungi situs sebelumnya akhirnya bergerak mencari keberadaan kapal selam itu.

Tim tersebut berangkat tidak menggunakan kapal speed boat atau kapal mewah. Dengan menumpang kapal yang biasa mengangkut sembako yang disewa, mereka mulai bergerak. Tanggal 8 November 2013 malam, tim kemudian bergerak menuju lokasi situs. Adit menuturkan, lokasi situs itu berjarak sekitar 10 jam dari pulau Karimunjawa.

"Kami baru sampai ke lokasi pada 9 November dinihari. Tapi kami belum menyelam. Kami masih harus melakukan pencarian berjam-jam sebelum berhasil menemukan titik keberadaan bangkai kapal," tutur Adit.

Menurut Adit, tim baru terjun ke laut tempat kapal itu sekitar pukul 05.00 WIB. Tak mudah memang, 6 jam kemudian Adit dan timnya baru menemukan kapal itu sekitar pukul 13.00 WIB. "Kami mulai terjun ke situs sekitar jam 5 pagi dan baru berhasil ketemu kapal jam 1 siang," ucapnya.


Saat ditemukan tim penyelam, kondisi kapal hanya tinggal separuh. Bagian buritan kapal atau bagian belakang kapal sudah tidak ada. Namun kondisinya masih cukup baik untuk menunjukan bentuk kapal selam.

Proses pencarian dan pengangkutan sampal artefak dari bangkai kapal memakan waktu sekitar 3 hari. Selama rentang waktu tersebut, tim peneliti berada di tengah laut dan melakukan segala aktifitas mereka di atas kapal. "Tiga hari kami di atas kapal saja, segala aktivitas kami," ujarnya.

Dengan berbagai perlengkapan dan perbekalan yang sudah disiapkan, tim menghabiskan waktu selama 3 hari menetap di situs yang berada di tengah laut.

Dalam satu hari, ada 3 tim penyelam yang masuk ke dalam situs. Setiap tim yang terdiri dari 2-3 penyelam secara bergantian melakukan penyelaman sebanyak 2-3 kali dalam sehari. "Kami baru selesai tanggal 11 November karena cuacanya memang sudah tidak memungkinkan," jelas Adit.

Sebelum berangkat, tim memang sudah diingatkan bahwa dalam beberapa hari cuaca di laut akan memburuk dan berbahaya untuk melakukan pelayaran. Oleh karenanya tim berburu dengan waktu sebelum cucaca semakin memburuk.

Akhirnya setelah berjibaku di tengah laut selama 3 hari, tim kemudian kembali dan berhasil membawa beberapa sampel artefak untuk diteliti. Artefak tersebut di antaranya, 2 buah piring dengan lambang Nazi dan merk pabrik yang biasa memproduksi barang untuk keperluan angkatan bersenjata Jerman.

Menurut Adit, piring tersebut diperkirakan adalah piring produksi tahun 1939. "Kami hanya membawa beberapa sampel saja. Yang kami bawa itu, untuk kami teliti kembali," tambahnya.

Selain itu ditemukan pula kancing yang terdapat logo angkatan laut di atasnya, teropong binocular, kacamata selam, pipa untuk nafas, batre/aki, sol sepatu, penutup panel listrik, dan saklar instalasi listrik.

Meski berhasil menemukan berbagai jenis barang bersejarah itu, Adit mengaku masih belum dapat menemukan bukti kongkret dari jenis kapal selam yang karam itu. Tak hanya itu, Adit dan timnya juga belum dapat menemukan berapa awak di dalam kapal tersebut.

"Yang tidak kami temukan adanya buku-buku prajurit yang ikut dalam kru kapal. Dari catatan sejarahnya, setiap anggota Nazi yang ikut berlayar dengan kapal selam ini mempunyai buku tanda pengenal. Tapi itu sudah tidak ada, dan kami duga sudah hancur," jelasnya.

Sebagai seorang arkeolog, Adit menganggap pengangkatan bangkai kapal selam yang karam sekitar tahun 1944 itu tak perlu dilakukan. Menurut Adit, peninggalan sejarah yang berada di dalam laut sejatinya memang harus dibiarkan.

"Itu sebagai bukti kalau di negara kita ini, dahulunya juga menjadi saksi perjalanan sejarah dunia seperti kapal selam ini yang ada pada zaman perang dunia kedua," tutup Adit. (Eks)

Sumber: Liputan6
surya/david yohanes 
Heri saat mengukur patirtan Semarum

TRIBUNNEWS.COM,TRENGGALEK - Penemuan bangunan terpendam dengan bata ukuran besar di Desa Semarum, Kecamatan Durenan, Trenggalek pada 2011 mulai diteliti oleh Balai Arkeologi Yogyakarta yang membawahi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hasilnya dipastikan bangunan tersebut berupa patirtan pada masa kuno.

Bangunan kuno terpendam tersebut berada di belakang rumah warga, Kaseni, Khosim dan Taji. Menurut Ketua Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Heri Praswanto, timnya sudah mulai menggali sejak Minggu (30/12/2012) lalu, dibantu Balai Pelestarisn Peningalan Purbakala (BP3) Trowulan dan Dinas Kebudayaan setempat. Penggalian tersebut dilakukan, sebab temuan bangunan terspendam tersebut diyakini sebagai salah satu kunci untuk mengungkap salah satu alur peradaban di Kabupaten Trenggalek. “Kami meyakini, bangunan tersebut sebagai salah satu peninggalan purbakala yang strategis untuk mengungkap peradaban di Trenggalek,” terangnya, Kamis (3/2/2013).

Dari proses penggalian selama empat hari, tim sudah bisa menyimpulkan jika bangunan terpendam tersebut bekas sebuah patirtan. Patirtan ini bisa sebagai lokasi pemandian kaum bangsawan, atau sebuah bangunan untuk tata kelola air. Namun dengan temuan lain adanya terra kota, atau gerabah pemberat jaring diyakini bangunan tersebut lebih mirim sebuah dam kuno, dengan kedalaman mencapai 110 meter.

Dimana bagian atas terdiri dari tiga lapis batu bata, bagian tubuh terdiri dari enam lapir batu bata dan bagian pondasi terdiri dari tiga lapis batu bata. “Kami belum bisa menyimpulkan, tapi keyakinan kami itu sebuah dam kuno untuk pola pengaturan air. Sebab kalau sebuah pemandian bangsawan agaknya teralu dalam,” tambahnya.

Hal lain yang menguatkan keberadaan sebuah patirtan, adanya endapan pasir halus di bagian dalam bangunan yang menandakan ada proses perendaman air. Sementara permukaan batu bata di bagian dalam juga nampak lebih rapuh di banding bagian luar, pertanda pernah terendam air dalam waktu lama.

Dari penelusuran tim, keberadaan patirtan Semarum tersebut merupakan satu rangkaian dari rantai peradaban. Di atas gunung di sisi utara desa ini terdapat sebuah kali yang disebut Ngasinan. Kali inilah yang menjadi sumber mata air utama. Dari Kali Ngasinan, ke bawah sedikit ada sebuah candi yang disebut Candi Brongkah, kemudian patirtan dan pemukiman warga, yaitu Desa Kamulan. Jika diruntut dari bawah, warga Kamulan akan pergi ke patirtan, menyucikan diri, sebelum melakukan persembahyangan di Candi Brongkah.

“Jadi keberadaan patirtan ini menjadi rangkaian sebuah proses kehidupan. Dimana keberadaannya selain untuk sumber kehidupan, juga untuk penyucian diri sebelum beribadah di Candi Brongkah,” katanya.

Lalu apa arti penting penemuan di Semarum? Heri menjelaskan, paska kemunduran Mataram Hindu di Jawa Tengah, kerajaan mulai bergeser ke Jawa Timur oleh Empu Sindok. Sebelum munculnya kerajaan Kadiri, ada proses peralihan peradaban dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Salah satunya adalah adalah di Trenggalek. Dengan kata lain, Trenggalek, khususnya Semarum diyakini sebagai salah satu cikal bakal lahirnya kerajaan di Jawa Timur.

“Trenggalek mempunyai sejarah panjang dari masa pra sejarah sampai masa kolonial. Mengungkap rahasia di Semarum akan membuka proses peradaban lain,” tuturnya. Heri menyebut, penelitian yang dilakukan timnya masih penyelidikan tahap awal yang akan diteruskan lagi di tahun ini. Hasil penelitian akan disimpulkan secara komprehensif dan akan diwujudkan dalam sebuah rekomendasi ke BP3 Trowulan.

Sumber
Oleh Yunanto Wiji Utomo

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA 
Jejak Peradaban Hindu Abad IX - Susunan batu bata merah besar yang merupakan bagian dari bangunan candi hasil ekskavasi Balai Arkeologi Yogyakarta di Dukuh Buloh, Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Jumat (20/7/2012). Bangunan candi yang diperkirakan abad IX dan X tersebut merupakan rangkaian sejarah peradaban Hindu di pesisir utara Jawa Tengah.

KOMPAS.com — Beragam peninggalan arkeologis dari masa manusia purba dan kerajaan Nusantara ditemukan tahun 2012. Di antara ragam penemuan, Kompas.com menampilkan 5 di antaranya yang baru dan menonjol.

Seluruh temuan bisa menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki sejarah peradaban yang luar biasa, tak kalah dengan peninggalan Suku Maya yang sempat membuat geger. Apa saja peninggalan arkeologis Indonesia tahun ini? Berikut uraiannya.

Situs bersejarah di parkiran McDonalds

Situs bernama Ketawanggede ini sebenarnya sudah ditemukan dua tahun sebelumnya, tetapi belum didaftarkan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan. Lokasi situs ini di Jalan Mayjen DI Panjaitan, Lowokwaru, Malang, Jawa Timur.

Situs bersejarah tersebut menjadi petunjuk adanya candi besar dengan arsitektur Hindu-Buddha masa Kerajaan Singosari dan Majapahit di wilayah Sungai Brantas. Candi tersebut menjadi tempat pemujaan Dewa Siwa.

Candi langka di Pati

Reruntuhan bangunan candi ditemukan di wilayah Pati. Candi ini tergolong langka karena diperkirakan merupakan candi yang berasal dari abad ke-8 hingga ke-10 tetapi sudah menggunakan material bata merah. Candi ini juga diduga lebih tua dari Prambanan dan Borobudur.

Penemuan candi ini juga merevisi dikotomi antara candi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selama ini, ada anggapan bahwa candi di Jawa Timur berbahan bata merah dan Jawa Tengah berbahan batu. Nyatanya, candi yang ditemukan di Pati ini berbahan bata merah.

Kapal kuno situs Kota China Marelan

Tribun Medan/M Azhari Tanjung 
Pecahan Kapal Kuno

Ekskavasi oleh 30 peneliti sejak 30 April 2011 membuahkan penemuan pecahan kapal kuno di situs Kota China Marelan, Sumatera Utara. Diduga, pecahan itu adalah bagian dari kapal yang berasal dari abad ke-12. Umur artefak masih perlu dikonfirmasi.

Selain pecahan kapal, arkeolog juga menemukan keramik, manik-manik kaca, serpihan emas, dan tahi besi. Menurut para arkeolog, situs Kota China Marelan pernah menjadi pusat perniagaan pada abad ke-11.

Kapak purba di Pati

KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI 
Warga dan pengelola Situs Patiayam menunjukkan temuan kapak perimbas manusia prasejarah dan sejumlah fosil hewan purba di Rumah Fosil Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Minggu (11/11/2012). Temuan itu semakin mengukuhkan keberadaan manusia prasejarah yang pernah tinggal di wilayah cekungan tak jauh dari Pegunungan Muria itu.

Artefak kembali ditemukan di situs Patiayam. Sepanjang tahun 2012, ditemukan beberapa artefak di situs ini, di antaranya alat tulang yang diduga digunakan manusia jenis Homo erectus untuk mencari umbi-umbian.

Arkeolog juga menemukan kapak purba. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang mendiami situs Patiayam saat itu memiliki peradaban tinggi. Kapak genggam telah beberapa kali ditemukan di situs ini.

Banteng purba

Patiayam tidak hanya menyimpan artefak alat-alat yang digunakan manusia di masa lalu. Fosil banteng purba juga ditemukan di situs ini pada tahun 2012. Fosil itu diduga berasal dari masa 750.000 tahun lalu. Temuan ini menjadi petunjuk bahwa manusia dan hewan sudah hidup berdampingan di masa lalu.

Sumber
Ilustrasi - antarafoto.com

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Hasil eskavasi di Situs Liyangan, yang dilakukan Balai Arkeologi dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, serta Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah kembali membuahkan hasil. Kali ini ditemukan beberapa struktur bangunan di berbagai titik.

Ketua Tim Eskavasi, Sugeng Riyanto mengatakan, penemuan itu antara lain, sebuah jalan kuno, dengan struktur batuan tertata rapi. Lebarnya kurang lebih empat meter, namun panjangnya belum diketahui. Jalan ini berada di kompleks peribadatan atau candi utama. Selain itu, ada batur, selasar, dan tembok beteng.

"Dari ekskavasi, sejauh ini di bawah dekat candi, ditemukan jalan dari batu. Kemudian di atasnya ada talud dari batuan bolder (batu kali). Di dekat batu bolder kami temukan lagi pagar dari batu putih, tingginya lebih dari dua meter, lebar kurang lebih 40 cm," ujarnya, Rabu (12/12).

Menurutnya, ekskavasi kali ini juga bertujuan untuk melanjutkan penggalian struktur talud dari bolder, dan struktur tangga yang sebelumnya ditemukan oleh penambang pasir. Kemudian membuka lagi struktur batur I di depan tangga, batur II di samping candi, serta satu batur di dekat sungai.

Situs Liyangan sendiri telah terbagi menjadi tiga bagian yakni sektor I (candi utama/tempat peribadatan), sektor II (tempat permukiman), sektor III (kawasan pertanian kuno).

Melihat pembagian sektor, menggambarkan bahwa kompleks Situs Liyangan dahulunya merupakan sebuah tempat hunian manusia yang perdabannya telah maju. Dibuktikan, di lokasi tersebut ada tempat peribadatan, permukiman, dan kawasan pertanian.

Sebelumnya, juga telah ditemukan pecahan keramik, tembikar, pecahan kaca, mata tombak satu sisi, serta onggokan padi yang telah terbakar. Lokasi penemuan berada 100 meter dari candi utama, tepatnya di lokasi permukiman warga. (Raditia Yoni Ariya/CN26/JBSM )

Sumber
Salah satu peninggalan jaman Megalitikum (sumber: Ist)

Penemuan-penemuan benda bersejarah itu menjadi bukti tingginya peradaban di daerah itu.

Balai Arkeologi Palembang menemukan bukti baru zaman megalitikum di Goa Napal Licin, Kabupaten Musirawas. Bukti tersebut berupa gundukan batu dan peralatan zaman batu.

"Penelitian sebelumnya berhasil membuktikan adanya candi berupa gundukan batu bata," kata Kepala Balai Arkeologi (Balar) Palembang Nurhadi Rangkuti ketika dihubungi, di Palembang, Sabtu (28/12).

Menurut dia, sepanjang tahun 2012 pihaknya melakukan sejumlah penelitian khusus di Sumatera Selatan yang terbagi di beberapa lokasi.

Di Kabupaten Musirawas, penelitian difokuskan di kawasan Goa Napal Licin Kecamatan Ulu Rawas. Hasil penelitian menemukan, sejumlah candi dan bukti-bukti kehidupan manusia pra sejarah lainnya seperti peralatan batu.

"Indikasi benda megalitikum lainnya juga ditemukan berupa batu silendris yang bentuknya mirip dengan temuan di Jambi," kata Nurhadi.

Nurhadi menambahkan, pihaknya juga melanjutkan penelitian-penelitian pada sejumlah daerah, seperti di daerah Kabupaten Lahat, Pagar Alam dan Ogan Komering Ulu Selatan.

Penemuan-penemuan benda bersejarah, seperti lumpang batu, candi dan benda-benda megalitikum menjadi bukti tingginya peradaban di daerah itu.

Penulis: Antara/ Whisnu Bagus

Sumber

Warga Dusun Curup, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan menemukan tiga arca kepala manusia yang diduga merupakan peninggalan zaman prasejarah. Tiga arca kepala manusia itu diyakini berumur di atas 4.000 tahun.

Tiga arca itu ditemukan di pingir Sungai Cawang dengan kondisi kepala terpisah dari tubuh. Sementara, badannya sudah roboh tenggelam di pinggir sungai, satu lagi hanya terlihat bagian kepala dengan mata melotot, sementara bagian lain tertimbun tanah.

Posisi ditemukannya arca tersebut berada tepat di dua jalur sungai di antara bebatuan yang sudah tersusun rapi bertingkat-tingkat membentuk bangunan candi dan pintu gerbang sebuah kerajaan.

"Kami menemukan tiga arca peninggalan prasejarah muara Sungai Selangis besar dan kecil dengan posisi menempel di dinding bebatuan yang sudah tersusun rapi seperti anak tangga berukuran cukup lebar," kata Burlian warga setempat, Selasa (1/1) seperti dilansir Antara.

Penemuan arca tersebut berawal ketika dia hendak mencuci tangan setelah bekerja di kebun kopi di sekitar alur Sungai Selangis. Saat itu tidak sengaja terlihat bongkahan batu menyerupai kepala manusia masih menempel dengan kondisi retak hampir roboh.

"Ketiga arca ini semuanya masih dalam posisi menempel di dinding batu dan ada juga yang sebagian masih tertanam di dalam tanah dasar sungai," katanya.

Ia mengatakan, bentuk arca ini belum sempurna karena baru berupa goresan lingkaran mata bulat besar, masih belum menunjukkan bentuk tubuh manusia utuh.

Diperkirakan ukuran setiap arca bisa mencapai diameter 60-70 centimeter dengan tinggi sekitar 3 meter dan ukurannya sebesar hewan kerbau.

Dia menambahkan, kalau dilihat dari bentuk dan susunan batu yang bertingkat-tingkat menjadi bukti jika di aliran sungai ini banyak tersimpan megalit. "Namun masih perlu dilakukan penggalian dan pembersihan lokasi bebatuan di sekitar penemuan arca, selain hutan belukar dan sudah tertimbun tanah cukup dalam," ujar dia.

Dia juga mengatakan, ada arca yang tenggelam di Sungai Selangis. Namun, arca itu dapat dilihat saat kondisi air sedang jernih.

"Memang di sekitar Dusun Cawang dan Curup sudah banyak penemuan beberapa peninggalan sejarah seperti megalit dan arca prasejarah yang sudah berumur ribuan tahun, dan termasuk masa Kerajaan Sriwijaya," katanya.

Sementara itu Arkeologi dari Balar Palembang, Kristantina Indiastuti memperkirakan arca tersebut berumur lebih dari 3.000 tahun.

"Kalau melihat dari bentuknya diperkirakan arca yang baru ditemukan warga Dusun Curup, Kelurahan Muarasiba, Kecamatan Pagaralam Utara itu merupakan peninggalan pra sejarah berumur lebih dari 3.000 hingga 4.000 tahun," kata dia.

"Namun untuk memastikan berapa umur dan peninggalan zaman apa temuan arca tersebut, masih perlu dibuktikan secara ilmiah dengan penelitian, memang penemuan benda bersejarah di Pagaralam cukup luar biasa," ungkapnya. [dan]

Sumber

Ras Melayu secara genetika memiliki ciri adanya hemoglobin Malay yang tak dimiliki ras lain.

(thinkstockphoto)

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Sangkot Marzuki menjelaskan, dari pemetaan genetika yang dilakukan 99 ahli genetika di Asia, terungkap orang Melayu lebih tua dibandingkan dengan orang China. Khususnya Yunan yang selama ini dianggap sebagai nenek moyang umumnya orang Indonesia.

Ras Austronesia, termasuk orang Melayu, lebih dulu ada dibandingkan dengan ras Chinotis-Belan, yaitu ras yang berbahasa China/Mandarin. Sangkot mengungkapkan hal itu dalam orasi ilmiahnya pada Dialog Budaya Melayu di Pekanbaru, Riau, Selasa (4/12).

Dialog diprakarsai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama dengan Lembaga Adat Melayu di Riau dan Pemerintah Provinsi Riau. Tampil pula memberikan orasi ilmiah budayawan Melayu, Tengku Nasaruddin Said (Tenas) Effendy. Dialog yang berlangsung tiga hari sejak Senin ini juga diisi berbagai diskusi mengenai perkembangan budaya Melayu di Indonesia, Malaysia, Brunai, Thailand, Singapura, dan Brunei.

Tenas Effendy mengingatkan, sekarang kehidupan budaya Melayu semakin berat karena menghadapi intervensi budaya luar yang belum tentu serasai dan sejalan dengan nilai asas budaya Melayu. Kehidupan masa kini dan masa depan yang semakin terdedah, semakin membuka peluang terjadinya pergeseran, perubahan, dan pengikisan nilai budaya Melayu.

Sangkot, yang menjadi bagan dari ahli getika di Asia Timur menyebutkan, Melayu merupakan ras perpaduan. Ras Melayu secara genetika memiliki ciri adanya hemoglobin Malay yang tak dimiliki ras lain.

(Zika Zakiya. Sumber: Kompas)

Sumber